Parenting: Sunat Anak saat Pandemi

Melaksanakan sunat pada anak adalah sebuah kewajiban yang perlu dipenuhi oleh orangtua yang memiliki anak laki-laki. Alhamdulillah, kewajiban ini sudah saya dan suami penuhi kemarin. Sebelumnya di tahun 2019, kami sudah niatkan Abang Une akan disunat pada tahun 2020, namun pandemi datang dan niat ini jadi tertunda. Kami rencanakan ulang di bulan Juni-Juli 2021 kemarin, namun ternyata berlangsung PPKM dan jumlah kasus positif COVID19 sedang meningkat. Semuanya tertunda hingga kemarin anak laki-laki kami telah melewati proses sunat. Nah sekarang, saya ingin berbagi pengalaman tentang hal ini: sunat anak saat pandemi.


Rencana Awal Sunat

Tahun 2019, saya dan suami sudah klop ingin melaksanakan proses sunat Abang Une di tahun 2020. Pada saat itu, kami berniat untuk sunat di rumah sakit saja, karena pernah ada pengalaman keluarga yang kurang menyenangkan saat sunat di klinik. 2020 datang dan semuanya berubah. Sunat di rumah sakit ternyata membutuhkan prosedur dan rangkaian pemeriksaan yang ketat (mengingat sedang adanya wabah) dan pastinya akan membuat kami perlu bolak-balik rumah sakit (yang mana hal ini riskan untuk anak-anak mengingat situasi pandemi). Oke, rencana sunat di rumah sakit pun kandas. Pada saat itu, kami bahkan tidak terpikir untuk menyunati Abang Une dalam waktu dekat. Hingga akhirnya, banyak teman Abang Une yang mulai disunat di akhir tahun 2020 dan awal tahun 2021.

Di saat itulah, saya mulai cari tahu mengenai tempat sunat lain selain di rumah sakit. Ternyata ada banyak dengan metode yang berbeda-beda, ada yang menggunakan metode klamp, metode bipolar, hingga metode konvensional. Saya coba bertanya pengalaman teman-teman dan membandingkan pengalaman tersebut untuk mencari yang sesuai dengan keinginan saya dan suami.

Awalnya, saya tertarik dengan metode klamp karena prosesnya cepat dan meminimalisir pendarahan. Namun akhirnya saya tahu kalau dengan metode klamp, alat klamp-nya ini akan terpasang di penis anak selama beberapa hari sebelum akhirnya dilepas. Hal ini yang akhirnya menjadi pertimbangan saya untuk mencari tahu metode berikutnya, yaitu bipolar. Metode bipolar ini sebenarnya mirip dengan metode konvensional, hanya saja menggunakan alat yang lebih canggih sehingga penyembuhan lebih cepat dan minim pendarahan juga. Saya langsung membahas hal ini bersama suami, dan diapun setuju. Metode bipolarlah yang akhirnya kami pilih. Kami pikir akan lebih ringkas dan nyaman jika proses hanya sekali dan langsung selesai.

Alhamdulillah, Abang Une sebenarnya sudah siap kapanpun itu. Karena dia sudah paham kalau sunat ini adalah kewajiban yang perlu dia jalani. Cepat atau lambat pasti akan dia jalani. Saya selalu bilang ke dia, “Sunat ini adalah perintah Allah SWT, Bang. Dan Ibu yakin, karena ini adalah perintah Allah makanya pasti Allah mudahkan prosesnya.” Saya mau dia tahu, kalau di atas rasa khawatirnya akan sunat ini masih ada Allah SWT yang akan membantu dirinya melewati ini semua πŸ™‚

Akhirnya, muncul rencana kedua. Kami akan melaksanakan proses ini di liburan sekolah Juni-Juli 2021 ini. Tapi ternyata, berlangsung PPKM dan jumlah kasus positif COVID19 juga sedang meningkat. Niat tersebut pun kami urungkan kembali.

Di bulan Agustus kemarin, saya sudah sempat bicara dengan Abang Une, “Kalau ternyata disunatnya saat hari sekolah (bukan libur panjang), gimana?” “Ya nggak apa-apa juga,” jawabnya. Concern saya waktu itu ingin mencari hari di mana tidak lagi banyak tugas atau ujian, alhamdulillah ternyata ada beberapa hari ‘santai’ setelah ujian tengah semester. Saya langsung bilang kepada Abang Une, “Kalau tanggal 22 September, gimana? Habis kamu PTS.” Dia langsung menyanggupi, saya langsung daftar ke tempat sunat, dan alhamdulillah ada slot.


Hari H Sunat

Bahkan sebelum hari H, ibu ini sudah galau luar biasa. Jujur, pikiran saya kemana-mana. Gelisah. Ya gimana, ini pengalaman yang tidak pernah saya rasakan tapi harus saya hadapi. Saya nggak pernah tahu rasa sakitnya, saya nggak pernah terbayang gimana prosedurnya, saya nggak pernah punya pengalaman cara merawat paska sunat. Hahahaha… mungkin semua ibu yang anaknya mau disunat mengalami hal ini juga ya? πŸ˜€

Sebelum berangkat ke tempat sunat, penis Abang Une dipakaikan obat Emla. Ini sejenis krim yang bisa membuat kebas. Saya direkomendasikan obat ini oleh ibu teman Abang Une yang kebetulan seorang dokter. Kemarin, sebelum membeli obat inipun, saya sempat kroscek ke dokter yang akan menyunat Abang Une dan beliaupun mengizinkannya.

Abang Une sunat di Safubot, kami pilih yang cabang Rawamangun. Kenapa di Safubot? Karena sudah banyak teman Abang Une yang disunat di sini. Benar-benar deh kekuatan pengalaman itu luar biasa banget ya. Banyak yang merekomendasikan tempat ini karena mereka puas dengan pelayanannya. Dari segi tempat, Safubot ini terang dan bersih. Dekorasinya ala anak laki-laki sehingga bikin mereka nggak ciut mau disunat. Seluruh tenaga medisnya menggunakan masker dan APD, prokes ketat, dan ruangan langsung didisinfektan begitu selesai tindakan.

Di Safubot ini ada pelayanan Reguler dan VIP, kemarin kami memilih yang VIP. Perbedaan layanan Reguler dan VIP ada di merchandise dan obat tambahan. Kami pikir untuk jaga-jaga daripada nanti butuh obat tambahan lebih baik ambil kelas VIP saja. Untuk harga pelayanannya dan jenis pelayanan lainnya, bisa cek di website-nya Safubot ya, karena ada promo juga di sana πŸ™‚

Proses sunat dimulai jam 09:50. Abang Une hanya menangis di awal saja saat suntikan bius lokal, selebihnya aman. Dia ngobrol dengan dokternya hingga proses sunat selesai. Namanya dokter Anwar. Dokternya ramah dan senang foto-foto, hehehe. Saya berdiri di sebelah Abang Une, jadi kami ngobrol bertiga. Sudah bisa dipastikan saya nggak berani ngintip ke area penis Abang Une, nggak shanggyuuup πŸ˜€

Sebelum keluar, saya dan suami diajarkan cara perawatan paska sunat. Ternyata nggak sengeri dan sesulit yang saya bayangkan. Sebelum bangun dari tempat tidur, Abang Une diberikan painkiller melalui anus. Alhamdulillah keseluruhan prosesnya lancar, kurang-lebih 20-30 menit kami sudah keluar dari ruang tindakan. Abang Une dipakaikan celana batok. Dia bisa berdiri dan berjalan as if nggak habis sunatan. Ya Allah, beda banget pengalamannya sama adikku dulu yang kayaknya rempooong banget habis disunat hahaha..


Pengalaman Paska Sunat

Alhamdulillah, Abang Une termasuk anak yang kooperatif. Jujur aja, kalau banyak ngeluh / ngaduh pasti yang panik ibunya ‘kan… Hahaha.. Kalaupun kesakitan, paling hanya meringis lalu biasa lagi. Semalam juga bisa tidur nyenyak sampai pagi, alhamdulillah. Jadi dalam dua hari ini his activities are: minum obat, dipakaikan obat di area penis, tiduran all day long. Kalau kata dokter, biasanya lama penyembuhannya antara 3-5 hari, tergantung kondisi tiap anak. Bismillah ya, semoga Allah memudahkan proses penyembuhannya. Aamiin.


Tips Sunat Anak saat Pandemi

Oke, dari pengalaman kemarin, saya bisa menyimpulkan beberapa tips sunat anak saat pandemi. Kita mulai ya!

  1. Cari tahu metode sunat terlebih dahulu (karena ada banyak metode dan pastinya concern masing-masing orangtua berbeda). Tidak perlu terburu-buru yang penting yakin dulu dengan metodenya.
  2. Cari tahu prokes dan kebersihan tempat sunat yang dipilih
  3. Siapkan mental anak dan orangtua. Situasi pandemi seperti ini pastinya sedikit-banyak menambah beban mental kita ‘kan, that’s why jangan sampai proses sunat ini semakin menambah beban yang ada. Yakinlah ini jadi salah satu cara kita beribadah dan ikhtiar dalam kesehatan. Hal ini juga bisa disampaikan ke anak (contoh: “Setelah sunat, Mas akan jadi lebih sehat.”).
  4. Usia anak agaknya perlu diperhatikan. Kemarin, saya sempat ngobrol dengan nakes yang bertugas di tempat sunat. Dia bilang paling mudah menyunat anak yang usianya sudah di atas 6 tahun, karena sudah bisa diajak diskusi dan paham bahwa dia akan disunat. Walaupun, pastinya ada ya anak-anak yang karakternya kalem dan lancar-lancar saja disunat di usia balita. Pengalaman dari nakes ini mungkin bisa dijadikan pertimbangan untuk meminimalisir munculnya ‘drama’, hehehe.
  5. Pilih waktu sunat yang tidak terlalu ramai (weekdays misalnya)
  6. Pastikan kondisi anak sedang sehat (tidak flu / batuk) dan kondisi lingkungan pun sedang baik (jika kasus positif sedang meningkat sebaiknya ditunda dulu beberapa saat)
  7. Setelah selesai proses sunat dan kembali ke rumah, langsung bersih-bersih dan ganti baju. Ini perlu banget diingatkan mengingat habis sunat pasti rasanya pengin langsung rebahan ‘kan ya… Tapi ingat masih pandemi. Jadi, jangan lupa bebersih dan ganti baju dulu ya πŸ™‚

All done! πŸ˜€

Oh iya sekadar info, Safubot SAMA SEKALI TIDAK MENGENDORSE kami ya. Sebagai orangtua, saya puas dengan pelayanan sunat di Safubot sehingga inilah yang membuat saya ingin berbagi pengalaman di blog ini. Terimakasih Buibu yang sudah membaca dari awal sampai selesai. Sampai jumpa di cerita-cerita berikutnya ya! πŸ™‚

Always Love,

Aninda – The-A-Family

 589 total views,  1 views today

The-A-Family

A family that starts with an A.

 590 total views,  2 views today

Other posts

    • Halo Dokter! Terimakasih banyak ya sudah membantu sunatan Abang kemarin. Sehat selalu ya, Dok πŸ™‚

  • COMMENTS (2)

    1. Anwar 23rd September 2021 at 9:27 pm -

      Abang une hebat

      Reply
      • The-A-Family 23rd September 2021 at 9:32 pm

        Halo Dokter! Terimakasih banyak ya sudah membantu sunatan Abang kemarin. Sehat selalu ya, Dok πŸ™‚

        Reply

    Leave a Reply