DGB 2

NND’s Story: Review Dua Garis Biru dari Sisi Psikologi

*spoiler alert*


 

Dunia anak dan remaja adalah sebuah kombinasi yang paling saya sukai saat mempelajari psikologi. Buat saya pribadi, masa remaja sendiri rasanya begitu kompleks, bahkan dulu saya suka merasa sulit menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi pada diri saya maupun lingkungan saya. I’ve been bullied, broken-hearted, overprotected, anything you named it. Makanya, ketika ada buku atau film yang mengangkat isu di dunia remaja, I’m so excited. Saya ingin memahami point of view yang seperti apakah yang mau diangkat, terlebih setelah saya mempelajari psikologi.

Dua Garis Biru (DGB) adalah salah satu film Indonesia yang paling saya tunggu di tahun ini. Begitu lihat trailer-nya beberapa bulan lalu, saya langsung mantap mau nonton. Walaupun, banyak banget orang yang skeptis mengenai film ini, mulai dari teman-teman di grup Whatsapp orangtua saya sampai para followers yang minta saya menyetujui pendapat mereka kalau film ini tidak layak tonton. Jelas, saya tidak mau. Saya tidak akan berkomentar apapun sampai saya selesai menonton dan mencerna insight yang hendak dibagikan melalui film tersebut.

Jadilah, di hari pertama pemutaran DGB, saya nonton. Sendirian. Well, nggak literally sendirian sih karena bioskop full house sama remaja-remaja putri dan pasangan muda-mudi. Jika banyak yang menduga-duga film ini akan ‘mendorong’ remaja untuk melakukan seks pranikah, ini salah besar. Cerita manis penuh gejolak asmara ala anak SMA cuma ada di 15 menit awal. Iya, 15 menit, saya sampai cek jam. 15 menit itupun sudah termasuk adegan Bima pesan testpack. Selebihnya? Ngenes. Kita disuguhkan masalah demi masalah yang muncul setelah Dara ketahuan hamil. Nggak cuma satu atau dua masalah, tapi segambreng. Dan saya yakin 1000%, remaja (atau bahkan mungkin orang dewasa) yang melakukan hubungan seks pranikah tidak akan berpikir ke arah situ. Film ini mau ngajarin kita melalui contoh, bukan teori.

Yang terjadi sama saya hampir di sepanjang film: nangis. Saya seolah bisa merasakan bagaimana berada di posisi setiap tokohnya, bisa masuk ke dalam emosi di setiap plotnya. Ditambah soundtrack-soundtrack-nya yang bikin hati rasanya tambah nyeri. Walaupun jujur ada beberapa adegan yang pada saat itu (kali pertama saya nonton DGB), agak bikin saya bingung dan mikir terus. Seperti, ‘Kok Bima dan Dara tenang banget sih masih bisa ketawa-tawa?’ atau ‘Kok keluarganya Dara plin-plan banget sih? Kadang baik, kadang meradang?’ atau ‘Kok nggak ada ‘penyelesaian’ (seperti acceptance orangtuanya kalau anaknya sudah dihamili) di keluarganya Dara?’ dan masih banyak rentetan ‘kok-kok-kok’ lainnya yang bikin saya overthinking sama film ini.

Selang dua minggu kemudian, saya nonton DGB lagi, kali ini berdua dengan ipar saya. Nangis lagi? Nggak dong – yha ada sich di beberapa plot aja hehehe. Kali ini niat saya: nonton dan cermati semua adegan yang menurut saya ‘kok-kok-kok’ itu. Setelah nonton yang kali kedua inilah, saya merasa semakin memahami apa yang mau diangkat dari film ini. Lagi-lagi, khususnya dari sisi psikologi.


 

Kok begini? Kok begitu?

 

Dara: adegan yang pastinya ditunggu penonton adalah reaksi Dara ketika tahu dirinya hamil. Dan reaksinya? Flat. Mungkin bagi sebagian orang hal ini bikin ‘bingung’ karena: “Kan mestinya kalo orang tahu dia hamil di luar nikah ya nangis kek, marah kek, ngeraung-raung kek. Ini kok datar aja, kayak nggak ada emosinya.”, well sebenarnya Dara begini karena dia bingung. Saya bisa lihat dari tatapannya yang kosong. Saking bingungnya, nangis pun tidak bisa. Memang ada orang seperti ini di dunia nyata? Banyak. Rasa hancur tidak selamanya harus ditunjukkan dengan airmata atau amarah; reaksi datar pun tidak selamanya berarti tidak apa-apa. Apalagi di film ini digambarkan Dara adalah sosok anak SMA yang pintar. Reaksi seperti itupun saya rasa sejalan dengan penggambaran sosok anak pintar ini, karena dia berusaha untuk mencari solusi bukan menangisi nasib. Meskipun di adegan berikutnya, Dara ‘terlihat’ tidak mau dekat-dekat Bima saat di kelas – penonton pun mungkin berasumsi Dara marah – yang berujung Bima jadi linglung. Mungkin maksud Dara bukan marah, tapi hanya ingin ‘memperbaiki hidupnya’ dengan belajar yang benar di kelas. Toh, dia pun akhirnya mengejar Bima di koridor sekolah.

“Kok Dara nggak mikirin anaknya sih? Kok malah mikirin masa depannya?” Dara terlahir dari keluarga yang terlihat ambisius dalam bidang karir. Ibaratnya: jika mau sukses, masa depan harus dirancang dengan matang. Ditambah, keluarganya terlihat tidak dekat secara emosi atau sibuk sendiri-sendiri, tipikal keluarga di ibukota, bahkan adiknya saja memanggil “gue-elo” instead of “aku-kamu” ke Dara. Hasil dari bentukan inilah yang membuat opsi menjadi ‘ibu seutuhnya’ mungkin hanya terlintas sesekali di benak Dara. Terlebih, ibunya Dara secara realistis selalu menekankan bahwa menjadi orangtua bukan pekerjaan yang mudah. Tapi apa yang terjadi? Walaupun raganya pergi mengejar mimpinya, di adegan terakhirnya Dara terlihat betul merasa sedih dengan pilihannya sendiri.

 

Bima: yang paling menggelitik dari tokoh ini adalah positivity yang dia miliki. Sebenarnya dari sisi psikologi, saya lihat ada dua hal yang mendasari Bima terlihat sangat positif dan ‘baik-baik aja’: 1) dia terlahir di dalam keluarga yang memiliki kedekatan antara satu dengan lainnya (sehingga Bima tumbuh dalam lingkungan yang supportive – terlihat dari adegan ayahnya ngobrol dengan Bima di kamar) atau 2) dia memang masih remaja dan tidak punya bayangan seberat apa masalah yang sedang dia hadapi. Perkawinan dari kedua hal inilah yang membentuk Bima menjadi Bima. Jadi kalau menurut saya, Bima bukan pura-pura polos, naif, atau kasarnya bego, tapi ya memang begitu adanya. Di beberapa adegan lainnya, seperti: saat Bima bilang orangtua mereka pasti akan memaafkan mereka jika kehamilan ini terbongkar, saat Bima mengungkapkan dia mau bertanggung jawab ke ayahnya Dara, saat Bima tetap mendukung Dara untuk kuliah di Korea walaupun saat itu dia tahu kondisi Dara sudah hamil anaknya, saat Bima terlihat santai-santai aja main game sedangkan Dara sudah menyusun masa depannya untuk ambil Paket C, dan sekian banyak celetukan Bima yang kadang tidak pas di tempatnya, itu semua bentuk bahwa inilah Bima, si anak remaja yang mendadak jadi bapak.

 

Keluarga Dara: awalnya saya sempat bingung dengan posisi keluarga Dara di film ini, antara mendukung tapi tidak sepenuhnya mendukung, jadi maunya apa? Di kali kedua saya nonton film DGB ini barulah saya paham, jika memang sangat tidak mudah menjadi keluarga Dara. Mungkin ini juga yang terjadi pada orangtua yang mengalami hal serupa di dunia nyata. Mereka pasti ingin ‘menyelamatkan’ diri si anak dengan membantunya menata ulang masa depannya; bahwa hamil bukanlah akhir. Terlepas dari anggapan penonton, “Gimana sih cucu sendiri kok rela diasuh orang lain?!” Saya rasa bukan itu yang menjadi concern mereka. Hal yang menjadi concern mereka adalah bagaimana Dara dapat melanjutkan hidupnya dengan sebaik mungkin. Lalu, apakah orangtua Dara lantas tidak menyayangi cucunya? Saya rasa tidak dapat dikonklusikan semudah itu. Saya ingat di ¼ terakhir paruh film DGB ini, ada dialog ibunya Dara yang katakan kalau: “Yang tidak kamu lihat, belum tentu tidak ada.” Itu jadi tanda bagi saya, jika sebetulnya walaupun tidak diceritakan rasa sakit yang ibunya Dara rasakan, hal itu tetap terjadi, kita tidak tahu saja.

Kembali lagi ke pembahasan mengenai diri Dara di atas, keluarga ini bukan tipe keluarga yang memang dekat secara emosi. Satu contoh nyata yang tidak terlihat di film adalah pembahasan Dara hamil dari sisi keluarga. Mungkin kalau saya (atau kalian) hamil di luar nikah, akan ‘disidang’ oleh keluarga, tapi tidak dengan Dara. Upaya Dara untuk meminta maaf kepada ibunya pun kayak kentang (kena tanggung), adegan Dara dengan kedua orangtuanya di kamar pun terasa canggung – ya mungkin memang dibuat sedemikian rupa, mengingat tipe keluarga Dara yang tidak hangat secara emosi.

 

Keluarga Bima: seperti yang sudah saya singgung di atas, keluarga Bima adalah keluarga yang supportive. Terlepas ocehan ibunya yang super bawel atau omelan kakaknya, keluarga ini tetaplah keluarga yang hangat. Masing-masing dari mereka ‘pasang badan’ untuk Bima, mulai dari ayahnya yang mau membantu Bima melamar Dara, ibunya yang berani adu argumen dengan orangtua Dara, sampai kakaknya yang membantu meredakan emosi saat pertemuan keluarga berlangsung. Saya salut dengan kebesaran hati ayahnya Bima yang mempersilahkan Dara masuk ke rumahnya sambil menepuk pundak Dara, serta ibunya Bima yang tetap berlaku baik pada Dara padahal pasti hancur hatinya. Saya rasa tidak perlulah kita katakan: “Ya jelaslah ‘kan anaknya mereka yang laki, pasti nggak akan sesakit orangtuanya perempuan.” Pada kasus seperti ini, anak laki dan anak perempuan sama saja. Karena apa? Rasa malu bisa terjadi pada siapa saja, omongan tetangga bisa ditujukan untuk siapa saja, bukan khusus pada keluarga perempuan saja. Di sisi ini, saya melihat acceptance and forgiveness dari keluarga ini. Rasa ikhlas yang besar tergambar dengan nyata. Apalagi adegan Bima dan ibunya yang sedang memasukkan kue ke dalam boks, rasanya sampai sakit sekali dada saya. Hubungan mereka luar biasa indah di mata saya. Acceptance dan forgiveness mengajarkan kita kalau unconditional love itu ada. Terlebih untuk kasus seperti ini, di mana memang orang-orang seperti Dara dan Bima membutuhkan banyak dorongan positif untuk menata kembali hidupnya, unconditional love-lah yang paling mereka butuhkan.

 

Ending: saya terkesan dengan ending-nya, dikemas dalam bentuk yang menurut saya mindblowing. Kenapa harus dibikin seperti itu?

  1. Jika tidak ada masalah dengan kesehatan Dara – mungkin bagi sebagian remaja yang tidak memiliki cita-cita setinggi Dara, hamil di luar nikah bukanlah suatu hal yang dapat menghancurkan masa depannya. Namun, jika mereka tahu kalau tubuh mereka belum mampu untuk menghadapi kehamilan dan dapat beresiko fatal bagi kehidupan mereka kelak, hal ini bisa menjadi sebuah pertimbangan. I mean, siapa sih yang mau sakit-sakitan atau bahkan meninggal muda karena hal ini?
  2. Cerai bukan pilihan – saya khawatir cara ini bukannya membuat remaja takut cerai sehingga akan membuat mereka menjauhi seks pranikah, tapi mungkin malah sebaliknya. Mungkin malah akan ‘mengedukasi’ mereka untuk menganggap remeh pernikahan tersebut. Kasarnya nih: “Kalau nggak cocok atau ternyata banyak yang diributin, ya cerai aja.” ‘Kan malah jadi kacau…
  3. Dara menjadi ibu di rumah dan Bima bapak yang bekerja. Mereka hidup bahagia selayaknya pasangan lain. – tipikal keluarga pada umumnya. Mungkin kalau ending-nya begini, penonton akan menganggap, “Ternyata bisa-bisa aja kok hidup begitu. Bener kata si Bima, dia bisa bertanggung jawab ‘kan akhirnya…” Well, tidak semudah itu. Lagi-lagi, hal ini kurang mampu mengedukasi penonton dan malah akan menjadi boomerang.
  4. Dara tetap bisa mengejar mimpinya tapi tetap menjadi ibu dan istri di rumah – tadinyaaa, saya kira ending ini yang akan dipilih. Ending ini indah dan memberikan harapan bagi perempuan seperti Dara. Penonton pun pasti suka. Tapi kembali lagi, edukasi yang diharapkan tidak akan muncul dengan ending seperti ini. Ending ini ibarat pembenaran pada apa yang dilakukan oleh Dara (“nggak apa-apa kok hamil di luar nikah, nanti juga bisa sukses”), padahal nyatanya tidak semudah itu. Jikapun ending ini yang dipilih maka akan lebih baik kalau plot cerita dibuat semakin panjang dengan segala masalah di dalamnya, which is tidak akan mungkin bagi sebuah film.
  5. Dara tetap pergi ke Korea? Enak amat! – pilihan ini tidak semudah itu. Iya, Dara berasal dari keluarga berada yang memungkinkan hal tersebut terjadi, tapi adegan terakhir Dara di dalam mobil menyiratkan arti lain bagi saya. Iya dia bisa pergi, iya dia bisa mengejar mimpinya, tapi pilihan yang terjadi adalah hidup terpisah dengan anak. Kasarnya nih seolah film ini mau ngajarin, “Iya, kamu tetap bisa kok mengejar mimpimu sejauh mungkin. Tapi, memang kamu pikir enak hidup terpisah dengan anak? Memangnya mudah? Belum lagi kalau ternyata pas lihat anaknya jadi sayang banget. Hayo, memangnya kamu mau?” Tuh. Bagi saya, ini adalah pilihan yang bijak dalam mengakhiri cerita, membuat penontonnya mikir sendiri dan tanpa sadar teredukasi.

 

Saya rasa sudah cukup uneg-uneg dari sisi psikologi yang mau saya bagikan melalui review film ini. Angkat topi untuk penulis sekaligus sutradaranya, film ini sangat menginsipirasi dalam peran saya sebagai seorang ibu. Satu hal baru yang saya pelajari melalui film ini, yaitu memupuk rasa empati saya bagi pasangan seperti Dara dan Bima. Jujur, point of view saya berubah. Mereka memang salah, tapi tidak perlu terus-menerus disalahkan. Membantu mencari solusi dan memberi dukungan berupa unconditional love, itulah yang lebih mereka butuhkan.

Untuk kalian yang masih skeptis dengan film ini, please open your mind. Untuk kalian para orangtua, please go to the cinema and watch it. It’s for you, for the way you see life in another perspective 🙂

 

 

 

Always Love,

Aninda — The-A-Family

11,383 total views, 5 views today

The-A-Family

A family that starts with an A.

11,384 total views, 6 views today

Other posts

  • Yap betul bu nin. Memang aku bukan orang yang mengalami hal yang serupa. Tapi kakak sepupu aku (tinggal bareng orang tua aku dari aku kecil) dan secara gak langsung jadi bagian keluarga inti aku dan tinggal dengan orang tua aku, akupun punya pemikiran sama dengan bu nin di atas.
    Kejadian hamil di luar nikah memang salah kedua belah pihak, hal yang bisa dicegah, tapi kalau sudah terjadi tidak bisa dibantah. Kenapa? Karena tidak semena-mena mereka bukan lagi jadi bagian keluarga.
    Hal pertama yang masih aku ingat waktu kakak aku ketahuan hamil di luar nikah adalah semua nangis, semua marah, semua kesal dan saling menyalahkan. Terlebih ayah aku, memang sosok yang gak banyak bicara tapi pasti menangis dihati, ayah aku cuma diam dan pergi keluar dari pertemuan keluarga. Hal ini yang buat aku gaakan pernah mau ngelakuin hal yang sama, kenapa ? Karena tanggapan ayah aku yang buat aku bilang ke diri sendiri, jangan sampai ayah aku mengalami hal ini lagi.
    Tapi bedanya, kakak aku terus bersama anaknya, sampai sekarang ada 3 dan semua aku sayang, keluarga aku juga sayang.
    Aku salut sama kakak aku dan kakak ipar aku, mau menata hidupnya lagi. ikut ujian paket C, bekerja,dan tetap bersama kelurganya.
    Tapi, kalau aku lihat dari kejadiannya dulu, karena aku ada disitu. Memang jadi tamparan keras, kalau hal itu tidak boleh terjadi di kehidupan aku.
    Bukan masalah tanggapan orang lain, bukan tentang nama keluarga jadi taruhannya. Tapi akan banyak penyesalan walaupun sesukses apapun diri kamu sekarang. Ya, kakak aku masih menyesali hal itu, banyak sekali.
    Menjadi sukses nantinya, atau pilihan lain yang lebih baik atau buruknya. Menurut aku, rasa penyesalan dalam diri jauh lebih nyiksa sampai kapanpun.
    Film ini bagus banget, aku nangsi seember (gadeng ga sember juga), baca reviewnya bunin aja nangis.
    Lewat comment ini, aku cuma mau bilang. Seks pranikah itu harus di jauhi, karena apa ? Untungnya tidak ada.
    Dan kalau sudah merasakan, berhenti. Kenapa ? Ya….. balik lagi hidup itu tidak seindah film, Semua adalah pilihan. Keluarga bisa bantu memang, tapi… percaya deh rasa penyesalan itu berbekas sampai nanti, sakit hatinya keluarga akan jadi beban buat diri kamu sampai nanti.

  • Ini kaya apa yg di pikiranku dikeluarin semua sama bu nin. Bykbanget org yg gasuka endingnya, tp aku sgt setuju kalo ending kaya gitu udah paling bener. ❤️

  • COMMENTS (4)

    1. Da 28th August 2019 at 8:56 am -

      Ini kaya apa yg di pikiranku dikeluarin semua sama bu nin. Bykbanget org yg gasuka endingnya, tp aku sgt setuju kalo ending kaya gitu udah paling bener. ❤️

      Reply
    2. Ninda 28th July 2019 at 8:21 am -

      Ka aninda selalu keren tulisnya. Ga cuma sekedar kata kata tp tersirat banyak makna.

      Reply
    3. PP 28th July 2019 at 2:17 am -

      Yap betul bu nin. Memang aku bukan orang yang mengalami hal yang serupa. Tapi kakak sepupu aku (tinggal bareng orang tua aku dari aku kecil) dan secara gak langsung jadi bagian keluarga inti aku dan tinggal dengan orang tua aku, akupun punya pemikiran sama dengan bu nin di atas.
      Kejadian hamil di luar nikah memang salah kedua belah pihak, hal yang bisa dicegah, tapi kalau sudah terjadi tidak bisa dibantah. Kenapa? Karena tidak semena-mena mereka bukan lagi jadi bagian keluarga.
      Hal pertama yang masih aku ingat waktu kakak aku ketahuan hamil di luar nikah adalah semua nangis, semua marah, semua kesal dan saling menyalahkan. Terlebih ayah aku, memang sosok yang gak banyak bicara tapi pasti menangis dihati, ayah aku cuma diam dan pergi keluar dari pertemuan keluarga. Hal ini yang buat aku gaakan pernah mau ngelakuin hal yang sama, kenapa ? Karena tanggapan ayah aku yang buat aku bilang ke diri sendiri, jangan sampai ayah aku mengalami hal ini lagi.
      Tapi bedanya, kakak aku terus bersama anaknya, sampai sekarang ada 3 dan semua aku sayang, keluarga aku juga sayang.
      Aku salut sama kakak aku dan kakak ipar aku, mau menata hidupnya lagi. ikut ujian paket C, bekerja,dan tetap bersama kelurganya.
      Tapi, kalau aku lihat dari kejadiannya dulu, karena aku ada disitu. Memang jadi tamparan keras, kalau hal itu tidak boleh terjadi di kehidupan aku.
      Bukan masalah tanggapan orang lain, bukan tentang nama keluarga jadi taruhannya. Tapi akan banyak penyesalan walaupun sesukses apapun diri kamu sekarang. Ya, kakak aku masih menyesali hal itu, banyak sekali.
      Menjadi sukses nantinya, atau pilihan lain yang lebih baik atau buruknya. Menurut aku, rasa penyesalan dalam diri jauh lebih nyiksa sampai kapanpun.
      Film ini bagus banget, aku nangsi seember (gadeng ga sember juga), baca reviewnya bunin aja nangis.
      Lewat comment ini, aku cuma mau bilang. Seks pranikah itu harus di jauhi, karena apa ? Untungnya tidak ada.
      Dan kalau sudah merasakan, berhenti. Kenapa ? Ya….. balik lagi hidup itu tidak seindah film, Semua adalah pilihan. Keluarga bisa bantu memang, tapi… percaya deh rasa penyesalan itu berbekas sampai nanti, sakit hatinya keluarga akan jadi beban buat diri kamu sampai nanti.

      Reply
    4. Milan 26th July 2019 at 11:41 pm -

      Intisari yang bagus banget:))))

      Reply

    Leave a Reply