IMG_1594

Parenting: Anakku Berkacamata (Une’s Story)

I know, banyak banget yang penasaran dengan cerita Une yang ini. Banyak banget yang kepo sampai nanyaaa melulu via DM dan komen-komen Instagram. Jujur, saya kesal. Kenapa? Apa salahnya dengan kacamata? Kenapa selalu ditanyakan dengan tendensi negatif? Awalnya jujur saya nggak mau bahas ini, tapi lama kelamaan saya pikir saya perlu sharing, mungkin saja ada orangtua lain yang mengalami hal serupa. Di sini, saya nggak mau menyebutkan secara spesifik hal yang dialami Une (misalkan: berapa minusnya? dsb), karena hal ini membuat saya nggak nyaman. I hope you can feel my position as a mother 🙂

 


Awal 2018

Cerita ini berawal dari Januari 2018, di sekolah (saat itu masih TK) Une ada pemeriksaan kesehatan, termasuk pemeriksaan mata. Saya dapat laporan dari wali kelas Une kalau saat pemeriksaan mata dan diminta untuk melihat huruf dari jarak jauh, Une tidak bisa. Dia selalu minta maju supaya bisa melihat tulisan dengan jelas. Wali kelas Une menduga hal ini dikarenakan Une punya bakat perfeksionis – dia tipe yang sama sekali nggak mau salah jadi jika diminta untuk melakukan sesuatu ya kalo dia rasa dia bisa baru dia lakukan, mungkin dia cuma nggak yakin dengan huruf yang dia lihat dari jarak tersebut makanya dia minta maju, dan dia sama sekali nggak tahu kalo dengan maju arti dari tes tersebut adalah berarti ada sesuatu di matanya, ya padahal bisa aja ’kan Unenya yang cuma perfeksionis. Saya pun menduga hal tersebut. I know my child. Di rumah pun nggak pernah menunjukkan gejala yang nggak biasa, misalkan nonton tv dekat-dekat dsb, semua normal saja.

Esoknya, saya coba minta wali kelas iseng-iseng tes lagi di kelas (tanpa didampingi dokter). Wali kelas Une bilang ternyata hasilnya sama. Sepulangnya Une dari sekolah, saya coba tes sendiri di rumah dan Une terlihat sedikit bingung. Dia bilang, ’’Ibu, aku nggak yakin itu huruf apa.’’ Nah, pikiran saya berubah lagi, mungin sebenarnya Une nggak tahu itu huruf apa, masih bingung secara masih TK, tapi karena nggak mau salah jadi dia nggak mau jawab dan malah maju. Setelah maju pun ya tetep aja ternyata salah penyebutan hurufnya, wong masih belum 100% hafal. Okelah.

Di Februari 2018, gelagat nggak biasa mulai muncul. Une kalo nonton tv maunya duduk di pinggir tempat tidur, nggak mau sambil tiduran atau di atas tempat tidur lagi. Begitupun kalo sedang belajar membaca, jadi betul-betul dipelototin bukunya. Dari situ saya mulai merasakan ada sesuatu pada diri Une. Saya ambil kertas, tulis beberapa huruf yang saya yakin Une sudah tahu penyebutannya, lalu saya tes lagi Unenya. Dia bilang, ’’Ibu, nggak jelas tulisannya.’’ DEG. Mau nggak mau saya harus bawa Une ke dokter mata untuk pemeriksaan yang pasti. Akhirnya saya mulai googling dokter spesialis mata anak yang paling bagus di Jakarta.

 

13 Maret 2018

Saya masih ingat karena kejadian fenomenal ini terjadi tepat sehari sebelum ulangtahun saya. Kalo diingat-ingat masih keseeel rasanya.

Dari hasil googling, saya mendapatkan satu nama dokter spesialis mata anak yang (seperti yang saya baca dari hasil googling) sudah sangat berpengalaman, kita sebut aja dokter X. Dokter X praktek di salah satu rumah sakit mata terkenal di Jakarta. Dokter ini perempuan, jadi saya pikir akan lebih enak bagi saya untuk bercerita. Saya sudah membayangkan anak saya akan ditangani oleh seseorang yang sangat sabar, telaten, dan mampu menangani anak. Rumah sakitnya pun bagus, pelayanannya oke, tapi ternyata tidak dengan dokter X ini.

Saya masuk bersama Une ke ruangan prakteknya. Dokter X bertanya tentang keluhan yang Une alami. Sebelum pemeriksaan dia sempat bertanya, ’’Ibu pakai kacamata?’’ Karena saya merasa nggak pernah pakai kacamata secara rutin walaupun mata saya minus, saya pun menggeleng, ’’Saya nggak rutin pakai, Dok. Tapi memang saya ada minus.’’ Omongan dokter X berikutnya bikin saya bengong. ’’Ya, itu berarti pake namanya! Pake kacamata nggak pake kacamata tuh pilihan, Bu! Gini deh, kayak Ibu mau keluar rumah, Ibu pake baju atau nggak itu pilihan Ibu ’kan?!’’ WOW. Speechless saya.

Lanjut, ternyata suster atau asisten (ada 2 orang) yang membantu dokter X di ruangannya, salah satunya adalah anak baru jadi dia masih belum mengerti cara memegang alat tesnya. Marah-marahlah tuh dokter X ke anak baru ini di depan saya dan Une. Bahkan, Une sampai mengkerut karena ketakutan, kasihan banget deh kalo saya inget. Setelah pemeriksaan itu, dokter X bilang, ’’Tadi kata Ibu gejalanya baru muncul 1-2 bulan ini?! Nggak mungkin, Bu! Ibu bekerja atau gimana sih? Masa nggak tau anaknya begitu. Kalo seperti ini mestinya sudah dari 6 bulan lalu muncul gejalanya. Memang katarak apa yang ketahuan munculnya antara 1-2 bulan?!’’ Astaghfirullah.

Lanjut lagi, ’’Ini saya kasih resep untuk kacamatanya, ya. Terserah mau ditebus apa nggak, itu ’kan pilihan. Hahahaha. Nggak usah makan wortel atau minum jus wortel segala, nggak akan bikin sembuh. Kalo bikin sembuh mendingan saya jadi petani wortel daripada jadi dokter, udah kaya kali saya.’’ Kemudian dia tersenyum (sok) manis, ’’6 bulan lagi balik lagi ke sini ya, Une. Kita periksa lagi.’’ Saya keluar bersama Une dengan rasa maraaah yang berkecamuk. Jujur, saya sama sekali nggak terima dengan caranya memperlakukan kami sebagai pasiennya. Review positif dan seabrek artikel ini-itu di internet yang mendewakan dokter X seolah cuma bulls**t buat saya. Saya baca banyak artikel kalau dokter X telah berhasil menangani masalah mata anak yang tingkatnya jauh dengan apa yang dialami Une. Apa karena anak saya cuma minus jadi dia berhak marah-marah? Saya sama sekali nggak dapat edukasi di ruangan praktek itu, melainkan cuma nyinyiran aja. Une pun langsung bereaksi begitu kami keluar, ’’Dokternya galak banget deh, Bu.’’ Akhirnya, saya langsung mengadukan hal tersebut ke customer service rumah sakit tersebut.

 

Pertengahan 2018

Saya dan Une masih shock, masih nggak mau lagi ke dokter mata manapun dulu. Walaupun memang sudah banyak teman-teman yang merekomendasikan dokter spesialis mata anak lainnya, tapi nanti ajalah. Kemudian, tanpa disengaja saya bertemu dengan teman lama yang ternyata seorang dokter mata dan seluruh keluarganya (orangtua dan keempat anak-anaknya) semuanya berkacamata. Saya tanya-tanya seputar kesehatan mata anak ke dia. Katanya memang, mata minus itu besar penyebabnya dikarenakan genetik – hal ini sesuai dengan sebuah literatur yang pernah saya baca jika mata minus pada orangtua 90% chance-nya untuk menurun ke anak. Untuk orangtua yang berkacamata memang semestinya lebih concern dalam menjaga mata anak-anaknya. Ibarat kualitas barang, dari pabriknya memang udah punya bakat ’bermasalah’. Misalkan anak A orangtuanya berkacamata dan anak B orangtuanya tidak berkacamata diberikan stimulasi aktivitas mata yang sama (sama-sama main gadget dengan durasi yang sama, sama-sama nonton tv dengan jarak yang sama, dsb), maka anak A akan cenderung lebih rentan ’bermasalah’ matanya dibandingkan anak B. Masih inget banget yang teman saya bilang, ’’Jadi bukan soal gadget tok, Nin. Banyak kok anak-anak yang bahkan punya gadget sendiri dari balita matanya nggak kenapa-napa. Ini pure karena memang Une juga ada keturunan. Allah ngasihnya gitu. Udah tenang aja, nggak ada yang salah.’’ Dia ini pahaaam banget saya mulai ngerasa saya yang salah nurunin mata ini ke Une, padahal nggak boleh begitu. Just let it go.

Entah April atau Mei, saya lupa, saya mulai dateng ke optik langganan keluarga buat tes mata Une dan pembuatan kacamata. Dari hasil tes mata, ternyata nggak ada perbedaan signifikan dengan yang dokter kasih beberapa bulan sebelumnya. Petugas di tempat optik menyarankan agar kacamata yang dibuat tidak memakai minus sesuai di resep, khawatir Une kaget dengan perubahan penglihatannya dan malah jadi pusing, karena sudah banyak kasus seperti ini. Jadilah Une, si anak TK, satu-satunya yang pakai kacamata ke sekolah. Gimana tanggapan ortu murid? Macem-macem. Saya cerita apa adanya, begitu juga ke guru-guru. Banyak yang khawatir, banyak yang memberi support, ada juga yang bikin bingung. ’’Terus, jadi gimana dong lo pas tau Une harus pake kacamata?’’ ’’Ya nggak gimana-gimanalah, Mbak. Kaget mah pasti. Tapi gue malah seneng, ketahuannya cepet. Kasihan banget kalo nggak ketahuan terus anaknya nggak ngomong.’’ ’’Lah, lo kok malah seneng anak lo pake kacamata?!’’ ’’Lah, gimana? Ya senenglah, Mbak. Seneng bisa cepet ketolong. Memang ada yang salah dengan pakai kacamata ya, Mbak?’’ Hadeh.. Masalah-masalah gue, lo yang rempong. Wkwkwk.

Sehari sebelum Une periksa mata di optik langganan itu, saya coba tes mata saya sendiri di rumah. Saya tutup mata kiri saya, it was so blurry. Saya tutup mata kanan saya, it was still okay. Akhirnya setelah Une tes mata, saya coba minta tes mata ke petugas optik. You know what, mata kanan saya -3 tapi mata kiri sama normal tanpa minus sama sekali. That’s why, saya masih bisa beraktivitas tanpa kacamata karena terbantu oleh mata kiri saya. Hanya pada aktivitas tertentu aja, seperti ngetik di laptop atau nonton bioskop, saya paksakan pakai kacamata.

 

Akhir 2018

Ada salah satu teman baik saya, dia kasih saran untuk periksakan mata Une di Optik Tunggal Next Generation (OTNG). Ini optik khusus anak, sudah ada di beberapa mall di Jakarta, dan harap digarisbawahi: saya nggak di-endorse. Ini cuma untuk sharing karena memang saya mendapatkan pengalaman yang baik di sini 🙂

Saya datang ke OTNG cabang Plaza Indonesia. Hari itu niatnya memang Une mau ganti frame kacamata dan mau beli kacamata khusus olahraga, karena kasihan banget kalo dia futsal katanya suka nggak bisa lihat dengan jelas. Sebelum pilih frame, Une diperiksa dulu ukuran kacamatanya apakah ada perubahan dengan kacamata sebelumnya atau tidak. Alat pemeriksaannya pun kids-oriented dan petugasnya itu lhooo baik-baik dan kids-friendly banget. Une dibikin nyaman deh, biar nggak tegang. Ditanya apa hobinya, cita-citanya, terus ngobrol tentang bola. Hehehe. Habis diperiksa, dikasih reward sticker karena sudah berani. Ada juga balon-balon yang bikin Adek Ayra heboh minta main.

Setelah itu pilih-pilih frame, alhamdulillah dapat yang Une mau. Karena memang ini optik khusus anak, pilihan kacamata anaknya ya banyak banget, modelnya pun macem-macem. Une beli yang ada kaitan di belakang kuping – hehe saya lupa namanya – supaya kalo dia lompat-lompatan tidak bergerak posisi kacamatanya. Satu lagi, Une beli yang untuk olahraga, modelnya seperti kacamata renang tapi bukan untuk berenang. Sembari menunggu, ada games untuk anak-anak di OTNG ini. Untuk kacamata Une, karena beli dua jadi cukup lama pengerjaannya kurang-lebih seminggu. Jika sudah selesai langsung dikabari oleh petugasnya dan bisa diambil ke OTNG. I highly recommend this place.

 

IMG_1587

IMG_1591

IMG_1589

IMG_1590

IMG_1588

IMG_1592

IMG_1593

IMG_1585

 

 


Alhamdulillah, sekarang saya sudah bisa accept kalau Une harus berkacamata. Bukan salah saya, bukan salah Une, bukan salah siapapun dan apapun. Itu pemberian dari Allah. Yang sekarang bisa saya lakukan adalah menjaga Une: sangat-sangat membatasi screen time (padahal dulu sebelum pakai kacamata juga udah ngebatesin banget dan sekarang jadi lebiiih ketat lagi) dan memberi banyak vitamin A lewat wortel (saya tetap yakin kalau wortel bisa mengurangi, anyhow banyak teman saya yang akhirnya berkurang minusnya karena dijejelin jus wortel tiap hari). Dari awal Une pakai kacamata, saya selalu berusaha menjauhkannya dari rasa malu. Kenapa? Karena saya tahu akan banyak orang yang bertanya ’’Kok pake kacamata? Kenapa?’’, saya nggak mau hal tersebut bikin Une jadi minder. Saya selalu bilang ke Une, ’’Kacamata ini yang malah bantuin Une melihat yang nggak jelas jadi jelas. Lagian, Une juga jadi jauuuh tambah keren deh kalo pake kacamata!’’ Alhamdulillah, Une tetap percaya diri dan nggak merasa ’aneh’ berkacamata di saat teman-temannya yang lain tidak.

Jadi ya, please nggak usah tanya-tanya dan komentar lagi: ’’Kenapa bisa sih? Karena gadget ya? Karena nggak suka makan sayur ya? Udah berapa minusnya? Kasihan deh masih kecil sudah pakai kacamata. Makin gede makin nambah lho minusnya.’’ Ssstt, cukup. Nggak perlulah tanya dan komentar seperti itu ke siapapun anaknya, not only Une, karena saya tahu persis rasa nggak nyamannya. Because you know what? In my case, my boy is fine, nothing to worry about. And also, nothing wrong with glasses 🙂

Buat Buibu lainnya yang punya pengalaman serupa dengan saya, boleh banget share ke saya di kolom komentar di bawah ya. InsyaaAllah akan dibalas.

 

 

 

Always Love,

Aninda — The-A-Family

4,753 total views, 7 views today

The-A-Family

A family that starts with an A.

4,754 total views, 8 views today

Other posts

Leave a Reply