BLOG NND

NND’s Story: Two or More?

How many kid you wish you had? Pertanyaan ini sudah menggelantung di pikiran sejak kecil ngga, sih? Aku kayaknya sejak SD sudah mikirin hal ini deh.. Dan seneeeng banget mikirinnya.. Kepingin nikah, kepingin punya anak.. ― wakakakaka purpose of life gue ngapa gini amat yak 😀


 

Dulu nih waktu kecil ngebayanginnya nanti pas gede bakal punya keluarga besar. Jangankan pas kecil, H-1 melahirkan Une aja masih teteup mikir pingin punya LIMA anak. Well, you don’t know until you know. Selesai melahirkan Une, mindset punya anak langsung berubah. Bener-bener abis ngebrojolin Une, langsung kepingin punya TIGA anak aja. Nah loh!!! Kenapa tuh? Padahal melahirkan Une bisa dibilang cepat banget prosesnya tapi tetap aja hal tersebut bikin aku kaget: “Oh melahirkan tuh begini ya rasanya?” Terus langsung buru-buru mengubur keinginanku punya lima anak. “Tiga aja ya.. Yang kedua lahir lima tahun lagi. Yang ketiga lahir tujuh tahun lagi,” I said to myself.

Well, you don’t know until you know.

 

Melahirkan Ayra tuh ngeri-ngeri sedep. Kalo ditanya rasanya gimana? Wuih yang jelas 1000x lebih dahsyat daripada melahirkan Une. Jadi ya, kalo ada wise old saying: “Halah! Melahirkan anak kedua itu nggak sakit. Apalagi kalo anaknya perempuan!” EHE EHE EHE HOAX GUYS. Tiap anak beda-beda sih dan dalam kasus Abang-Adek ini, aku sama sekali nggak setuju dengan pernyataan tersebut 😀 Nah, setelah melahirkan Ayra itulah keinginan yang tadinya pingin punya tiga anak langsung geser jadi DUA anak sudah cukup. Wakakakaka, nyerah? Begitu aja nyerah? Tunggu dulu…

Sebenarnya bukan tok karena masalah melahirkannya saja; I think it’s all because the newborn’s first days. Tho I’ve enjoyed it so much, but it feels like unstopped rollercoaster for me (and my husband too). Memang menyenangkan rasanya punya bayi; kulitnya, wanginya, gemasnya… Tapi merasa senang saja tidak cukup, ‘kan? Aku dan suami sepakat memiliki anak butuh mental yang luar biasa sehat. Ini bukan soal hitam putih yang biasa awam katakan ‘gila’ atau ‘waras’ ya, tapi lebih ke persiapan mental dalam menghadapi our upside down life after newborn, dan ini yang biasanya terlewat dipersiapkan orangtua. Orangtua biasanya lebih fokus ke si bayinya (and it happened to us too!), tanpa memikirkan banyaknya perubahan yang kelak akan mereka hadapi. Then you’ll know, it’s uneasy.

Well, you don’t know until you know.

 

Jujur waktu baru satu anak, hal ini nggak terasa banget buatku (dan mungkin suamiku juga merasakan hal yang sama). Ibaratnya mungkin dulu stok mentalku masih penuh. Muncul Une, stok mental berkurang. Muncul Ayra, stok mental berkurang lagi. Sampai saat ini belum ‘terisi’ lagi agar merasa cukup mental memiliki anak lagi. Makanya, aku suka amazed lihat orangtua yang punya anak banyak. Hebat euy! 😉

Aku setuju wise old saying yang ini: “Semakin banyak anak, semakin besar pula mental yang harus dimiliki.” Bener banget. Nggak boleh cepat marah, apalagi marah ke adeknya tapi bawa-bawa abangnya. Nggak boleh teriak-teriak, karena anak akan menyontoh. Nggak boleh cepat merasa capek, harus banyak bersyukur dengan segala kebaikan yang Allah titipkan. Harus selalu senang, supaya anak-anak ikut senang. Harus selalu hadir untuk anak-anak, agar mereka tahu mereka disayang dan berharga. Dan masih banyak lagi. We’re still learning tho.

Me and my husband just realized our own limit. So then we choose ― for now ― being four is a perfect number! 😀

Well, you don’t know until you know.

 

Alasan menentukan jumlah momongan itu bisa bervariasi. Mungkin kebanyakan orang beralasan finansial, kesehatan, lack of support systems, ada juga yg alasan mental sepertiku. Aku juga pernah baca cerita seorang ibu yang nggak mau nambah anak lagi karena sudah merasa sangat jatuh cinta dengan anak pertamanya, jadi takut nggak bisa berlaku adil kalau memiliki anak lagi. Apapun itu, buatku sah-sah aja. You’re the one who knows your own limit. Dan menurutku show your limit izokeee kok. Seperti dapat dipastikan bakal ada yang riwil nanyain, “Kapan nambah lagi? Si A kan udah gede!” atau “Bikin lagi dong, anak-anak kamu lucu-lucu tuh..” atau “Si B ‘kan udah SD, masa nggak ada adeknya?” atau “Kayaknya si C butuh temen deh.. Kasihan ah jadi anak tunggal gitu.” Kalau dirasa jumlah yang sekarang sudah cukup, ya bilang aja. Jangan malah bilang, “Oh iya.. Nanti deh dicoba lagi..” Percaya sama aku, pasti besok-besok diriwilin lagi deh! #AntiGaenakanGaenakanClub 😛

 

Lalu, gimana kalau one day ternyata Allah titipkan bayi lagi? Jreng-jreng!!! Hahahaha.. Berarti aku dan suami harus refill stok mentalnya. I don’t know how, tapi aku yakin pasti semuanya sudah diatur sih kalau gitu mah… Sekarang sih sama sekali nggak kepikiran 😀 Jadi ya sampai sekarang Ayra tetap akan jadi Kakak sih… Kakak untuk adik-adik sepupunya kelak. WKWKWKWK.

Oh ya, yang bakal tanya: Bunin, KB nggak sih? Aku KB kok. Dari jaman Une bayi dulu sampai sekarang Ayra, aku selalu pakai pil. Yang sekarang aku pakai Microlut. Untuk alasannya kenapa, aku sudah pernah sharing di IGstory ya, cek highlights-ku aja.

 


I think that’s all from me. Boleh banget yang mau forward cerita ini ke teman-teman yang mungkin membutuhkan, hehehe. Feel free to share the story of yours, ya! 😀

 

 

 

Always Love,

Aninda — The-A-Family

 

 

 

3,129 total views, 1 views today

The-A-Family

A family that starts with an A.

3,130 total views, 2 views today

Other posts

Leave a Reply