Processed with VSCO with t1 preset

Parenting: Masa Adaptasi Jadi Anak SD (Une Version)

Assalamualaikum! Ya amplop, udah lama juga ya ternyata aku ngga menyambangi blog-ku nih. Mulai bulan ini mau tekad menulis ah! *begitu aja perasaan tekadnya dari bulan ke bulan, realisasinya woy! wkwkwk*

Hari ini mau cerita tentang 3 isu besar dalam masa adaptasi jadi anak SD yang dialami Une. Jelas yang pertama statusnya yang berubah; yang tadinya anak TK, berubah jadi anak SD. Yang tadinya sekolah cuma beberapa jam, jadi pulang lebih siang. Yang tadinya temannya itu-itu aja, sekarang jadi punya banyak teman dan banyak kakak kelas. Dan masih banyak lagi. Cara menyikapi itu semua pastilah dengan beradaptasi dan Une perlu secepat mungkin beradaptasi dengan keadaan ini supaya dia bisa berinteraksi dengan baik ke depannya.

Dalam beberapa minggu pertama jadi anak SD, setiap pulang sekolah adaaa aja ceritanya. Ya tentang pelajaran yang ternyata ada banyak. Ya tentang teman-temannya. Ya tentang diri Une sendiri. Akhirnya, setelah berhari-hari dengar Une cerita, aku bisa menyimpulkan ada 3 isu besar yang butuh adaptasi lebih: RUTINITAS, BULLYING, dan KEPERCAYAAN DIRI. Ketiga hal ini bahkan muncul di hari-hari awal sekolah lho, jadi ya memang kalau dihitung-hitung sampai hari ini sudah hampir memasuki 3 bulan. So far, Une sudah bisa handle ketiga hal tersebut dengan lebih baik. Gimana caranya aku tau? Karena Une selalu cerita ke aku. Okelah, aku mulai cerita satu-satu yaaa.. 😀

  1. Rutinitas → di antara 2 hal lainnya yang juga memerlukan adaptasi, hal inilah yang pertama kali muncul dalam diri Une. Contoh terkecilnya seperti bangun tidur pagi. Dulu waktu TK, Une bisa bangun sekitar jam 06:45. Sekarang? Paling telat jam 5:45 Une sudah harus bangun. Nah, hal ini jadi ngaruh banget ke rutinitas harian Une. Gambaran kasarnya nih… Dulu Une bisa main di luar rumah kalo menjelang sore hari, nah sekarang suka aku ajak tidur siang aja agar tenaganya recharged. Dulu Une jam tidur malamnya sekitar jam 21-22, sekarang jam 20 aja udah suka kriyep-kriyep. Belum lagi kalo ada daily test, harus aku selipkan kapan waktu buat belajarnya. So what I do? Hal yang aku lakukan adalah menjelaskan ke Une mengenai perubahan yang terjadi dan mengajak Une untuk bersama-sama mencari solusinya. Misalnya nih, sore ini dia nggak mau tidur siang karena mau main bola. Aku jelaskan resiko yang mungkin akan Une hadapi seperti kemungkinan setelah Maghrib dia akan merasa sangat ngantuk karena tenaganya mulai habis. Dan aku tanyakan ke Une, “Menurutmu nggak apa-apa begitu?” Jadi intinya lebih dikembalikan lagi ke diri Une, supaya dia bisa ikut memilih apa yang baik bagi dirinya.
  2. Bullying → ini terjadi di dalam 2 minggu pertama Une sekolah, dia dipukul oleh anak tak dikenal (disingkat ATD ya). Begini kronologisnya… ATD ini temannya teman Une (jadi bukan teman langsung), so Une nggak begitu ngeh ATD ini anak kelas 1 juga atau kakak kelas. Une sudah 2x dipukul oleh ATD di dua hari yang berbeda. Pantas aja begitu pulang sekolah (in those both days), Une tuh bawaannya bete banget. Setelah aku telusuri dan aku tanya, dia mulai cerita soal ATD. Menurut Une, ATD dengan sengaja memukulnya tanpa sebab, setelah itu ATD langsung lari. So what I do? Karena ini baru pertama kali Une mendapatkan tindakan kekerasan dari teman di sekolahnya, jadi aku rasa aku butuh ‘turun tangan’. Aku cuma nggak mau Une trauma untuk bersekolah, apalagi ini masih di hari-hari awal dia bersekolah. Aku langsung menghubungi wali kelas Une dan alhamdulillah esoknya permasalahan tersebut selesai dengan baik. Nah tapi selain itu, aku juga terus membekali Une dengan berbagai solusi dalam menghadapi bullying, yaitu dengan cara:
    1. Bilang kepada anak tersebut kalau Une nggak suka dipukul → “Stop! Aku nggak suka dipukul!” dan langsung memberitahukan hal ini ke wali kelas / guru di sekolah
    2. Kalau tindakan agresifnya tidak terkontrol, Une harus menghindar dengan lari dan langsung memberitahukan hal ini ke wali kelas / guru di sekolah
    3. Kalau tindakan agresifnya tidak terkontrol dan Une tidak bisa menghindar, aku izinkan Une untuk membela dirinya – for the sake of his safety – dan langsung memberitahukan hal ini ke wali kelas / guru di sekolah. Aku selalu tekankan ke Une, “Asalkan bukan Une yang mulai.” Jadi, Ibu Ninda membenarkan bullying juga dong? No, buatku membela diri itu bukan bullying and not any part of it. Sedikit cerita, I was bullied waktu aku SD dulu. Iya, aku korban bullying. Dari mulai diganggu secara lisan (dicemooh, difitnah, dijutekin, dikata-katain) sampai mendapatkan tindakan agresif (ditoyor, didorong) semua sudah pernah aku rasain. It happened when I was at the 6th grade. Setiap hari aku nangis nggak mau sekolah dan sempat minta pindah sekolah, tapi ayahku menolak dan memintaku untuk ‘menghadapinya’ (well, I thank him now because of this 🙂 ). Waktu itu yang ada di pikiranku akhirnya: “terserah deh yang penting aku bisa masuk SMP bagus, aku sekolah buat belajar aja” dan bisa memunculkan pemikiran kayak begini tuh susaaah banget, secara hampir 80% anak di kelas musuhin aku tanpa alasan yang jelas sampai sekarang – yang aku ingat waktu itu aku habis ngelurusin rambut (iya, lurus papan HAHAHAHA old school ‘kan aku) karena dulu rambutku bergelombang dan agak megar, aku nggak suka.. nah sehari setelah dilurusin itulah aku di-bully berbulan-bulan. Mungkin buat mereka ya nggak ada rasanya dan fun aja mem-bully orang lain, tapi asli deh, sekecil apapun tindakan bully yang mereka lakukan tetap aja membekas di aku. Keadaan semakin nggak kondusif, akhirnya aku minta Uma (ibuku) datang ke sekolah. Setelah beliau datang, keadaan malah tambah runyam. Aku bahkan ditoyor oleh seorang anak laki-laki berbadan besar. Nah di situ, aku marah. Aku balas dorong dia, aku teriak, “Kamu nggak pernah diajarin yang baik-baik ya sama orangtuamu?! Kenapa sih seneng jadi orang jahat?!” That moment, aku membela diriku. Dan akhirnya, mulai dari hari itu nggak ada yang berani lagi mem-bully aku – oops no! masih ada beberapa anak cewek di geng sebelah yang selalu jutekin aku hahaha tapi bodo amatlah selama mereka nggak gangguin aku. Keadaan jadi semakin mencair, teman-temanku mulai ngajakin aku ngobrol lagi – and then I found out kalo mereka tuh kayaknya ikut-ikutan gitu lho jadi bukan nge-bully based on ada masalah sama aku tapi nge-bully based on diajakin sama teman-teman yang lain. Nah, kembali lagi ke niatku “sekolah untuk belajar” itu, akhirnya aku bisa masuk di SMPN  yang (waktu itu) passing grade-nya tertinggi se-Jakarta Timur. Nilai general test-ku tertinggi satu sekolah (jamanku UN SD namanya general test). O M G 😀 😀 😀 Sampai sekarang aku masih nggak nyangka sih hahahaha karena waktu sebelum ada kasus bully itu, aku cuma ranking 7 atau 8 di kelas. Jadi intinya, bullying itu tergantung bagaimana kita menyikapinya dengan bijak 😉
  3. Kepercayaan diri → suatu malam aku lagi beberes bukunya Une, iseng-iseng aku buka buku cetaknya. Ada pertanyaan dan dijawab oleh Une. Jawabannya benar, tapi dia hapus dan dia timpa dengan jawaban yang memang salah. Aku penasaran, aku tanya dia. “Abang, ini ‘kan udah bener, kok malah diganti?” Dia jawab, “Iya, kata si XXX yang bener itu jawabannya.” Naaah.. Hal ini terjadi berkali-kali pada akhirnya, termasuk sampai Une jadi ragu untuk menjawab pertanyaan wali kelasnya karena takut dianggap salah oleh temannya ini. So what I do? Aku dan ayahnya ngomong bertiga dengan Une. Kami sampaikan bahwa, “Une anak yang pintar, nggak perlulah terpengaruh dengan jawabannya teman. Une harus yakin kalo Une bisa karena kenyataannya Une memang bisa, dan jawaban teman Une belum tentu benar.”stop, ngga perlu diembel-embeli dengan: “kamu tuh lebih pinter dari teman kamu” atau “teman kamu sebenernya ngga lebih pinter dari kamu”, why? karena hal ini malah akan menjadi boomerang ke diri anak dan berakibat dia melihat temannya dengan sebelah mata. Setiap kali Une cerita tentang pencapaian dirinya di kelas – bisa jawab pertanyaan, bisa mengerjakan soal, solatnya rapi dan khusyuk, dll – selalu kami coba apresiasi, sehingga terbentuklah rasa yakin Une dengan dirinya sendiri 🙂 Alhamdulillah, di satu bulan pertama sekolah (Agustus 2018), Une mendapatkan predikat “Best Student of The Month” karena mampu mengumpulkan medal paling banyak di kelasnya (cerita soal medal bisa dibaca: di sini) dan seluruh nilai daily test pertamanya dapat 100 semua! Yeaaay, bener ‘kan apa yang Ibu dan Ayah bilang? 😀

 

Hehehe, segini dulu ya pembahasan kali ini. Semoga tulisanku ini bermanfaat buat buibu dan calon buibu semua yang membaca DAAAN, DOAKAN SUPAYA AKU KONSISTEN MENGISI BLOG INI YAAA! HAHAHAHA. Peace out!

 

 

Always Love,

Aninda — The-A-Family

2,035 total views, 7 views today

The-A-Family

A family that starts with an A.

2,036 total views, 8 views today

Other posts

  • Alm. Adik aku pas masih SD juga sering dibully sama 1tmn sekelasnya. Sbenernya ber3 tp yg 2 cuma ikut2an aja & suka disuruh2 biar gadibully juga. Udh terapin seperti yg ibu jelaskn diblog, tp emang anak yg nge bully itu nakal banget gabisa dibilangin, mentang2 bapaknya tentara dia jd ngerasa bebas ngelakuin apapun gt[maaf ga bermaksud gmn2. Tp emng bocah ini kalo di kasih tau tuh selalu ngamuk+ngotot & bilang “apa lo? berani sama gua? Bapak gue tentara, punya pistol, gue tembak lo ntar” 😌. Emak nya aja kewalahan ngurus dia krn nakal luar biasa-_- sampe di kasih tau dr mulai ditegur baik2 sama guru, sama ortu ku. Udh dimarahin guru/mamaku aja dia masih suka usil, ngambil barang2 punya adek ku &”pukul lari” -abis mukul kenceng langsung ngacir atau dianya sendiri yg nangis😈 [ya emang si mamaku marahnya tuh masih mikir gaenak sama emaknya karna kenal, & tinggal di 1komplek beda 2gang]. Akhirnya karna kesel denger cerita adek aku yg masih suka di ganggu anak itu. Aku yg turun tangan, izin ke gurunya mau manggil si anak nakal [AN] tsb & jelasin tujuannya apa. Eh pas lg mau manggil si AN, aku lihat adek ku lg di usilin sama dia, tadinya cuma mau ngasih peringatan aja, eh tp jd langsung gabisa nahan emosi doong hahahhha😂✌. Beneran aku marahin & ancem mau laporin ke polisi biar di penjara kalo masih suka isengin ade aku&yg lain [dgn maksud biar dia takut aja sih].. Eh si AN beneran takut dumsss haha. Gaberani bully org lg terutama adek aku. Jd sok baik gt bocahnya. Alhamdulillah abis kejadian itu ade aku ga pernah di bully lg sampe lulus smp. Masuk SMA sih ga di bully, tp di sering manfaatin kebaikannya sama tmn2 kere nya.[ dan sedihnya kita baru taupas bacain chat di hpnya setelah ade aku wafat]. Maaf bukannya sombong tp tmn2 ade ku itu sebenernya pd mampu/bisa/punya tp mereka lebih seneng minta/minjem apapun dr ade aku krn tau adikku org nya suka ga tegaan kalo sama tmn/org yg dia kenal. Maap jd curhat✌

  • COMMENT (1)

    1. Nadya 04th October 2018 at 8:42 am -

      Alm. Adik aku pas masih SD juga sering dibully sama 1tmn sekelasnya. Sbenernya ber3 tp yg 2 cuma ikut2an aja & suka disuruh2 biar gadibully juga. Udh terapin seperti yg ibu jelaskn diblog, tp emang anak yg nge bully itu nakal banget gabisa dibilangin, mentang2 bapaknya tentara dia jd ngerasa bebas ngelakuin apapun gt[maaf ga bermaksud gmn2. Tp emng bocah ini kalo di kasih tau tuh selalu ngamuk+ngotot & bilang “apa lo? berani sama gua? Bapak gue tentara, punya pistol, gue tembak lo ntar” 😌. Emak nya aja kewalahan ngurus dia krn nakal luar biasa-_- sampe di kasih tau dr mulai ditegur baik2 sama guru, sama ortu ku. Udh dimarahin guru/mamaku aja dia masih suka usil, ngambil barang2 punya adek ku &”pukul lari” -abis mukul kenceng langsung ngacir atau dianya sendiri yg nangis😈 [ya emang si mamaku marahnya tuh masih mikir gaenak sama emaknya karna kenal, & tinggal di 1komplek beda 2gang]. Akhirnya karna kesel denger cerita adek aku yg masih suka di ganggu anak itu. Aku yg turun tangan, izin ke gurunya mau manggil si anak nakal [AN] tsb & jelasin tujuannya apa. Eh pas lg mau manggil si AN, aku lihat adek ku lg di usilin sama dia, tadinya cuma mau ngasih peringatan aja, eh tp jd langsung gabisa nahan emosi doong hahahhha😂✌. Beneran aku marahin & ancem mau laporin ke polisi biar di penjara kalo masih suka isengin ade aku&yg lain [dgn maksud biar dia takut aja sih].. Eh si AN beneran takut dumsss haha. Gaberani bully org lg terutama adek aku. Jd sok baik gt bocahnya. Alhamdulillah abis kejadian itu ade aku ga pernah di bully lg sampe lulus smp. Masuk SMA sih ga di bully, tp di sering manfaatin kebaikannya sama tmn2 kere nya.[ dan sedihnya kita baru taupas bacain chat di hpnya setelah ade aku wafat]. Maaf bukannya sombong tp tmn2 ade ku itu sebenernya pd mampu/bisa/punya tp mereka lebih seneng minta/minjem apapun dr ade aku krn tau adikku org nya suka ga tegaan kalo sama tmn/org yg dia kenal. Maap jd curhat✌

      Reply

    Leave a Reply