Processed with VSCO with t1 preset

Parenting: Tips Mempersiapkan Anak Menjadi Kakak (Une Version)

Assalamualaikum, everyone! Hari ini aku mau cerita tentang pengalamanku mempersiapkan Une menjadi seorang kakak. Hehehe nggak telat ‘kan ya? Aku sadar ada banyaaak banget yang bertanya soal hal ini baik di kolom komentar IG ataupun di DM. Tapi memang nggak mau aku jawab di IG karena aku tahu jawabanku akan puanjuaaang.. Dan sedikit banyak pertimbanganku ini terpengaruh oleh tema tesisku di tahun 2015 kemarin, yaitu mempersiapkan anak pertama menjadi seorang kakak. So, let me start it! 😀

 


Berjarak 5 tahun

Dulu banget sebelum punya anak, aku kepingin punya 5 anak. Hahahaha harus 5 anak! Kayaknya seru aja gitu, anak banyak rumah rame dan kalau bisa jaraknya nggak jauh-jauh. Setelah ngerasain kelahiran Une di 2012, keinginan itu poof hilang gitu aja. Langsung bilang ke suami, “Yaaang.. Kita punya anak lagi jaraknya 5 tahun aja ya dari Une. Terus, aku batal ah punya anak 5. 3 aja deh yaaa..” What I concerned pada saat itu adalah… melahirkan sakit, ngurusinnya butuh kesiapan fisik dan mental yang nggak main-main, jadi bagiku satu dulu cukup deh. Jarak 5 tahun sengaja aku pilih biar bisa lama menikmati waktu sama Une aja, sekalian bisa ‘bernafas’ dulu sebelum harus ngebayi lagi. Hahahaha.

Nah ternyata, saat lagi mengerjakan tesisku itu, aku sempat baca suatu teori yaitu… “Anak-anak yang menjadi seorang kakak di usia 3 tahun ke atas akan memunculkan perilaku yang lebih positif dibandingkan dengan anak-anak yang menjadi seorang kakak di bawah usia 3 tahun.” Karena anak-anak di bawah umur 3 tahun berdasarkan teori belum dapat meregulasikan (mengontrol) emosinya secara mandiri, masih dalam proses belajar memahami emosi orang lain, dan dalam beberapa hal yang berhubungan dengan kegiatan bantu diri (self-help) mereka masih membutuhkan bantuan.

Lalu mungkin akan muncul pertanyaan, “Ada ‘kan anak yang umurnya di bawah 3 tahun tapi tetap hebat saat jadi kakak?” Ada, itu berarti orangtuanya hebat bisa membentuk anak tersebut.

Lalu muncul lagi pertanyaan, “Jadi anak-anak yang menjadi kakak di atas usia 3 tahun, nggak perlu diajarin cara jadi kakak dong?” Mereka tetap perlu diajarkan. Karena menjadi kakak nggak melulu soal “jadi kakak yang anteng” atau “jadi kakak yang baik” atau “jadi kakak yang jagain adik” atau “jadi kakak yang bantuin ibu”. Elemen jadi kakak tuh luas. Anak perlu tahu ketika adik sudah lahir maka dia tidak akan bisa persis menjadi dirinya yang dulu lagi – it means dia juga secara tidak langsung akan ‘lahir’ menjadi seorang kakak. It means akan banyak perubahan yang akan terjadi pada hidupnya, hidup ibu, dan hidup ayah. Hal ini perlu disampaikan kepada anak. Dan berdasarkan teori, anak usia tiga tahun ke atas sudah mampu untuk memahami hal ini jika disampaikan secara kontinu sesuai kemampuan berpikirnya.

“Bagaimana jika anak tidak disiapkan menjadi kakak?” Ya kayak kita dulu kalo ujian nggak pake belajar deh rasanya.. Sudah pasti, tidak siap. Kaget. Mungkin muncul perilaku yang dulu tidak pernah muncul, seperti perilaku agresif, mudah sedih dan menangis, cemburu, manja berlebih, mencari perhatian melalui cara yang tidak biasa, regresi (perkembangan mundur – misalnya: jadi mengompol lagi atau jadi minta disuapi lagi), sampai menarik diri dari si adik. Jika tidak diselesaikan maka hal-hal ini akan menjadi momok munculnya sibling conflict dan sibling rivalry saat mereka tumbuh dewasa.

So that’s why, menjadi seorang kakak bukan hal yang mudah dan perlu adanya persiapan yang sangat matang. Dari situlah, aku semakin yakin untuk memberi jarak 5 tahun dari Une ke adiknya 🙂

 


Cara Mempersiapkan Une sebelum Adik Lahir

First, you have to know it’s not an instant thing. Une sudah dipanggil dengan sebutan ‘Abang’ dari sekitar umur 1,5 tahun. Awalnya aku panggil dia ‘Adek’, ended up diprotes sama keluarga. “Memangnya nggak mau punya adek?!” Hahahahaha langsung ganti panggilan deh.

Setelah itu, jauh sebelum hamil aku sudah bilang ke Une kalo kami berencana ingin mempunyai adik. Jadi ketika aku dinyatakan hamil, Une sudah tahu kalo this is the time dan seperti bisa dipastikan memang dia too excited to hear the news. Aku pernah baca di salah satu teori mengenai mempersiapkan anak menjadi seorang kakak yaitu mengikutsertakan calon kakak dalam segala hal yang berhubungan dengan calon adiknya merupakan suatu cara yang efektif. Akhirnya, since day 1 we had USG checked, Une ikut. Beli-beli perintilan untuk adiknya, Une ikut. Milih nama adiknya, Une ikut. Semuanya.

Merasakan gerakan adiknya di dalam perut, ikut yoga hamil bersama aku, mengajak adiknya berkomunikasi, menyanyikan lagu favoritnya kepada adik, sampai aku ajak berdiskusi mengenai kehamilan dan bayi adalah kegiatan Une setiap hari ketika aku hamil dulu. Pernah suatu hari kami lagi mau tidur siang, adiknya nggak berhenti aktif bergerak di perut. Une pegang perutku dan meminta adiknya menendang 3 kali, tapi ternyata si adik hanya menendang 2 kali. Une tampak kecewa, aku bilang kalo mungkin adik udah bobo duluan. Eh, Une malah nangis… HAHAHAHA baper 😛

Aku bacakan buku cerita tentang bagaimana kehidupan paska memiliki adik – yap! Ada lho buku cerita tentang ini dan isinya bener-bener relatable dengan kehidupan asli kita. I mean, di buku cerita itu digambarkan kalau adakalanya kita merasa kesal dengan adik karena semua perhatian tertuju pada adik, nah di akhir cerita dijelaskan bagaimana nih caranya menghadapi rasa kesal tersebut – bukunya seri Franklin (googling aja ya). Aku juga cerita tentang perubahan-perubahan yang mungkin akan Une hadapi nantinya, dan aku tekankan it’s all fine. “Perubahan itu baik, pasti kita bisa menghadapinya bersama-sama ya, Bang!”

Lalu bisa aja muncul pertanyaan, “Nggak apa-apa tuh anaknya diceritain tentang perubahan-perubahan tersebut? Bukannya itu malah nakut-nakutin anak ya? Nggak takut anaknya malah jadi trauma sebelum adiknya lahir?” Well, menurutku yang nakut-nakutin anak dan bikin trauma itu adalah kalimat seperti ini… “Iiihh udah punya adik.. Nanti ibunya nggak sayang lagi lho.. Nanti ayahnya diambil adik lho..” ORANG YANG NGOMONG GINI INI NIH YANG PERLU DIJITAK. SERIOUSLY. Kalo yang aku jelaskan di atas, jelas bukan nakut-nakutin karena disampaikan dengan cara yang tidak menakutkan, bersifat realistis (karena memang kenyataannya akan seperti itu), dan terdapat solusi yang jelas. Nah kalo ini??? Ya jelas nakut-nakutinlah! Jangan salah, ini bisa banget jadi momok anak benci sama adiknya kelak. So, untuk calon ibu anak dua di luar sana, please tell your family and friends kalo jenguk saat lahiran: JANGAN PERNAH UCAPIN KALIMAT ITU DI DEPAN ANAK. Believe me, masih banyak kok kalimat lain yang lebih nice 😀

 


Cara Mempertahankan Perilaku Baik Une setelah Adik Lahir

Menghadapi perubahan untuk anak sekecil itu, bukanlah perkara mudah. Apalagi Une cucu pertama dari kedua belah pihak, mendapat cucuran kasih sayang dari kami orangtuanya, nenek-kakeknya, om-tantenya, selama 5 tahun penuh. Lalu sekarang muncul adik kecil. Bagaimana caranya agar Une tetap bertahan memiliki perilaku yang baik?

  1. Aku selalu berusaha menyediakan quality time bersama Une. Bener-bener bersama Une aja dan yang dilakukan aktivitas cukup sehari-hari, seperti: nonton film, gambar-gambar, nyanyi, main board games, pelukan… Anything! Hal ini sengaja aku lakukan supaya Une selalu sadar ibunya ada selalu buat dia dan kehadiran adik nggak akan mengubah hal tersebut.
  2. Hari-hari awal paska kelahiran memang the hardest days. Semuanya seperti adjusting diri sendiri, termasuk Une. Nah saat-saat inilah, Une butuh sosok yang bisa terus menemani dia dan alhamdulillah ayah Une bener-bener membantu dalam hal ini.
  3. Mengajak Une terlibat dalam pengasuhan adiknya; mengambilkan tissue basah, menemani adik saat ibu mandi, ikut menjaga adik saat sedang bermain – adalah tugas-tugas yang biasa Une lakukan. Une merasa keberatan? Sama sekali nggak pernah. Aku malah berpikir Une merasa dihargai dan memiliki andil dalam proses pengasuhan ini. Saat Une besar nanti, ini akan menjadi sweet memories untuknya karena dia dapat merasa senang pernah ikut mengasuh adiknya.
  4. Kami sebagai orangtua mencoba untuk selalu berempati dengan apa saja yang mungkin Une rasakan atau pikirkan
  5. Memuji Une di depan adik dan tidak mengkritik Une di depan adik (apalagi membandingkan Une di depan adiknya)
  6. Menjelaskan keuntungan menjadi seorang kakak – seperti: Une sudah bisa lari-larian, Une sudah bisa memilih makanan yang enak, Une sudah punya banyak teman, dll
  7. Jika dibutuhkan, aku suka memberikan reward untuk Une ketika Une sudah bisa mempertahankan perilaku baiknya (dan reward ini tanpa pemberitahuan sebelumnya kepada Une). Apa saja sih yang bisa jadi reward? Just those simple things! Like ice creams, candies, burgers, and hugs 😀

 


Jadi… Une pernah cemburu atau berantem nggak nih sama adiknya?

I can say, no. Benar-benar nggak pernah. Hampir setiap hari Une digangguin pas tidur, diganti channel pas Une lagi nonton, direbut pensil warnanya pas Une lagi mewarnai, tapi nggak pernah sekalipun Une marah sama adiknya. Cemburu pun begitu, sama sekali nggak pernah ada tanda-tandanya. Walaupun aku yakin, kelahiran adiknya ini berdampak pula pada diri Une. Aku yakin, pasti Une merasakan adanya perubahan dari dirinya yang dulu. Sometimes, he said he miss me. He missed our quality time before nap. Jujur, sebagai ibu ada rasa sedih yang aku rasakan. But I know, Une bisa melaluinya. And one thing, kalaupun Une kesal sama adiknya, yang muncul dari mulutnya cuma satu: “Ya ampun, punya bayi tuh begini yaaa..” itupun ngomongnya sambil ketawa dan geleng-geleng kepala. Hahahaha, Une old soul ah!

 


Yeay, it is done! Thank you for reading dan semoga bermanfaat untuk kalian yaaa, my fellow readers! Yang mau sharing, boleh banget isi komentar di bawah ini ya. We love you.

 

 

Always Love,

Aninda — The-A-Family

2,539 total views, 1 views today

The-A-Family

A family that starts with an A.

2,540 total views, 2 views today

Other posts

  • Keren bunin… Ini yg patut saya contoh ketika anakku yg pertama mulai punya adik lg.. Makasih atas sharingnya , sangat bermanfaat sekali buat saya ibu yg baru punya anak 1 😊

  • COMMENTS (2)

    1. Sulistia Nurwida 27th July 2018 at 9:14 pm -

      Berarti klo punya anak harus 3 tahun ke atas ya supaya bisa lebih memahaminya lg..

      Reply
    2. Sulistia Nurwida 27th July 2018 at 9:13 pm -

      Keren bunin… Ini yg patut saya contoh ketika anakku yg pertama mulai punya adik lg.. Makasih atas sharingnya , sangat bermanfaat sekali buat saya ibu yg baru punya anak 1 😊

      Reply

    Leave a Reply