image1

Parenting: Nilai Tanggung Jawab pada Anak

Beberapa hari yang lalu, aku sempat meng-upload video IGstory tentang Une yang tetap berlatih marching bells walaupun pada saat itu dia sudah mengantuk. Saat itu sudah pukul sembilan malam dan Une belum berlatih marching bells pada hari itu, padahal esok harinya dia akan dites oleh kakak pelatih. Kenapa belum sempat berlatih? Lately, kegiatan Une super padat. Pagi sampai siang dia sekolah, dilanjutkan siang sampai sore les calistung untuk persiapan masuk SD. Belum makan, belum mandi, belum main, belum ngobrol sama aku, belum godain Ayra, tiba-tiba sudah malam saja. Karena siangnya sudah penuh jadwal, wajar aja jam sembilan malam pun Une sudah mengantuk. Kenapa harus latihan? Karena bulan depan tanggal 24 Maret, Une akan ikut lomba Drum Band mewakili sekolahnya. Jadi, memang harus latihan lebih intens. Alhamdulillah, Une pegang marching bells – alat musik yang ternyata memiliki prestige tersendiri. Marching bells berbunyi nyaring, jika salah pukul maka akan sangat jelas terdengar. Jadi memang sejak awal berlatih marching bells, Une sudah paham bahwa dia mendapatkan sebuah tanggung jawab terkait hal ini.

Speaking about responsibility, aku sempat singgung mengenai tanggung jawab dalam video IGstory tersebut. Nah, ahirnya ada banyak sekali DM IG yang bertanya padaku tentang cara mengajarkan tanggung jawab pada anak. Aku sadar jawabanku pasti akan panjaaang sekali, sehingga aku rasa akan lebih pas jika aku share di blog saja 😀

Kalau sekarang Une paham akan tanggung jawabnya, itu sama sekali tidak terjadi dalam semalam. Banyak sekali faktor yang membentuk perilaku seperti itu. Di bawah ini, aku coba simpulkan kira-kira pola pengasuhan seperti apa yang aku terapkan ke Une sehingga membentuk perilaku bertanggung jawab seperti yang terlihat di IGstory kemarin.

  1. Penanaman tanggung jawab sejak dini. Sedari Une kecil (usia 1,5 tahun), secara perlahan aku selalu mengenalkan apa tanggung jawab itu tentunya melalui cara-cara yang sederhana dan bisa ditemui sehari-hari, seperti: merapikan mainannya sendiri ketika selesai bermain, menghabiskan makanannya, mengambil sendiri air minumnya, dsb.
  2. Ketika Une melakukan suatu kesalahan, aku biasakan dia untuk bertanggung jawab. Misalkan Une menumpahkan minumnya tanpa disengaja, dari dulu aku suka mengajaknya dengan, “Ayo Une bersihkan, yuk.” Ketika Une sudah selesai membersihkan, aku tambahkan lagi, “Nah Une, itu tadi namanya tanggung jawab. Karena tadi Une numpahin airnya, dan sekarang airnya udah Une lap, berarti Une udah melakukan tanggung jawab.” Jadi yang aku lakukan bukan fokus ke salahnya Une (bukan marah-marah karena kzl), melainkan lebih fokus ke bagaimana Une bisa menyelesaikan kesalahannya ini. Sebisa mungkin aku selalu selipkan term ‘tanggung jawab’ itu, agar Une selalu bisa relate ‘oh itu namanya tanggung jawab lho.’ Tanpa aku jelaskan secara teoritis tanggung jawab adalah blablabla, karena aku yakin ketika Une terus mengulang perilaku tersebut tanpa dia paham definisi teoritisnya pun dia tetap akan paham maknanya.
  3. Disiplin adalah salah satu faktor pendukung pembentukan nilai tanggung jawab. Ketika kita terbiasa hidup disiplin dan mengikuti rules yang ada, pasti ada rasa tanggung jawab tumbuh di dalamnya. Misalnya, setiap pagi Une harus minum vitamin sebelum berangkat sekolah. Kebiasaan tersebut sudah lama berjalan hingga suatu hari Une lupa nggak minum vitamin. Nah, pasti ketika pulang sekolah Une akan bilang, “Tadi pagi aku lupa minum vitamin. Kalau minumnya sekarang aja, boleh nggak?” Itu menunjukkan adanya rasa tanggung jawab, karena Une paham hal itu harus dilakukan setiap pagi.
  4. Kami selalu berdiskusi terutama soal tanggung jawab, dan ini sudah menjadi kebiasaan kami bahkan sejak Une berusia 3 tahun. Misalnya, hari itu weekend dan durasi gadget-time Une sudah habis. Namanya juga anak-anak, Une coba lagi tanya padaku kali-kali aku akan memberikan tambahan waktu, “Une boleh main lagi nggak, Ibu? 5 menit aja.” Biasanya aku jawab, “Tadi ‘kan sudah. Coba deh, kalau Une main lagi kira-kira akan gimana?” “Mata Une capek..” “Terus?” “Sakit. Pusing. Badan Une lemes..” “Kira-kira bagus nggak tuh buat Une?” “Nggak.” “Jadi, boleh dilakukan nggak?” “Nggak.” “Nah, pinter. Tuh tau ‘kan jawabannya. Sekarang main yang lain aja ya..” Kurang-lebih seperti itu dan ini terjadi dalam berbagai hal. Aku selalu mengarahkan Une untuk bertanggung jawab pada dirinya sendiri. Semua yang terkait dengan dirinya sebenarnya merupakan pilihan dan aku biasakan Une untuk mulai memilih apa-apa yang baik untuk dirinya. Aku tetap ada di sampingnya, memberikan arahan, motivasi, dan fasilitas, tapi tidak serta-merta ikut memilih atau memberikan jawaban: “Kamu harus begini lho blablabla…”. Aku ingin membiasakan Une secara sadar bertanggung jawab dengan pilihannya, karena aku sadar betul hal ini harus dibiasakan sejak dini. Aku nggak ingin Une jadi anak yang plin-plan, bingung, dan tidak dapat menentukan pilihan terbaik untuk dirinya sendiri. Terlebih Une anak laki-laki, kelak ia akan memiliki keluarga yang ia pimpin. Maybe I’m too early to say this, but I’m preparing him. Jarak waktu 20 tahun ke depan bisa saja tidak terasa, that’s why aku perlu membentuk pola asuh sedemikian rupa.
  5. Orangtua perlu memberikan contoh bahwa mereka bertanggung jawab dengan apa yang mereka kerjakan. Ketika suamiku bilang ingin membuat aquarium air laut di rumah, dia benar-benar terjun pada hal itu. Secara tidak langsung, Une belajar bahwa ayahnya bertanggung jawab dengan hobinya. Ketika siang hari Ayra sudah tertidur, biasanya aku akan mengerjakan beberapa pekerjaan yang belum selesai. Melalui hal tersebut, aku berharap Une belajar mengenai tanggung jawab dariku. Lingkungan keluarga memang menjadi tempat pertama kali belajar bagi anak, sehingga perlu didisain untuk mendukung kebutuhan belajar anak.
  6. Aku selalu mengajak Une membuat activity plan setiap harinya. Since I’m a type A person (sorry kid!), buatku sudah jadi menu wajib setiap hari untuk menyusun kegiatan apa yang akan aku lakukan esok hari. Dan memang, secara tidak sadar akhirnya hal ini tertular pada Une. Dari usia 3 tahun, Une selalu bertanya padaku, “Besok Une ngapain?” Awalnya aku ketawa karena menurutku hal ini lucu banget. Mungkin Une merasa aku adalah manager yang mengatur semua kegiatannya, hahahaha. Tapi, aku selalu jawab dan aku jelaskan secara rinci kegiatannya di hari esok apa saja. Sekarang, setiap malam sebelum tidur, Une sudah bisa merancang sendiri kegiatan yang mau dia lakukan esok hari. Bahkan kalau kami pergi ke mall pun, Une sudah bisa atur kami akan mampir ke mana saja. LOL. “Jadi ya Bu, besok kan Une bangun, terus sarapan, terus mandi, pakai baju dan sepatu, ke sekolah deh. Terus di sekolah, Une mau blablabla…” Panjaaang sekali rencananya 😀
  7. Aku selalu memuji Une ketika berhasil menjalankan tanggung jawabnya. Pernah suatu hari, Une lupa bawa marching bells ke sekolah. Aku dan mbaknya Une pun lupa. Une baru ingat ketika sudah di jalan menuju sekolah, langsung dia cek ke bagasi ternyata marching bells-nya ketinggalan. Akhirnya, dia minta Om Coki (hari itu lagi dianter omnya ke sekolah) muter balik lagi ke rumah untuk ambil marching bells-nya. Sampai hari ini entah mengapa aku selalu amazed kalau ingat kejadian ini. Anak umur 5 tahun lho ini.. Dulu apalah aku pas TK, apa-apa disiapin sama Uma atau mbakku. Kalau ada yang ketinggalan juga nggak akan ngeh, kalau dimarahin karena ada yang ketinggalan paling diam aja. Hehe. Tapi berbeda dengan Une, what a good job! Pada saat itu, aku langsung peluk dan puji Une. “Ibu bangga sama Une. Une bertanggung jawab dengan tugas Une. Good job, sayang!” 🙂

Yup, I think that’s all untuk menjawab pertanyaan via DM IG kemarin. Terimakasih banyak untuk semua yang sudah bertanya, semoga bermanfaat yah! Kalau ada yang mau sharing juga boleh banget lho. Tulis di bawah ini ya. Happy long weekend and have a goodnight! 😀

 

 

 

Always Love,

Aninda — The-A-Family

 

4,873 total views, 1 views today

The-A-Family

A family that starts with an A.

4,874 total views, 2 views today

Other posts

  • Aslm kak ninda , suka banget baca parenting nya mulai awal une msih baby smpe ngefans ma une , terlebih aqu bs terapin sedikit yg di parenting kak ninda ke anak aku mudah2 ngak bosen bosen shering soal une dan parentingnya krn itu masukan besar buat aku hehehhee ….. minta di bals yah kak ninda
    Salam syg buat abang une udah gede sekrng 😘😘😘 salam kenal dri onty bundazzam 😃🧕

    • Thank you sayang sudah baca blog-ku. Semoga terus bisa bermanfaat buat kamu ya, hehehe. Much love from us for Azzam ya, Bunda 😀

  • COMMENTS (2)

    1. Arnie fitriyanti /bunda azzam 26th February 2018 at 11:12 am -

      Aslm kak ninda , suka banget baca parenting nya mulai awal une msih baby smpe ngefans ma une , terlebih aqu bs terapin sedikit yg di parenting kak ninda ke anak aku mudah2 ngak bosen bosen shering soal une dan parentingnya krn itu masukan besar buat aku hehehhee ….. minta di bals yah kak ninda
      Salam syg buat abang une udah gede sekrng 😘😘😘 salam kenal dri onty bundazzam 😃🧕

      Reply
      • The-A-Family 27th February 2018 at 8:02 am

        Thank you sayang sudah baca blog-ku. Semoga terus bisa bermanfaat buat kamu ya, hehehe. Much love from us for Azzam ya, Bunda 😀

        Reply

    Leave a Reply