img_4711.jpg

Parenting: Pengalaman Menyusui

The next chapter setelah hamil dan melahirkan adalah menyusui. Buatku pribadi, menyusui adalah the most challenging chapter ever. Dalam pengalamanku, dibandingkan dengan hamil dan melahirkan, masa menyusui ini jauh lebih drama. So, happy reading! πŸ™‚

Une’s Story

Pengalaman menyusui Une ini banyak banget up and down-nya udah kayak naik rollercoaster. Alhamdulillah, begitu Une lahir, ASI-ku sudah keluar. Une sangat aktif menyusu dan entah karena disusui berkali-kali atau karena posisi menyusu yang salah, putingku kiri-kanan luka. Karena luka tersebut, aku sampai meriang segala. Panik nggak karuan, aku diberitahu sepupuku untuk pakai kamillosan (obat yang dioleskan ke puting yang luka saat menyusui). Alhamdulillah membaik, walaupun masih sakit ketika disusui.

Sampailah tiba di hari ke-5 setelah Une lahir. Saat itu, suami lagi ke luar kota dan ibuku sedang ikut ayah dinas di luar kota juga, yang tersisa hanya aku dan Une ditemani ART. Une yang masih merah itu nggak berhenti menangis dan maunya menyusu terus padahal sudah tengah malam. Akhirnya putingku luka lagi dan aku meriang lagi. Aku nggak kuat dan rasanya pingin banget menyerah. Kondisi tubuh amburadul, kondisi psikis ikutan nyungsep. Une nangis, aku jadi ikutan nangis. Ketika aku cek, ASI-ku ternyata nggak keluar (mungkin karena aku ikutan stress). Karena nggak tahu harus gimana, akhirnya Une aku peluk sampai kami berdua tertidur ― belakangan aku baru tahu kalau saat itu Une mengalami growth spurt.

Setelah kejadian itu, aku mulai paham kalau ASI erat kaitannya dengan kebahagiaan dan ketenangan ibu. Jadi aku berusaha untuk mengontrol diriku sendiri agar produksi ASI tidak menurun. Aku juga ikut-ikutan minum ASI booster (akan aku bahas di bawah).

Baru juga merasa percaya diri bisa memberikan ASI yang cukup untuk Une, tiba-tiba muncullah foto-foto freezer yang penuh berisikan ASIP. Duh kepingin. Belum lagi dengar teman-teman yang cerita kalau sekali memompa ASI bisa sampai 100-120ml. Duh tambah kepingin. Akhirnya aku coba beli breastpump, yaitu Medela Swing (pas jaman Une dulu ini udah yang paling oke). Begitu aku coba… ASI-ku nggak keluar. Coba lagi… Cuma ngebasahin pantat botol doang. Coba berkali-kali, hasilnya nggak berubah. Sekalinya naik pun hanya sampai 30ml hasil tertingginya. Kesal banget rasanya.. Kepercayaandiriku bisa memberikan ASI buat Une seketika terjun bebas lagi.

Dari situ aku tahu, mungkin ASI-ku tidak bisa dipompa, tapi kalau disusui langsung / direct breastfeeding (DB), alhamdulillah langsung keluar banyak. That’s why,Β aku perlu terus mengajak Une kemanapun aku pergi, terutama dalam 6 bulan pertama ini. Bahkan sampai bimbingan skripsipun aku bawa-bawa, demi bisa DB.

Kelar urusan mompa-memompa, muncul lagi drama baru. Menurut orang-orang yang lebih dahulu punya bayi, ASI-ku ini encer dan nggak bakal bikin anak gemuk. Mulai deh muncul ajakan, “Minum susu formula aja biar anaknya gemuk.” What? Sempat kesal karena omongan orang-orang ini ― yang mungkin mereka ucapin hanya sepintas lalu dan nggak niat mau nyakitin juga ― akhirnya berdampak ke merosotnya kepercayaandiriku dalam hal menyusui lagi. Pret. Apalagi memang faktanya dulu Une nggak gemuk, bahkan berat badannya selalu nyaris keluar garis kurva terbawah. Nggak mau pasrah begitu aja, aku mulai cari tahu kenapa ASI bisa encer ― biar bisa ngejawab kalau ada orang yang mulai komen sotoy lagi. Akhirnya ketemu! ASI yang dibilang encer ini namanya foremilk, biasanya keluar setiap awal menyusui. Foremilk ini bagus untuk otak anak karena mengandung laktosa dan protein yang tinggi (sedangkan yang untuk lemak tubuh anak namanya hindmilk). Nggak apa-apalah, toh alhamdulillah nggak ada masalah lain selain berat badan Une yang rendah. Di satu sisi alhamdulillah sekarang Une jadi pintar berkat foremilk! πŸ˜€ *cheers*

By the way, benarΒ ya kata orang-orang, anak laki-laki itu menyusunya banyak sekali. Sering banget aku sakit punggung karena Une nggak berhenti menyusui. Duh, rasanya punggung mau copot.Β Plus, nggak sabaran… Maunya begitu dia haus, langsung disusui. Jadilah kemana-mana bawa apron. Seru deh pengalaman menyusui Une, memang nggak mudah dan banyak rempongnya (apalagi aku harus bawa Une ikut aku kemana-hanya demi DB), but I loved it! It’sΒ the art of breastfeeding.

Alhamdulillah, setelah melewati banyak drama dan kasih sayang, Une bisa lulus S3 ASI. Une disapih saat usianya 2 tahun 2 bulan. Saat disapih, menurutku Une sudah cukup siap ya, eh malah akunya yang galau. Benar-benar nggak mau kehilangan momen DB bersama Une πŸ™ Untuk proses menyapihnya sendiri, sebelum Une berusia 2 tahun, aku selalu mengedukasi dia bahwa nanti di umur 2 tahun sudah tidak boleh menyusu lagi karena Une is a big boy. Une mengerti. Tapi karena aku masih galau, selama 2 bulan setelah Une ulangtahun yang kedua, aku masih maju-mundur dan belum tahu akan menyapih dengan cara apa. Tetiba aku dapat ide setelah baca-baca forum, yaitu menggambar tompel-tompel di payudara dengan menggunakan spidol marker. Aku bilang pada Une bahwa aku sedang sakit ― LOL! πŸ˜€ ― dan mau nggak mau Une nggak bisa disusui lagi. Alhamdulillah, Une ngerti lho… Bahkan dia malah bilang, “Oh ya udah, nggak apa-apa Ibu. Ibu cepet sembuh ya.” Hahahahahaha, anak Ibu gemes deh…

Ayra’s Story

Jika dibandingkan dengan pengalaman Une dulu, menyusui Ayra is a waaaaay easier. Dari awal lahir, Ayra sudah pintar menyusunya dan putingku pun tidak pernah luka. Kalau menurutku, Ayra tipe yang cepat kenyang tapi cepat lapar lagi. Berat badan Ayra sejauh ini normal dan nggak berada di garis kurva terbawah kayak abangnya dulu, yeaaay!

Just like miracle, alhamdulillah sekarang ASI-ku bisa dipompa. Alhamdulillah, 30ml yang dulu hasil tertinggi sekarang bisa jauh di atas 30ml. Alhamdulillah, bisa sampai berbagi dan sekarang ada saudara persusuannya Ayra. Senang sekali rasanya, seperti berbalik 180 derajat dibandingkan pengalaman menyusui yang terdahulu πŸ™‚

Berbeda dengan Une yang nggak pernah kolik, Ayra did. Akupun perlu trial and error akan makanan/minuman apa saja yang membuat Ayra kolik, karena ‘kan zat dari makanan/minuman itu mengalir melalui ASI. Untuk dairy products sepertinya masih aman karena Ayra nggak pernah menunjukkan kolik setelah aku makan/minum dairy products. But for caffeine products, jangan harap deh. Walaupun sedikit aku minum teh atau kopi, pasti langsung berefek ke Ayra. Hehehe… Lagi-lagi beda anak, beda pula treatment perASIannya. Semoga makin besar makin toleran ya Nak sama kafein, Ibu udah nggak sabar minum kopi.. :p


Kind of ASI booster I have tried…

ASI booster ini sifatnya hanya suplemen atau tambahan saja ya. Sehari-hari aku tetap makan makanan lengkap (karbo, lauk pauk, sayur, dan buah), juga minum banyak air putih. Sebenarnya yang penting kita happy dengan apa yang kita makan/minum, itu juga sudah merupakan ASI booster kok! πŸ˜€

Nah, ini yaaa daftar ASI booster yang pernah aku coba dari zaman Une sampai sekarang zaman Ayra:

  1. Lancar ASI (Une) ― berbentuk tablet dan berbahan alami (jamu). Efeknya: seingatku cocok di aku, sampai baju jadi ikut-ikutan basah karena ASI.
  2. Mama Soya (Une) ― berbentuk susu kedelai bubuk yang perlu diseduh sendiri. Efeknya: ini bagus! Rasanya pun enak, tapi memang perlu di-mix lagi dengan gula atau madu.
  3. Earth Mama Angel Baby Organic Milkmaid Tea (Une) ― berbentuk teh yang perlu diseduh sendiri. Efeknya: baru sekali minum habis itu nggak aku minum lagi πŸ™ Sorry, but I didn’t like the taste. Jadi nggak bisa kasih komen apa-apa terkait produk ini. Huhuhu πŸ™
  4. Milmor (Ayra) ― berbentuk pil kecil. Efeknya: ini juga bagus, aku dapat dari rumah sakit tempatku melahirkan. Tapi saat ini lagi stop,Β karena kebetulan stok di rumah habis dan sekarang coba ASI booster lain.
  5. Numdrinks (Ayra) ― minuman kacang hijau siap minum. Efeknya: wah, ini asli bikin banjir! ASI-ku pun jadi lebih kental setelah minum ini. Rasanya juga super enak dengan banyak varian rasa (my fav is hazelnut flavor). Bisa pesan di IG: @numdrinks.
  6. Wakewake (Ayra) ― minuman daun bangun-bangun siap minum. Efeknya: bikin LDR berkali-kali! Rasanya juga segar apalagi minumnya dingin-dingin (mungkin buat sebagian orang rasanya agak aneh kali ya, tapi kalau buatku segar banget!). Bisa pesan di tokopedia, search aja: Wakewake Drinks.
  7. Mama Bear (Ayra) ― ada dua varian: teh yang perlu diseduh sendiri dan cookies. Efeknya: kalau habis minum teh dan makan cookies ini, pasti dasterku basah karena ASI πŸ˜€ Tehnya punya rasa yang unik dan wangiii banget. Aku lebih suka minumnya selagi panas, jadi nggak perlu tambah pemanis lagi. Bahan-bahannya alami dan caffeineΒ free, jadi aman untuk Ayra. Untuk cookies-nya: juara!!! Enak banget, crunchy, dan nggak terlalu manis. Pesannya bisa lewat IG: @mamabearcoid.


My thoughts about breastfeeding…

Bagiku, jelas menyusui adalah pengalaman penuh cinta. Di dalamnya ada tanggung jawab dan pengorbanan yang besar untuk anak ― mulai dari sakit puting, punggung pegal, kurangnya waktu tidur karena harus pumping tengah malam, repot harus bawa-bawa cooler bag kemana-mana, nggak punya me-time karena harus siap nenenin anak 1×24 jam, rela nggak makan/minum favorit agar anak nggak kolik/alergi, dan masih banyak pengorbanan lainnya. Kalau cinta, pasti mau berkorban ‘kan? πŸ™‚

Dulu sebelum punya anak, aku selalu berpikir bahwa menyusui itu kegiatan satu arah (dari ibu ke anak) tanpa adanya timbal balik, ternyata aku salah besar. Melalui kegiatan menyusui, aku pribadi merasa dekaaat sekali dengan Une dan Ayra. Pengalaman penuh cinta. Tatapan dan sentuhan tangan mungilnya membuat produksi ASI semakin bertambah. Adanya rasa mereka membutuhkan aku, menyayangi aku, meminta perlindungan dariku. It’s priceless.

As my experience goes, I realized that menyusui erat sekali kaitannya dengan keyakinan bahwa aku mampu memberikan ASI yang cukup untuk anak-anakku. Jika terbersit saja, “Kayaknya hari ini aku makannya sedikit deh, pasti ASI-nya juga sedikit,” ya sudah siap-siap aja ASI-nya sedikit. You are what you think you are. Aku sering banget bersugesti bahwa ASI-ku cukup untuk anakku, dan alhamdulillah memang tercukupi ― aku selalu berdoa agak ASI-ku cukup, bukan melimpah. karena kupikir, untuk apa melimpah jika mubadzir. yang penting kebutuhan utama anakku tercukupi dengan baik πŸ™‚


My breastfeeding tips…

  1. Setiap sebelum menyusui, coba untuk selalu mengecek ulang posisi anak. Apakah sudah benar atau belum, karena hal ini akan berpengaruh pada posisi puting yang benar agar tidak sakit nantinya.
  2. Rajin membersihkan puting dan mengompres payudara dengan air hangat
  3. Kuatkan komitmen menyusui, be positive,Β dan percayaΒ bahwa ASI bisa mencukupi kebutuhan anak. Because once again, you are what you think you are πŸ™‚
  4. Tutup kuping dari perkataan orang-orang yang “menjatuhkan” ― such as: ASI encer, ASI nggak enak, anak butuh asupan dari susu formula, dsb
  5. Selalu makan/minum yang bergizi dan bila perlu bisa ditambah ASI booster
  6. Ketika sedang berada di ambang keraguan mau ASI atau tidak, selalu ingat kebaikan yang akan diberikan ASI pada anak kita ― dan ini kebaikannya beneran nyata lho, bukan hanya kata teori aja
  7. Selalu ingat pengalamanku menyusui Une, hahahaha. Yang banyak dramanya tapi akhirnya bisa kelar juga tuh sampai S3 lebih 2 bulan. Ayo, kamu juga bisa! πŸ˜€

 


Nah, that’s my breastfeeding experience! Walaupun pengalaman Ayra baru dimulai 2 bulan yang lalu, but I am sure it’ll be going as great as her brother did. InsyaaAllah! πŸ™‚

Yuk, berbagi cerita pengalaman menyusuimu juga. Ada hadiah menarik dari aku untuk 1 cerita yang terpilih, syaratnya: kamu adalah busui dan cantumkan usia anak. Ditunggu ceritanya sampai hari Sabtu, 26 Agustus 2017 pukul 21:00 ya!Β πŸ˜€

Always Love,

AnindaΒ β€” The-A-Family

6,620 total views, 3 views today

The-A-Family

A family that starts with an A.

6,621 total views, 4 views today

Other posts

  • Hai ibu nin,yg jadi idolaku,aku juga punya cerita tentang menyusui si “mas” anak pertama,sekarang sedang otw anak kedua,doakan semoga lancar ya

    Bahagia luar biasa disaat melahirkan,euforianya hanya bertahan kurang dari sehari,hehehe,setelah itu berganti kepanikan luar biasa,100 persen salah aku,kurang pengetahuan setelah melahirkan,semenjak hamil g pernah baca artikel setelah melahirkan,persiapannya stop smpe melahirkan,anak ku menangis tiada henti,mungkin kurang asi,sebenarnya asi sudah keluar sejak kehamilan 7bln,tapi lagi2 karena kurang edukasi setelah melahirkan,sepertinya posisi nya g bener saat nyusuin,ya jadi begitulah,sama2 menghasilkan luka2 tanpa anak kenyang,huft,akhirnya beli pompa,dan yang beli adalah suami,pompanya g cocok (manual) sampe tangan pegel dapatnya kurang dari 20ml,setelah aku bisa tenang cari sendiri pompanya (online) dapatlah pompa yang cocok,pd kanan aja bisa dpt 50ml,kalo anaknya bobo berlama2,sebulan kemudian prahara berganti anak ku cholic bolak balik,pencetusnya susu menyusui yg aku konsumsi dan keju2 an,beberapa saat kegalauan mereda timbul lagi,merah bentol2 sekujur badan si mas,aku dan suami memang menurunkan alergi,serbuk bunga aj aku alergi,ya lord,anakku ditengarai alergi beberapa makanan,oke aku hindari seafood setelah dairy food,dua jenis makanan sudah di jauhi sejauh2 nya,tapi masih bentol2 berlanjut ke kacang2 an,di eliminasi lagi,masih saja g hilang,dokernya menambahkan hindari ayam negri dan telur ayam,yg ayamnya makan konsentrat yg terbuat dari udang,huaaaa terus aku makan apa,hanya berkutat dengan daging sapi dan sayuran okelah demi anak,belum selesai disitu,ketika si mas 3 bulan,ad yg janggal dg PD sebelah kananku,ad tonjolan lumayan kerasa,panik lagi,datang lagi untuk periksa kedokter,setelah diraba2 si dokter mengira tumor jinak,anak dititipin uti nya,suami kerja,aku sesenggukan sendiri dirumah sakit,karena langsung dirujuk untuk ke onkologi,setelah diambil sampel oleh dokternya,ttp nunggu lagi smbil air mata berderai,sebodo amat sama sekitar.
    Dan ternyata hasilnya adalah bendungan air susu yg ada infeksinya,aku salah posisi dan aku mmng pencet si PD kanan agar tidak menutup hidung si mas,dan bla2,oke berlanjut menyusui dengan bahagia,PD kanan kalau dipompa bisa menghasilkan 180ml kiri sekitar 100 ml saja,menyusui sama dengan membagi semua yang ibu punya ke si anak,termasuk energi dan imunitas,entahlah ad ap dengan tubuhku,memang sudah punya struktur gigi geraham yang salah posisi numbuh,kata dokter gigi asal badan fit kegigit di dinding dalam pipi g masalah,tapi saat menyusui subhanallah gigi geraham kanan kiri atas bawah berkontribusi memporak porandakan dinding mulut,luka menganga,hampir opsi untuk oprasi keempatnya,tapi lagi2 karena menyusui tidak boleh antibiotik,sedangkan kalau semua dicabut harus banyak anti biotik,(kata dokternya),lagi lagi ditahan demi anak,alhamdulillah setelah sebulan membaik.
    Berlanjut ketika anak berusia 8bln,karena pinginnya anak sehat gendut,makan daging sapi saja bosen luar biasa,merambatlah ke jeroan sapi,otak,Dll,termasuk makan belut,hasilnya air susu kental sekali,tapi buruk buat aku,suatu hari tiba2 seperti orang lumpuh,g bisa berdiri kaki senut2 luar biasa,ternyata kolesterol dan asam urat ku diatas angka toleransi,tinggi bgt!! Masuk ugd,wahhaaa dan efeknya sampai sekarang ketika si mas sudah besar begitu kena jeroan,pusing tuing2,dan percaya menyusui itu sangat indah ketika si anak amat dekat dengan ibu,bagaimanapun berlikunya jalan kebenaran huahaha.
    Sekarang si mas 3tahun,aku hampir 28 tahun,ibu rumah tangga seutuhnya,menantikan hadirnya personil baru insyallah 4 bulan lagi,dengan persiapan tempur yang sangat mantap,terutama hati hhihi.

  • Hi ibu Ninda, terima kasih pengalamannya, karna membaca hasil sharing pengalaman para pejuang ASI seperti ini menjadi bagian dari booster ASIku. Perkenalkan, aku inda, ibu yang sangat baru. Anakku, Safa namanya, bahkan belum genap berusia sebulan. Tapi perjuangan kami berdua dan ayahnya sudah cukup panjang rasanya. Alhamdulillah asiku sudah keluar dihari pertama Safa lahir, hanya flat nipple membuatnya sulit menyusui, tapi suster dan para bidan di RS tempat aku melahirkan tidak pernah putus asa membantuku, jam berapapun aku menyusui mereka hadir membantu. Semangatku terpompa kembali melihat para suster yang selalu meyakinkanku untuk terus belajar, karena menurutnya Safa termasuk bayi yang kuat menyusui, dan itu baik untuk kesehatannya, aku sebagai ibunya merasa sebagai satu-satunya pahlawan yang harus membantunya memenuhi kebutuhan Asi untuknya. Akhirnya struggle dalam latching setiap akan menyusui selalu coba kami nikmati. Namun pada hari ke 5 setelah kelahiran Safa, cobaan lain hadir, Safa muntah-muntah, delapan kali sudah dan akhirnya kami bawa kembali ke rumah sakit, sembari menunggu DSA datang anakku diperiksa dokter igd, tanpa paham alasannya kenapa aku harus menerima anakku harus dirawat di ruang NICU level 1, lengkap dengan infus, dan selang dimulutnya (aku lupa namanya) katanya untuk membantu mengeluarkan gas dari lambungnya. Aku tidak banyak tahu saat itu, semua informasi dari para medis dibicarakan pada suamiku yang kebetulan seorang dokter juga. Aku hanya disuruh menandatangani kertas-kertas yg isinya persetujuan segala jenis pemeriksaan dari mulai darah, feses, hingga foto. Tidak bisa kudeskripsikan apa rasanya isi dada dan otakku, menangis sejadi-jadinya, hanya itu yang mampu kulakukan. Namun begitu DSA anakku tiba dan selesai memeriksa Safa, dia mendatangiku dan hanya mengatakan “Safa memiliki masalah pada pencernaannya, Safa tidak bisa berjuang sendiri, dia butuh ASI ibunya, pencernaan Safa belum siap bekerja sekuat keinginannya menyusu dan kalau ibu stress dan Asi ibu tidak keluar maka Safa harus dibantu dengan Sufor dan saya benar-benar tidak merekomendasi itu terjadi, karna itu berarti usus dan pencernaan Safa harus bekerja lebih keras lagi”. Mendengar kalimat malah membuat saya semakin tidak karuan, cobaan apalagi ini, sulit rasanya melogika kan maksud ‘tidak stres’ setelah melihat anak pertamaku berumur 5 hari masuk nicu, diinfus, dipasang selang di bibirnya, diperiksa segala macam darah, feses, foto. Tapi sejam kemudian pihak suster nicu memanggil mengajak untuk melakukan pumping, karena keadaan Safa tidak memungkinkan direct breastfeeding. Dan hasil pompaku mengejutkan, hanya 30ml. Padahal saat dirumah setelah safa minumpun aku sering mengosongkan PDku dan mendapatkan 100-120ml. Dan suster memintaku untuk menandatangani kertas persetujuan pemberian sufor, dan mengingat kembali kalimat DSA tadi membuatku tidak bersedia menandatangani kertas itu dan meminta waktu satu jam untuk kembali pumping. Satu jam iti kugunakan untuk berdoa memohon ampun atas kesalahanku dan mengikhlaskan cobaan ini, lalu memberi kabar pada orangtuaku dan sekaligus memohon doa dari mereka yang kebetulan tengah berada di Mekkah untuk ibadah Haji, dan terakhir makan dan minum sebanyak dan sesehat yang ku mampu. Setelah hal tersebut kulakukan aku kembali pumping dan mendapatkan 60ml. Ikhtiar itu kulakukan setiap jam, pumping berapapun hasilnya, demi anakku, aku ibunya, ASIku obatnya, Safa butuh aku. Hal tersebut kutanamkan dalam pikiranku, suamikupun terus membantu memijit dan menenangkanku. Dan alhamdulillah. Safa sudah pulang ke rumah sekarang, dengan semangat menyusui yang tidak berkurang, walau cobaan tetap ada, yaitu PD kananku radang, entah apa masalahnya, meriang, demam masih sering terasa menurut dokter obgynku benjolan ini masih bisa hilang dengan dikompres dan terus menyusui. dan benar saja, ajaibnya setiap Safa direct breastfeeding meriangku hilang, dan demamku turun. Benjolan sumbatan ASI ini memang besar namun tidak cukup besar untuk menyurutkan niat untuk terus menyusui. Sungguh cinta, dan saling membutuhkan dalam menyusui benar kurasakan. Pencernaan safa membaik dengan ASIku, dan meriang serta demam karena sumbatan ASIku berkurang saat menyusui Safa. #salampejuangASI

  • COMMENTS (2)

    1. Indalestari 12th September 2017 at 10:03 pm -

      Hi ibu Ninda, terima kasih pengalamannya, karna membaca hasil sharing pengalaman para pejuang ASI seperti ini menjadi bagian dari booster ASIku. Perkenalkan, aku inda, ibu yang sangat baru. Anakku, Safa namanya, bahkan belum genap berusia sebulan. Tapi perjuangan kami berdua dan ayahnya sudah cukup panjang rasanya. Alhamdulillah asiku sudah keluar dihari pertama Safa lahir, hanya flat nipple membuatnya sulit menyusui, tapi suster dan para bidan di RS tempat aku melahirkan tidak pernah putus asa membantuku, jam berapapun aku menyusui mereka hadir membantu. Semangatku terpompa kembali melihat para suster yang selalu meyakinkanku untuk terus belajar, karena menurutnya Safa termasuk bayi yang kuat menyusui, dan itu baik untuk kesehatannya, aku sebagai ibunya merasa sebagai satu-satunya pahlawan yang harus membantunya memenuhi kebutuhan Asi untuknya. Akhirnya struggle dalam latching setiap akan menyusui selalu coba kami nikmati. Namun pada hari ke 5 setelah kelahiran Safa, cobaan lain hadir, Safa muntah-muntah, delapan kali sudah dan akhirnya kami bawa kembali ke rumah sakit, sembari menunggu DSA datang anakku diperiksa dokter igd, tanpa paham alasannya kenapa aku harus menerima anakku harus dirawat di ruang NICU level 1, lengkap dengan infus, dan selang dimulutnya (aku lupa namanya) katanya untuk membantu mengeluarkan gas dari lambungnya. Aku tidak banyak tahu saat itu, semua informasi dari para medis dibicarakan pada suamiku yang kebetulan seorang dokter juga. Aku hanya disuruh menandatangani kertas-kertas yg isinya persetujuan segala jenis pemeriksaan dari mulai darah, feses, hingga foto. Tidak bisa kudeskripsikan apa rasanya isi dada dan otakku, menangis sejadi-jadinya, hanya itu yang mampu kulakukan. Namun begitu DSA anakku tiba dan selesai memeriksa Safa, dia mendatangiku dan hanya mengatakan “Safa memiliki masalah pada pencernaannya, Safa tidak bisa berjuang sendiri, dia butuh ASI ibunya, pencernaan Safa belum siap bekerja sekuat keinginannya menyusu dan kalau ibu stress dan Asi ibu tidak keluar maka Safa harus dibantu dengan Sufor dan saya benar-benar tidak merekomendasi itu terjadi, karna itu berarti usus dan pencernaan Safa harus bekerja lebih keras lagi”. Mendengar kalimat malah membuat saya semakin tidak karuan, cobaan apalagi ini, sulit rasanya melogika kan maksud ‘tidak stres’ setelah melihat anak pertamaku berumur 5 hari masuk nicu, diinfus, dipasang selang di bibirnya, diperiksa segala macam darah, feses, foto. Tapi sejam kemudian pihak suster nicu memanggil mengajak untuk melakukan pumping, karena keadaan Safa tidak memungkinkan direct breastfeeding. Dan hasil pompaku mengejutkan, hanya 30ml. Padahal saat dirumah setelah safa minumpun aku sering mengosongkan PDku dan mendapatkan 100-120ml. Dan suster memintaku untuk menandatangani kertas persetujuan pemberian sufor, dan mengingat kembali kalimat DSA tadi membuatku tidak bersedia menandatangani kertas itu dan meminta waktu satu jam untuk kembali pumping. Satu jam iti kugunakan untuk berdoa memohon ampun atas kesalahanku dan mengikhlaskan cobaan ini, lalu memberi kabar pada orangtuaku dan sekaligus memohon doa dari mereka yang kebetulan tengah berada di Mekkah untuk ibadah Haji, dan terakhir makan dan minum sebanyak dan sesehat yang ku mampu. Setelah hal tersebut kulakukan aku kembali pumping dan mendapatkan 60ml. Ikhtiar itu kulakukan setiap jam, pumping berapapun hasilnya, demi anakku, aku ibunya, ASIku obatnya, Safa butuh aku. Hal tersebut kutanamkan dalam pikiranku, suamikupun terus membantu memijit dan menenangkanku. Dan alhamdulillah. Safa sudah pulang ke rumah sekarang, dengan semangat menyusui yang tidak berkurang, walau cobaan tetap ada, yaitu PD kananku radang, entah apa masalahnya, meriang, demam masih sering terasa menurut dokter obgynku benjolan ini masih bisa hilang dengan dikompres dan terus menyusui. dan benar saja, ajaibnya setiap Safa direct breastfeeding meriangku hilang, dan demamku turun. Benjolan sumbatan ASI ini memang besar namun tidak cukup besar untuk menyurutkan niat untuk terus menyusui. Sungguh cinta, dan saling membutuhkan dalam menyusui benar kurasakan. Pencernaan safa membaik dengan ASIku, dan meriang serta demam karena sumbatan ASIku berkurang saat menyusui Safa. #salampejuangASI

      Reply
    2. andriana lestari 23rd August 2017 at 9:02 pm -

      Hai ibu nin,yg jadi idolaku,aku juga punya cerita tentang menyusui si “mas” anak pertama,sekarang sedang otw anak kedua,doakan semoga lancar ya

      Bahagia luar biasa disaat melahirkan,euforianya hanya bertahan kurang dari sehari,hehehe,setelah itu berganti kepanikan luar biasa,100 persen salah aku,kurang pengetahuan setelah melahirkan,semenjak hamil g pernah baca artikel setelah melahirkan,persiapannya stop smpe melahirkan,anak ku menangis tiada henti,mungkin kurang asi,sebenarnya asi sudah keluar sejak kehamilan 7bln,tapi lagi2 karena kurang edukasi setelah melahirkan,sepertinya posisi nya g bener saat nyusuin,ya jadi begitulah,sama2 menghasilkan luka2 tanpa anak kenyang,huft,akhirnya beli pompa,dan yang beli adalah suami,pompanya g cocok (manual) sampe tangan pegel dapatnya kurang dari 20ml,setelah aku bisa tenang cari sendiri pompanya (online) dapatlah pompa yang cocok,pd kanan aja bisa dpt 50ml,kalo anaknya bobo berlama2,sebulan kemudian prahara berganti anak ku cholic bolak balik,pencetusnya susu menyusui yg aku konsumsi dan keju2 an,beberapa saat kegalauan mereda timbul lagi,merah bentol2 sekujur badan si mas,aku dan suami memang menurunkan alergi,serbuk bunga aj aku alergi,ya lord,anakku ditengarai alergi beberapa makanan,oke aku hindari seafood setelah dairy food,dua jenis makanan sudah di jauhi sejauh2 nya,tapi masih bentol2 berlanjut ke kacang2 an,di eliminasi lagi,masih saja g hilang,dokernya menambahkan hindari ayam negri dan telur ayam,yg ayamnya makan konsentrat yg terbuat dari udang,huaaaa terus aku makan apa,hanya berkutat dengan daging sapi dan sayuran okelah demi anak,belum selesai disitu,ketika si mas 3 bulan,ad yg janggal dg PD sebelah kananku,ad tonjolan lumayan kerasa,panik lagi,datang lagi untuk periksa kedokter,setelah diraba2 si dokter mengira tumor jinak,anak dititipin uti nya,suami kerja,aku sesenggukan sendiri dirumah sakit,karena langsung dirujuk untuk ke onkologi,setelah diambil sampel oleh dokternya,ttp nunggu lagi smbil air mata berderai,sebodo amat sama sekitar.
      Dan ternyata hasilnya adalah bendungan air susu yg ada infeksinya,aku salah posisi dan aku mmng pencet si PD kanan agar tidak menutup hidung si mas,dan bla2,oke berlanjut menyusui dengan bahagia,PD kanan kalau dipompa bisa menghasilkan 180ml kiri sekitar 100 ml saja,menyusui sama dengan membagi semua yang ibu punya ke si anak,termasuk energi dan imunitas,entahlah ad ap dengan tubuhku,memang sudah punya struktur gigi geraham yang salah posisi numbuh,kata dokter gigi asal badan fit kegigit di dinding dalam pipi g masalah,tapi saat menyusui subhanallah gigi geraham kanan kiri atas bawah berkontribusi memporak porandakan dinding mulut,luka menganga,hampir opsi untuk oprasi keempatnya,tapi lagi2 karena menyusui tidak boleh antibiotik,sedangkan kalau semua dicabut harus banyak anti biotik,(kata dokternya),lagi lagi ditahan demi anak,alhamdulillah setelah sebulan membaik.
      Berlanjut ketika anak berusia 8bln,karena pinginnya anak sehat gendut,makan daging sapi saja bosen luar biasa,merambatlah ke jeroan sapi,otak,Dll,termasuk makan belut,hasilnya air susu kental sekali,tapi buruk buat aku,suatu hari tiba2 seperti orang lumpuh,g bisa berdiri kaki senut2 luar biasa,ternyata kolesterol dan asam urat ku diatas angka toleransi,tinggi bgt!! Masuk ugd,wahhaaa dan efeknya sampai sekarang ketika si mas sudah besar begitu kena jeroan,pusing tuing2,dan percaya menyusui itu sangat indah ketika si anak amat dekat dengan ibu,bagaimanapun berlikunya jalan kebenaran huahaha.
      Sekarang si mas 3tahun,aku hampir 28 tahun,ibu rumah tangga seutuhnya,menantikan hadirnya personil baru insyallah 4 bulan lagi,dengan persiapan tempur yang sangat mantap,terutama hati hhihi.

      Reply

    Leave a Reply