IMG_2762

#TheAGetaway 01: SG (+ 3rd Trimester Travel Tips)

As you might know, I feel this pregnancy is much easier than the previous one. Alhamdulillah, tidak ada keluhan fisik dan psikis yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hariku. Nah, karena merasa all was fine (dan diizinkan juga oleh dokter kandunganku), akhirnya aku memutuskan untuk pergi sebentar ke SG di kehamilanku yang ke 29 minggu.


What We Do?

Kami hanya pergi berempat (aku, suamiku, Une, dan si dedek dalam perut). Seperti biasa, saat traveling kami hanya membawa satu koper besar dan satu backpack milik Une. Tidak lama, kami hanya 3 hari 2 malam di SG dan menurut kami itupun sudah cukup 🙂

Kami menginap di Grand Park Orchard HotelWhy? Simply, karena tempatnya strategis berada di tengah-tengah Orchard Road jadi memudahkan bumil ini untuk jalan-jalan. Selain itu, kamar hotelnya sendiri memang nyaman untuk kami bertiga. Kami pilih tipe kamar deluxe. Yang super happy sih si Une, karena ada bathtub jadi dia bisa berendam setelah kami berpergian. Untuk transportasi selama di sana, kami memilih untuk naik Uber/Grab/taxi. Lagi-lagi agar memudahkan bumil, hehehe. Kalau naik MRT pasti akan cepat habis tenagaku 😀

Day 1

Begitu sampai di SG, kami langsung menuju hotel. Saat itu sekitar pukul 11:30 dan hamdallah bisa langsung check-in. Setelah menaruh barang-barang di kamar dan sholat, kami makan siang di Zam Zam Restaurant – Arab St. Kami pesan beef murtabak dan mutton briyani, enaaak banget! Memang sejak dari Jakarta, kepingin banget makanan ini. Beef-nya banyak dan mutton-nya lembut banget. *dan sambil ngetik ini jadi kepingin lagi. bhay.*

Setelah makan, aku janjian sama temanku yang kebetulan tinggal di SG. Namanya Dyana, sama-sama seorang ibu juga sekaligus sohib sepergosipanku dari zaman Une bayi dulu. Dyana ditemani suami plus dua anaknya. Setelah bergabung dengan Dyana n fam, kami jalan kaki ke Haji Ln. Seperti yang sudah aku duga, Haji Ln. ramai sama orang Indonesia, hahahaha.. Akhirnya, kami tidak berlama-lama di sana, selain memang paciweuh (hayo artinya apa ini? ehe-ehe-ehe) ditambah panas juga, so kami beralih ke Garden by The Bay.

Seingatku kami sampai di Garden by The Bay itu sudah sore, sekitar pukul 16:00 kali ya. Memang dari awal aku tidak berniat untuk masuk ke flower dome, cloud forest, etc, karena aku tahu suami dan Une pasti akan bosan 😀 Ditambah pada saat itu tiba-tiba cuaca mendung dan berangin, kayaknya memang tidak diizinkan berlama-lama di sana. Akhirnya kami cuma foto-foto sebentar sembari berjalan kaki menuju Marina Bay Sands. Bumil nggak capek ya jalan terus? Alhamdulillah, nggak sama sekali! Bayiku ini sepertinya malah super happy dan sangat anteng, pokoknya nggak ada keluhan deh. Thank you, beb! *ngomong sama baby 😀 *

Sesampainya di Marina Bay Sands, kami ngopi-ngopi dan cemil-cemil dulu di The Coffee Bean Beanstro. Aku senang banget bisa ngobrol berfaedah lagi dengan Dyana, Une juga hepi berat bisa main lari sana-sini dengan Alisha (anaknya Dyana yang kebetulan memang seusia dengan Une). Setelah ngopi-cemil dan sempat foto-foto sebentar, kamipun berpisah. Aku, suamiku, dan Une kembali ke hotel karena besok pagi kami akan berpetualang lagi. Yay!

IMG_1735
Day 1 highlights! Mulai dari nasi briyani sampai Alisha yang selalu pingin ikutan di foto keluarga Une 😀

Day 2

Today’s gonna be a looong day! Kami (berniat) bangun pagi (walaupun ternyata nggak pagi-pagi banget huh!) dan bersiap ke Vivo City, karena hari ini giliran kami jalan-jalan ke S.E.A Aquarium – Sentosa. Horray, Une dan ayahnya super semangat! Hahahaha.. Begitu sampai di Vivo City, kami isi amunisi dulu alias brunch (kami sampai di sana sekitar pukul 11:00). Setelah makan, we were heading to S.E.Apastinya dengan monorail dari Vivo City ke Sentosa. Kebetulan memang aku sudah beli tiket online S.E.A sejak dari Jakarta, jadi sampai di sana tidak repot antri dan beli lagi.

Kok ke S.E.A Aquarium sih? Kenapa nggak ke USS aja? Well, karena suamiku dan Une tergila-gila banget sama ikan dan spesies hewan laut lainnya, menurutku kayaknya lebih pas diajak ke S.E.A. Ternyata benar, waktu aku tanya ke mereka pilih S.E.A atau USS dengan kompaknya mereka pilih S.E.A! Hehehehe.. Setelah aku pikir-pikir, kalau Une ke USS juga belum tentu dia bisa main di permainannya. Yang ada hanya foto-foto kemudian pulang, huh sayang banget ‘kan. Apalagi harga tiket S.E.A and USS lumayan jauh bedanya, wkwkwk ibu-ibu banget. So ya, lebih baik S.E.A-lah ada faedahnya pasti untuk Une dan ayahnya 😀

Di S.E.A, Une dan ayahnya nggak habis-habis membahas soal ikan, karakteristiknya, jenis-jenisnya, makanannya, cara punya anaknya (bereproduksi maksudnya 😛 ). Suamiku ini memang suka banget-banget-banget dengan ikan dan spesies hewan laut lainnya. Senang banget iseng-iseng bikin akuarium ikan laut sendiri di rumah, sampai rela bolak-balik pasar ikan hias karena hobinya itu. Nah karena hobi ayahnya itu, Une lama-kelamaan jadi akrab juga dengan ikan dan teman-temannya. Jadi, mereka happy banget ke S.E.A ini. I admit it, memang bagus sekali sih S.E.A ini. Buatku yang memang nggak ngerti seputar perikanan dan teman-temannya saja, tempat ini masih bisa menghibur. Oh ya, tugasku jadi beralih ke foto-fotoin Une dan ayahnya deh, hehehe.. Sempat juga beberapa kali suamiku bilang, “Nin, fotoin akuarium yang itu ya. Nanti aku mau bikin kayak gitu di rumah.” Weeey mantap! Hahahaha 😀

Setelah puas berpetualang di dalam S.E.A, pas kami keluar ternyata di luar hujaaaaan lebat! Wah sempat bingung tuh, apalagi jadwal kami hari itu memang padat. Kalau hanya duduk-duduk menunggu hujan reda kok sepertinya wasting time sekali ya… Akhirnya kami nekat menerobos hujan dan mampir dulu di Candylicious. Di Candylicious, Une beli cokelat untuk teman-teman sekelasnya, kalau ibunya apa lagi kalau bukan beli jellybeans 😛

Sesampainya kembali ke Vivo City, kami langsung mencari toko squishy. Yup, Une kepingin banget squishy dan tahu kalau di mall ini ada toko squishy, so mintalah dia. Ayahnya Une yang selama ini nggak tahu berapa harga squishy langsung kaget pas tahu squishy sekecil itu harganya lumayan banget, hahahaha langsung pasang tampang heran dia 😛 Tapi nggak apa-apalah selama squishy-nya yang slow rising(bukan slow response ya, itu mah online shop. jayus ah. iya tau.), soalnya gemes juga buat ditekan-tekan. *sekarang nasib squishy tersebut sudah pocel di banyak bagian, ya iyalah Une maininnya ala-ala anak laki yang dipencet-dilempar-didudukin. hadoooh…*

Selesai beli squishy, kami mampir di Garrett popcorn dan Irvins salted egg. Kalau Garrett mungkin sudah tidak aneh lagi ya, tapi setahuku Irvins ini termasuk salah satu yang lagi hits. Irvins ini snack dengan rasa telur asin – favoritnya suamiku banget deh kalau sudah bawa-bawa telur asin. Alhamdulillah, waktu itu kami belinya tidak antri dan dapat kedua varian snack-nya (potato chips and fish skin), padahal kalau lihat di Instagram kayaknya bisa antri banget dan banyak orang yang kehabisan, terutama fish skin-nya. Well, lucky us!

Sepulang dari Vivo City, kami kembali menuju hotel. Saat itu hari sudah sore, sekitar pukul 16:00. Tadinya kami tidak ada rencana kembali ke hotel – kami memilih menghabiskan hari seharian di luar dan baru pulang saat malam hari – tapi kami lupa, ‘kan kami membawa Une, hehehe. Walaupun kelihatannya Une kuat dan tidak mengeluh, tapi sebenarnya pasti capek. Akhirnya, kami memilih untuk memandikannya terlebih dahulu supaya lebih segar saat berpergian di malam nanti. But, good job, Une! Ibu bangga sama Une, muah!

Malamnya, kami makan di Jumbo Seafood – Clarke Quay. We ordered their famous chilli crab with fried deep-fried mini buns, prawns with golden salted egg, and spinach skin beancurd with mushrooms. I lost my words, ini enaaaaak banget! Daging kepitingnya tebal ditambah sausnya yang super yummy, mungkin kalau nggak ingat ada suamiku bisa aku habiskan sendirian kepiting itu 😀 *rakus mode:on* Udang telur asinnya juga juara, kental dan banyak saus telur asinnya. Tahunya juga super lembut dan enak, Une suka banget ini. Untuk harga, memang quite pricey for us, tapi terbayarkanlah dengan rasa makananya. *dan tetiba sekarang baru kepikiran berapa banyak kolesterol yang masuk ke tubuh kami malam itu. hmm… hmm… gaswat!*

Selesai makan dan jalan-jalan di sekitar Clarke Quay, kami naik taxi menuju ION Orchard. Rencananya malam ini kami mau jalan kaki saja dari ION menuju hotel sambil mampir beli ice cream uncle, yakali deh nggak kenyang-kenyang.. Hahahaha.. Karena tujuan kami selama di SG ini hanya jalan-jalan dan jajan-jajan saja, jadi kami memang nggak ada rencana belanja-belenji. Setelah beli ice cream uncle dan duduk sebentar sambil makan es, kami menuju ke Da Paolo Gastronomia di The Paragon untuk membeli cake-cake buat kami sarapan besok pagi.

IMG_1736
S.E.A Aquarium! Yeay! *sebenarnya banyak sekali foto yang diambil, terus aku bingung yang mau diupload yang mana aja, akhirnya pilih yang ini deh :D*
IMG_1737
our dinner in Day 2 @ Jumbo Seafood. super yum!

Day 3

Setelah sarapan dan check-out dari hotel, kami kembali ke Vivo City. Lho ngapain? Jadi semalam suamiku coba buka satu snack Irvins yang potato chips, dan ternyata dia suka banget. Sesuka itu sampai minta balik lagi ke Vivo City hanya untuk beli Irvins lagi. Hahaha ampuuun… Karena flight schedule kami masih nanti sore, akhirnya yowes kami balik lagi ke sana, plus dengan bawa-bawa koper. Hahahaha.. Seusai beli snack tersebut dan makan siang di sana, kamipun menuju Changi. Yes, we’re ready to back home! 🙂


Oopsie woopsie, here comes the drama..

Sebenarnya drama ini sudah dimulai sejak kami berangkat di Soekarno-Hatta. Semoga pengalamanku ini bisa bermanfaat buat siapapun yang membacanya ya, terutama bumil-bumil yang ingin berlibur dengan pesawat.

Seperti yang pastinya semua orang ketahui, kalau bumil ingin berlibur dengan pesawat butuh surat izin dari dokter kandungan (obgyn) yang menyatakan bumil dan kandungannya sehat sehingga layak terbang. Dan umumnya surat izin terbang itu valid untuk digunakan selama 7 hari sejak tanggal yang tertera di surat tersebut. Saat itu usia kandunganku 29 minggu, obgyn menyatakan bahwa yang tidak boleh naik pesawat jika usia kandungan sudah 32 minggu (malah obgynku sempat bilang, “Ah, kalau kamu sih sepertinya usia kandungan 34 minggu juga masih kuat terbang.”), jadi usia kandungan 29 minggu masih aman. Surat izin terbang tersebut ditandatangani obgyn-ku tanggal 15 April, aku berangkat tanggal 17 April, dan kembali tanggal 19 April. Sebelum berangkat, surat izin tersebut aku fotokopi terlebih dahulu.

Saat aku dan suamiku check-in di Soekarno-Hatta, tidak ada kesulitan yang berarti. Petugas check-in hanya bertanya akan usia kandunganku dan meminta surat izin terbang yang kemudian dia baca dan dia kembalikan kepadaku. Aku kira semuanya akan aman-aman saja, sampai akhirnya aku tiba di boarding gate dan petugas boarding gate-nya meminta surat izin terbangku. Aku masih ingat apa yang petugas itu katakan padaku:

Petugas: Bu, ini suratnya ditandatangani tanggal 15 kemarin kan, berarti sudah 3 hari sama hari ini. Jadi, suratnya cuma valid sampai hari ini.

Aku: Lho, bukannya valid-nya 7 hari, Mbak?

Petugas: Nggak, Bu. Peraturan dari maskapai kita cuma 3 hari validnya. Ibu pulang kapan?

Aku: Hari Rabu besok

Petugas: Naik maskapai ini juga?

Aku: Iya

Petugas: Nah iya, nggak bisa. Ibu harus bikin surat izin terbang yang baru. Kecuali, kalau Ibu naik maskapai lain.

Aku: Lho, gimana caranya saya bikin surat izin terbang baru, Mbak?

Petugas: Ya, Ibu dateng aja ke rumah sakit minta diperiksa di sana. Atau mungkin di bandara di sana ada klinik. Ibu coba aja.

Laaah.. Apa-apaan sih? Kok ngegampangin gini? Sumpah ya, kesel beneran. Memang dikira aku nggak ada rencana liburan di sana? Memang dikira segampang itu ya kontrol dokter kandungan? Memang dikira murah apa? Aduh yaa… Dan cara bicaranya itu lho sepertinya kok ngegampangin banget. Masih kesal dengan sikap si petugas boarding gate tersebut, kamipun menuju ke pesawat. Lagi-lagi kejadian yang membuatku merasa tidak nyaman terulang lagi. Sepanjang penerbangan sampai ada 3 orang pramugari yang datang padaku (dalam waktu yang berbeda) dan menanyakan kehamilanku ini, “Sudah berapa minggu?” “Boleh lihat surat izin terbangnya?” Dan lagi-lagi seperti mengulang kalimat petugas boarding gate tadi, ketiga pramugari ini meminta aku untuk membuat surat izin terbang yang baru sebelum aku kembali ke Jakarta – dengan nada yang ngegampangin. OMG, ada apa sih.. Karena geregetan aku sampai bilang kalau usia kandunganku baru 29 minggu, aku dan kandunganku sehat, I am not a sick person, dan menurut dokter kandunganku masih layak terbang bahkan sampai usia 34 minggu. But as I predict before, mereka ya nggak mau tahu dan bahkan pramugari yang terakhir mendatangiku sampai meminta surat izin terbangku untuk dibuat laporan (akhirnya aku kasih yang fotokopi). Huh… Maskapai ini termasuk salah satu maskapai premium di Indonesia lho, semestinya jangan terlalu seperti inilah. Kalau memang ini peraturan, menurutku ada cara yang lebih baik dan bijak untuk menyampaikannya.

Drama belum selesai. Saat aku dan suamiku check-in di Changi untuk balik ke Jakarta, petugas meminta surat izin terbangku dan aku berikanlah surat yang kemarin. Petugas check-in tersebut akhirnya membawaku untuk bertemu dengan supervisor-nya, agar dilihat apakah surat izin terbangku masih bisa dipakai atau tidak. Supervisor-nya ini menjelaskan dengan cara yang baik sekali. Dia mengatakan bahwa ini adalah peraturan baru di maskapai tersebut yaitu untuk ibu hamil di atas 28 minggu surat izin terbang hanya berlaku untuk 3 hari saja. Kalau ibu hamil di bawah 28 minggu, tetap memakai peraturan lama yaitu berlaku untuk 7 hari. Dia juga mengatakan, sebenarnya bisa saja dia meloloskanku karena dia yakin tidak ada masalah kesehatan di diriku, tapi dia khawatir aku tidak diterima di pesawat. Akhirnya, dia memintaku untuk menuju ke airport clinic untuk membuat surat izin terbang yang baru. Baiknya, dia sampai mengarahkanku dan meminta maaf padaku berkali-kali atas ketidaknyamanan ini. Jleb… Aku baru sadar, petugas boarding gate di Soekarno-Hatta dan tiga pramugari yang kemarin menanyaiku itu, tidak ada satupun yang meminta maaf lho. Gileee.. 🙁

Akhirnya akupun sampai di Raffles Medical Clinic. Situasi klinik yang cukup ramai membuatku khawatir pelayanannya lama, sedangkan I only had about 45 minutes until check-in closed. And I don’t know, apakah karena dipicu pregnancy hormones atau memang sudah capek banget ngadepin ini, rasanya jadi pingin nangis. Lagi nahan-nahan mewek, tiba-tiba namaku dipanggil. Aku langsung jelaskan dengan detil apa yang alami dan aku butuhkan, luckily petugasnya super baik. Dia mengerti bahwa sebenarnya aku sehat dan tidak ada masalah, ini hanya untuk keperluan terbang saja. Sebelum akhirnya dia mencarikan dokter yang bisa memeriksaku, dia menjelaskan bahwa biaya yang diperlukan untuk pemeriksaan dan surat izin terbang sekitar 100 SGD, atau ya hampir 1 juta rupiah. Lemes banget, ya Allah… Rasanya seperti ‘dikerjain’ gitu lho… Ya sudah deh, jalani saja daripada nggak bisa pulang. Setelah menunggu sebentar, aku dipanggil untuk diperiksa oleh dokter. Dokternya juga bilang kalau aku sehat dan tidak ada masalah. Dokter tersebut tersenyum dan mengatakan padaku bahwa ini hanya untuk keperluan terbang saja, jadi aku tidak perlu panik. Dan tiba-tiba, ketika aku mau keluar ruangannya, dokter ini mengatakan bahwa surat izin terbangku dia berikan secara gratis jadi aku hanya perlu membayar biaya pemeriksaannya saja. Ya Allah, baik banget… Mungkin dia paham kali ya kalau aku sudah lemah, lunglai, tak berdaya karena masalah ini. Hehehehe.. Finally, aku bayar sekitar 50 SGD, alhamdulillah didiskon setengahnya.

Dari situ, kami langsung buru-buru kembali lagi ke tempat check-in. Petugas check-in kembali mengecek surat izin terbangku, kali ini sudah pakai yang baru. Petugas check-in, aman. Petugas boarding gate, aman. Sampai di pesawat pun, aman. Bahkan tidak ada satu pramugari pun yang bertanya apakah aku hamil atau tidak. Zzzzz.How could it be? Sampai sekarang aku tidak tahu sih, apakah pihak petugas check-in langsung mengabari pihak petugas boarding gate dan pramugari tentang aku dan surat izin terbangku yang baru, atau memang ya nggak ada yang ngeh dan nggak ada yang bertanya aja. Kesel nggak?Ya kesel, asli beneran nggak jelas sistemnya. Tapi, ya sudahlah ya… Yang penting bisa pulang dengan selamat 😀

Eh benar saja, kebingunganku tentang peraturan baru yang tiba-tiba muncul tersebut akhirnya terjawab beberapa hari setelah aku pulang. Ternyata oh ternyata, beberapa minggu sebelum aku berangkat ada seorang ibu yang melahirkan di pesawat. Sebenarnya bukan di maskapai tersebut, melainkan di sebuah maskapai lain yang bernaung di grup yang sama dengan maskapai tersebut. Tapi ya, mungkin mereka mau antisipasi kali yaa… Walaupun untuk menyampaikannya tetap ada cara yang lebih proper sih, menurutku. *tetep kesyel mode: on*

Tips untuk bumil di atas 28 minggu dan ingin berlibur dengan pesawat : sebelum membeli tiket lebih baik cari tahu dulu peraturan apa saja yang diperuntukkan bagi bumil. Setiap maskapai ternyata punya peraturan yang berbeda. Jangan sampai jadi drama seperti pengalamanku ini ya! 🙂


3rd Trimester Traveling Tips

Selain ceki-ceki peraturan baru seperti yang sudah aku paparkan di atas, ada beberapa tips tambahan lagi nih untuk bumil yang mau berlibur:

  • Gunakan pakaian dan alas kaki yang super nyaman. Aku sengaja memakai pakaian berbahan tipis dan longgar, agar tidak kepanasan dan sesak. Untuk alas kakinya, aku pakai flat shoes yang memiliki rongga terbuka di bagian samping. Aku sengaja tidak pakai sepatu keds karena pasti kakiku akan sesak dan bengkak, juga aku memilih untuk tidak memakai flip-flop karena khawatir bantalannya tidak cukup empuk dan membuat kakiku akan mudah sakit.
  • Bawa bantal kecil untuk mengganjal kepala atau tubuh ketika tidur. Namun jika di hotel telah disediakan banyak bantal (seperti di hotel tempatku menginap), tidak dibawa juga tak apa.
  • Selalu rendam kaki di air hangat setelah berpergian
  • Bawa krim pereda nyeri dan tegang otot. Hahahaha jompo banget kayaknya ya.. Tapi alhamdulillah, ini berpengaruh banget buat kakiku! Kalau kemarin aku bawa counterpain cool. Setiap mau tidur malam, aku oleskan di betis sampai telapak kaki. And voila, bye-bye kaki keram! 😀
  • Bawa peralatan tempur (alias obat-obatan) bumil. Mulai dari obat kontraksi, obat sesak, obat mual, plus segambreng vitamin.
  • Due to your baby health, jangan pulang terlalu malam. Walaupun memang temanya liburan, tapi tetap harus membatasi diri untuk mendapatkan istirahat yang cukup.
  • Tetap makan makanan yang bergizi dan perbanyak minum air putih

Nah, kalau tips bumil pergi berlibur bersama suami dan anak balitanya (no anyone else), ada beberapa tips tambahan:

  • Siapkan satu tas backpack untuk keperluan anak. Isinya: baju ganti, hoodie atau sweater, minum, cemilan, tissue basah & tissue kering, dan beberapa mainan anak. Tas ini bisa dibawa kemanapun selama berpergian.
  • Selalu mempertimbangkan kondisi anak. Yes I know, pasti sudah banyak list kegiatan yang dibuat untuk mengisi liburan, tapi sebaiknya tetap melihat bagaimana kondisi anak. Kalau kemarin, aku sering sekali bertanya kepada Une, “Une laper? Haus? Ngantuk? Pingin pup? Pingin pipis? Capek nggak?” karena kasihan kalau sebenarnya dia merasakan hal yang tidak nyaman tapi tidak dikatakan.
  • Bawa vitamin dan obat-obatan anak (seperti: obat batuk, obat panas, cairan pereda masuk angin pada anak, dsb)
  • Berbagi tugas dengan suami perihal pengasuhan anak selama berlibur

Well, I think that’s all! Oh iya, ada yang punya pengalaman serupa nggak tentang surat izin terbang? Boleh lho ya, share di kolom komen ini 🙂 Buat teman-teman yang punya saudara atau kerabat yang sedang hamil tapi ingin berlibur, boleh banget share ceritaku ini ke mereka ya. Semoga pengalaman liburanku ini bisa bermanfaat bagi kalian! 😀

Always Love,

Aninda — The-A-Family

5,504 total views, 1 views today

The-A-Family

A family that starts with an A.

5,505 total views, 2 views today

Other posts

  • Saya punya pengalaman yg kurang lebih sama persis kaya yg dialamin bu Ninda. Bahkan saya sempat hampir tidak diperbolehkan naik pesawat. Yg benar sajaaa, saya kan sudah beli tiket, rasanya pingin blg begitu. Mana lg saya waktu itu sendirian, akan terbang menyusul suami. Rasanya kaya mau panas dingin. Tp syukurlah bisa. Karna pernah punya pengalaman begitu next flight nya saya mepetin periksanya, ehhh taunya ga dicek, bahkan ga ditanyain. Hihihi. Tp emang better prepare dan cari tau tentang ketentuan maskapai tentang ibu hamil sih yaa untuk berjaga2 🙂

  • COMMENT (1)

    1. Diva Oktavianita 13th May 2017 at 9:21 pm -

      Saya punya pengalaman yg kurang lebih sama persis kaya yg dialamin bu Ninda. Bahkan saya sempat hampir tidak diperbolehkan naik pesawat. Yg benar sajaaa, saya kan sudah beli tiket, rasanya pingin blg begitu. Mana lg saya waktu itu sendirian, akan terbang menyusul suami. Rasanya kaya mau panas dingin. Tp syukurlah bisa. Karna pernah punya pengalaman begitu next flight nya saya mepetin periksanya, ehhh taunya ga dicek, bahkan ga ditanyain. Hihihi. Tp emang better prepare dan cari tau tentang ketentuan maskapai tentang ibu hamil sih yaa untuk berjaga2 🙂

      Reply

    Leave a Reply