IMG_0347

NND’s Story: Aku dan Psikologi

Teruntuk teman-teman followers yang seringkali menanyakan segala hal yang telah aku jalani selama kuliah di Fakultas Psikologi, so I think would write it down right hereSit back, relax, and happy reading!

 

Kenapa Psikologi?

Back in early 2000s, saat aku mulai mengenal sebuah majalah remaja di usiaku yang ke-10. Rubrik yang paling aku suka dari majalah remaja tersebut bukan rubrik gosip atau selebritis, bukan pula cerita pendeknya, melainkan rubrik curhat (curahan hati). Pada rubrik itu, para pembaca bisa mengirimkan cerita curhatan mereka ke majalah kemudian ada tim dari majalah yang akan menjawab curhatan-curhatan tersebut. Para pencurhat dianonimkan, jadi aman bagi privasi mereka. Isi curhatannya pun beragam, mulai dari masalah sekolah, pertemanan, pacaran, sampai keluarga. Terkadang ada permasalahan yang sangat berat menurutku. Aku yang saat itu masih kecil, sangat kagum melihat cara tim dari majalah tersebut membantu memecahkan masalah yang ada, tentunya dengan kalimat yang santai dan terkesan tidak memojokkan si pencurhat. Saat itu yang ada di pikiranku: ‘Enak banget ya bisa membantu masalah orang lain. Aku bisa nggak ya jadi seperti ini?’ Kemudian, aku bertanya pada Uma (ibuku), “Kalau yang ini (sambil menunjuk rubrik curhat), siapa yang jawab sih, Ma?” Uma menjawab kalau biasanya rubrik seperti ini memiliki tim dari orang-orang psikologi.

Psikologi? Apa itu? Karena waktu itu internet juga belum se-hype sekarang, jadi all I know is psikologi sama dengan membantu memecahkan masalah orang lain. Dan bagiku saat itu, hal tersebut sudah cukup. Walaupun membantu memecahkan masalah orang lain bukan makna sesungguhnya dari psikologi, tapi hal tersebut sudah mampu membuatku jatuh cinta. Jadi, praktis dari saat itu hingga SMA setiap ditanya, “Cita-citanya apa?” Aku dengan semangat akan menjawab, “Psikolog!” 😀

Walaupun begitu, namanya juga cita-cita terkadang suka bikin galau dan pingin berubah haluan. Di bangku SMP, aku pernah terpikir untuk jadi penyiar radio – that time I was a radio-freak eh sampai sekarang masih deng hehehe – tapi tetap maunya jadi penyiar yang mendengarkan curhatan orang 😛 Di bangku SMA kelas 2, karena terlalu menghayati pelajaran biologi, rasanya kepingin untuk jadi sexologist. Di bangku SMA kelas 3, aku sempat memilih jurusan hukum saat SNMPTN dan diterima walaupun pada akhirnya tidak aku ambil. Bagaimanapun, cita-cita lain yang tiba-tiba seliweran di kepala rasanya hanya keinginan sesaat saja sih. Kalau ditanya ke lapisan paling dalam dari otak dan hatiku, jawabannya tetap ingin di psikologi. And, it goes…

 

PTN atau PTS?

Di awal semester dua saat kelas 3 SMA, aku mulai mencari universitas yang memiliki fakultas psikologi yang bagus. Saat itu untuk PTN (Perguruan Tinggi Negeri) yang masuk nominasiku adalah UI dan UNPAD, sedangkan untuk PTS (Perguruan Tinggi Swasta) adalah UNIKA Atma Jaya. Alasanku memilih UI dan UNPAD karena di kedua universitas itu memang fakultas psikologi menjadi primadona, passing grade-nya pun tinggi, pastinya juga didukung dengan sistem akademis yang baik, jadi sudah seperti kewajiban bagiku untuk memilih keduanya. Kalau alasanku memilih UNIKA Atma Jaya, saat itu yang aku tahu banyak dosen-dosen senior dari UI yang berpindah ke sana, fakultas psikologi di sana juga menjadi favorit calon mahasiswa karena termasuk salah satu PTS yang memiliki fakultas psikologi terbaik di Jakarta (sehingga memang seleksi masuknya cukup ketat dan setiap angkatan dibatasi kuotanya), dan yang paling penting adalah jaraknya yang tidak terlalu jauh dari rumah dan memungkinkan aku untuk bolak-balik kuliah tiap hari.

Pada bulan Februari/Maret di tahun 2008 itu, akhirnya aku mendaftarkan diri di Fakultas Psikologi UNIKA Atma Jaya. Saat itu memang statusku masih pelajar SMA dan belum menjalani serangkaian tes-tes untuk masuk PTN – UN saja belum kokLoh, kok nggak nunggu tes PTN dulu baru daftar PTS?” Ya, inilah yang dulu banyak ditanyakan teman-temanku, apalagi kesannya kalau masuk PTN jauh lebih bergengsi daripada masuk PTS (mungkin karena dulu SMA-ku sekolah negeri ya jadi stigma ini memang cukup kental). Waktu itu yang menjadi pertimbanganku adalah setidaknya saat itu aku sudah punya pegangan fakultas psikologi di PTS dan memang ada kekhawatiran kalau menunda mendaftar akan kehabisan kuota.

Walaupun sudah punya pegangan PTS, tetap saja tidak lantas merasa tenang. Teman-teman seangkatan yang saat itu lagi heboh daftar-daftar PTN, bikin aku juga pingin ikutan daftar PTN. Yang aku ingat aku cuma ikut 2 kali tes PTN, seleksi masuk UI dan SNMPTN. Di seleksi masuk UI, aku pilih psikologi dan terhempas tidak diterima. Waktu itu aku sempat down, karena bagaimanapun stigma yang aku sebutkan di atas sepertinya mulai masuk ke dalam diriku. Akhirnya, aku memutuskan untuk coba lagi di SNMPTN, memilih jalur IPC (Ilmu Pengetahuan Campuran alias bisa memilih jurusan-jurusan yang ada di ranah IPA dan IPS) tapi kali itu dengan jurusan yang berbeda: FK UI, FH UI, dan FH UNPAD. Kok tiba-tiba nyasar ke kedokteran dan hukum? Nah, inilah yang aku bilang di atas sebagai: cita-cita lain yang tiba-tiba seliweran di kepala, hehehe. Bisa menjadi dokter, kayaknya itu hampir menjadi mimpi setiap anak ketika kecil sekaligus mimpi orangtuanya yang kepingin punya anak dokter, jadilah tiba-tiba aku memilih jurusan tersebut, walaupun sangat yakin 1000% bakal terhempas 😛 Kalau fakultas hukum – seperti yang pernah aku bahas di post sebelumnya – dipilih karena aku terbiasa mengenal dunia hukum dari ayahku yang seorang jaksa, jadi ada rasa ingin tahu lebih banyak. Kok nggak ambil Fakultas Psikologi UNPAD? Since I was a daddy’s girl – yup ’till now – dan saat itu ayahku baru tahu kalau FP UNPAD adanya di Jatinangor bukan di kota Bandung, ayahku langsung melarangku karena yaaa menurut beliau terlalu jauh dan ‘kan aku sudah punya pegangan di FP Atma Jaya, so ya that’s fine. 

Seperti ingin balas dendam atas kegagalanku di seleksi masuk UI lalu, akhirnya aku benar-benar belajar. Apalagi kalau memilih jalur IPC berarti harus belajar both of IPA dan IPS. Kebetulan aku anak IPA saat SMA dulu, jadi ketika harus belajar IPS sangat terasa banyak sekali pelajaran yang harus dihafal. SNMPTN tersebut membuahkan hasil, aku diterima di FH UNPAD. Senang? Jelas. Galau? Banget! Ditambah aku harus menentukan pilihan dalam dua hari, mau tetap kuliah di Psikologi Atma Jaya atau pindah haluan ke Hukum UNPAD. Seperti yang sudah aku ceritakan di post sebelumnya, akhirnya yang aku lakukan adalah shalat istikharah, sambil tak lupa tanya pertimbangan orangtua dan tanya ke dalam diri sendiri. ‘Sebenarnya kamu mau jadi apa sih, Nin?’

Saat itu yang aku ingat ada rasa galau yang besar. Sejak kecil, aku ingin sekali berkecimpung di perpsikologian, tapi sayang sekali kalau harus melepas FH UNPAD. Apalagi ini jurusan favorit lho, universitas negeri lho, pastinya bergengsi. Teman-teman yang ‘ijo’ melihat hal ini, langsung semangat menyuruhku untuk mengambil FH UNPAD saja. Jujur, aku tidak mau gegabah, karena aku paham ini akan menentukan jalan hidupku ke depannya dan aku tidak mau salah jalan. Buatku, tidak ada bedanya berkuliah di PTN maupun PTS, semua tergantung pribadinya masing-masing dan kembali lagi apakah jurusan tersebut memang cocok dengan diri sendiri atau tidak. Jangan cuma karena gengsi, jangan cuma karena dorongan dari lingkungan, bisa mengalahkan apa yang sebenarnya diinginkan. Sudah 12 tahun bersekolah wajib, mengikuti segala aturan dan menjalankan setiap kewajiban yang ada tanpa bisa memilih, maka menurutku inilah saatnya aku bisa menentukan jalan hidupku sendiri, selama aku tahu itu baik untukku dan aku bisa bertanggung jawab akan hal itu. Dan ya, aku memilih mimpi masa kecilku 🙂

 

S1 Psikologi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

Dunia Perkuliahan

Bagiku, kuliah di psikologi ibarat bertemu jodoh. Aku merasa pas dengan jurusan ini. Oh ya, aku ingat ada cerita lucu saatku baru masuk kuliah dulu. Jadi memang, walaupun aku dulu anak IPA tapi aku nggak suka banget sama matematika, khususnya bab statistik. Aku kira di jurusan psikologi ini nggak akan ketemu sama yang namanya statistik, tapi ternyata aku salah… Hahahaha. Statistik di psikologi ini banyak banget varian menunya, mulai dari (yang aku ingat saja ya) Statistik I, Statistik II, Statistik Non-Parametrik, sampai Konstruksi Tes – dan pada zamanku dulu ini sistemnya turunan, jadi kalau sudah lulus mata kuliah Statistik I di semester 1 baru bisa ambil Statistik II di semester 2, cukup angker sih menurutku, karena kalau sekali nggak lulus akan ada efek ke semester selanjutnya. Jeng-jeng-jeng, cukup membuat deg-degan sih. Tapi alhamdulillah, semuanya bisa aku selesaikan.

Psikologi ini sebenarnya perpaduan dari pelajaran IPA dan IPS, menurutku. Ada matematikanya, ada biologinya, ada sosiologinya, semuanya ada. Oleh karena itulah, mata kuliah yang ditawarkan jadi bervariasi. Perkuliahan di Psikologi Atma Jaya ini hampir semua literaturnya berbahasa Inggris. Setiap mata kuliah diwajibkan presentasi per kelompok. Untuk tugas-tugas kuliah, ada yang tugas kelompok dan ada pula tugas individu. Untuk ujian (baik UTS maupun UAS), metodenya ada berbagai macam, mulai dari paper and pencil test, tugas membuat makalah (biasanya analisis kasus), sampai ujian komprehensif (biasa disebut kompre a.k.a ujian lisan untuk mengetahui tingkat penguasaan kita terhadap materi tersebut). Aku jadi rindu ujian hahahaha bohong deng. Dulu ya, kalau mau paper and pencil test alias ujian tertulis, pasti aku dan teman-teman seangkatan belajar bareng di kampus sebelum dimulainya ujian. Belajarnya sambil menjelaskan materi secara verbal gitu, jadi both of yang ngomong dan yang dengerin sama-sama belajar. Kalau tugas membuat makalah untuk UTS dan UAS, biasanya sudah aku cicil dari beberapa minggu sebelum dikumpulkan, karena memang biasanya jadwal perkuliahan sepanjang satu semester sudah diberikan di hari pertama kuliah ‘kan jadinya bisa nyicil dikit-dikit – dan lagi aku bukan termasuk orang yang bisa menerapkan metode SKS (Sistem Kebut Semalam) yang ada malah jadi panik, pokoknya H-1 sebelum dikumpulkan harus sudah dijilid! Hehehehe. Kalau ujian kompre yaaa memang selalu bikin mulas, intinya persiapkan fisik, mental, dan otak sebelum ujian dimulai ya 😀

Semester demi semester aku lalui dengan perasaan senang dan tentunya penuh semangat. Salah satu yang memicu semangatku adalah mata kuliah di psikologi ini banyak yang aku suka. Favoritku adalah ranah Psikologi Perkembangan dan Psikologi Kepribadian. Ingat sekali di semester 2, aku mulai belajar mata kuliah Psikologi Perkembangan. Di mata kuliah ini diajarkan mengenai tahapan-tahapan kehidupan manusia, mulai sejak terjadinya pembuahannya sampai meninggal dunia. Melalui mata kuliah ini, aku jadi tahu alasan di balik kejadian sehari-hari yang umumnya kita temui dan ternyata ada hubungannya dengan tahapan perkembangan seseorang – misalnya ‘Kenapa sih anak remaja sangat peduli dengan penampilan? Padahal ‘kan belum tentu juga orang merhatiin.’, ‘Kenapa sih anak kecil suka sok tahu?’, atau ‘Kenapa sih kakek dan nenek senang sekali membahas cerita di masa mudanya?’ – semuanya dibahas setajam… silet! Hahahahaha. Ditambah melalui kuliah Psikologi Kepribadian, aku jadi tahu kalau pengalaman masa lalu seseorang sangat berpengaruh pada dirinya di masa yang akan datang (pola pikirnya, caranya bersikap, caranya menyelesaikan masalah, dsb). Dua mata kuliah ini mengajarkan aku that I couldn’t judge someone easily.

Oh ya, sebenarnya psikologi itu apa sih? Berdasarkan teori, psikologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia. Perilaku manusia yang ditekankan di sini memiliki makna yang luas. Maka dari itu, aku mencoba menerjemahkannya sendiri – well ini cuma aku pakai sendiri ya. Satu hal yang aku tangkap dari definisi tersebut dan memudahkanku untuk memahaminya adalah perilaku-perilaku yang muncul dari diri seseorang sebenarnya merupakan suatu rangkaian, dari pengalaman masa lalunya, proses berpikirnya, respon dari lingkungannya, dan cara dirinya memahami hal yang sedang terjadi. Keilmuan ini membuat aku belajar mencerna alasan seseorang melakukan perilaku tertentu. Dari perkuliahan S1-ku, aku menangkap pemikiran bahwa perilaku manusia tidak bisa dikotak-kotakan: benar atau salah, semuanya serba tergantung dan perlu dikaji terlebih dahulu. Dan akhirnya, akupun sadar jika psikologi bukan hanya: membantu memecahkan masalah orang lain semata, melainkan memahami perilaku dan diri orang lain lebih tepat menurutku.

Satu hal yang perlu diketahui, anggapan orang di luar sana yang mencap anak psikologi bisa membaca pikiran orang lain, bisa mendeteksi orang bohong atau tidak, dan hal sejenisnya, itu tidak benar ya. Well, psikologi bukan ilmu ramal yang menerka-nerka seperti itu. Semua berdasarkan ilmu pengetahuan dan ada metodenya.

Memasuki semester 5, mulai deh boleh memilih peminatan psikologi untuk menjadi fokus selama kuliah. Saat itu pilihan peminatannya ada 4: Psikologi Klinis, Psikologi Industri dan Organisasi, Psikologi Pendidikan, dan Psikologi Sosial – di sini aku nggak akan bahas masing-masing peminatan ya, karena akan jadi panjang sekali, better you’re googling it. Aku memilih peminatan Psikologi Klinis. Kenapa? Karena di peminatan ini pembahasan mata kuliahnya akan lebih mengarah ke jenis gangguan psikologis (baik yang dialami orang dewasa maupun anak-anak), analisis gangguan-gangguan psikologis, dan masih banyak lagi mata kuliah yang terkait hal klinis – aku sangat tertarik dengan hal tersebut. Alhamdulillah, dari semester satu sampai semester terakhir tidak ada kendala dalam proses kuliahku dan IPK yang aku dapatkan juga memuaskan (at least aku puas sih dengan jerih payahku 😀 ).

Untuk skripsi, baik penelitian kuantitatif (menggunakan metode statistika) dan penelitian kualitatif (menggunakan metode observasi dan wawancara), sama-sama boleh dipilih salah satu. Tapi, karena aku dari awal sudah agak anti dengan statistik – NGGAK BOLEH DICONTOH YA! – jadinya aku memilih penelitian kualitatif sebagai skripsiku, ditambah memang topik skripsiku bisa dikerjakan dengan metode kualitatif sih. Skripsiku yang berjudul: Gambaran Stres dan Coping Stress pada Anak Perempuan Pertama di Usia Dewasa Muda dari Ibu yang Mengalami Perimenopause, alhamdulillah bisa selesai dalam waktu 5 bulan. Terlepas dari motivasi dan doa, aku yakin bisa menyelesaikan skripsi dalam waktu yang cukup singkat (dan sembari mengasuh Une), karena memang aku merasa senang dengan topik dan metode penelitian skripsiku. Ibaratnya nih… Kalau kita sudah suka sama cowok, pasti rasanya pingin nge-chat terus ‘kan ya. Sama saja dengan skripsi, kalau sudah suka dengan topik dan metode penelitiannya, pasti rasanya pingin dekat-dekat terus dan buru-buru ngelarin. HAHAHAHA nggak gitu juga kali ah! 😀

 

Kesan setelah Kuliah S1

Banyak sekali hal positif yang aku dapat dari perkuliahan S1-ku ini. Di hari-hari awal aku berkuliah yang sangat terasa adalah aku seperti berada di suatu tempat yang ‘berbeda’. Sejak SD sampai SMA, aku selalu bersekolah di sekolah negeri yang mayoritas siswanya beragama Islam, sedangkan akhirnya aku berkuliah di universitas beragama Katolik. Sudah pasti ada beberapa hal yang ‘berbeda’ jika dibandingkan pengalamanku sebelumnya. Tetapi, aku senang karena dengan berkuliah di sini aku jadi lebih bisa menghargai kepercayaan orang lain. Urusan mereka terkait kepercayaannya biarlah menjadi urusan mereka, yang terpenting hubungannya denganku adalah hubungan yang baik, no stereotype no judge. Sebagai mahasiswa muslim, aku tidak pernah mengalami masalah saat berkuliah. Dari mulai ospek sampai lulus semuanya terasa lancar; tidak ada yang mengucilkan (baik dosen maupun sesama mahasiswa) walaupun muslim termasuk minoritas di sini, disediakannya musholla yang layak untuk beribadah, tidak ada kewajiban untuk mengambil mata kuliah agama Katolik, dan masih banyak lagi hal yang membuatku nyaman 🙂

Melalui lika-liku perkuliahan yang ada up and down-nya, membuat aku sadar kalau tidak ada yang instan dan mudah dicapai dalam hidup ini, semuanya butuh kerja keras. Jadi ingat, di psikologi ada mata kuliah Konstruksi Tes (atau biasa disingkat Kontes, anak-anak psikologi pasti tahu deh ngeri-nya seperti apa hehehe). Kontes ini adalah babak terakhir dari rangkaian perkuliahan statistik, jadi ya namanya juga babak terakhir pasti lebih susyeh ‘kan ya. Di Kontes ini, aku dan teman-teman sekelompok diwajibkan untuk membuat satu alat tes psikologi. Dari awal semester sudah terasa pressure-nya kalau kuliah ini memang sangat berat, rasanya mata kuliah lainnya di semester tersebut tidak ada artinya deh kalau dibandingkan Kontes. Semua prioritas lari ke Kontes, bahkan aku pernah bawa-bawa laptop ke kamar mandi karena lagi sakit anyeng-anyengan tapi harus tetap memenuhi bagianku di tugas Kontes ini. Boro-boro tahu perkembangan terbaru dunia luar, bisa makan dan tidur dengan nyaman saja sudah bersyukur banget. Anak-anak psikologi pasti tahu deh rasanya seperti apa. 

Di saat lagi capek-capeknya, aku ingat sekali pernah chat Ayah. Saat itu pagi hari, aku lagi dalam perjalanan menuju kampus. Ayah memang tidak tinggal satu kota denganku, beliau tinggal di luar kota karena urusan pekerjaan. Dalam isi chat-ku itu, aku bilang pada Ayah kalau aku sangat capek (fisik dan psikis) dan rasanya sudah nggak kuat lagi. Aku sampai nangis saat menulis chat tersebut. Tidak lama kemudian, Ayah telepon. Aku lupa persisnya beliau bilang apa, tapi yang aku ingat adalah: “Kamu ‘kan ngalamin ini nggak sendirian, Kak. Teman-teman kamu juga ngalamin hal yang sama ‘kan. Jadi, buat apa stres, Kak. Kalau sekarang kamu nggak bisa ngerasa happy, kebahagiaan itu sebenarnya bukan dicari tapi diciptakan, Kak.” Dari situ aku langsung bangkit lagi. And everytime I feel down, pasti aku langsung ingat kalimat Ayah itu.

Selain itu, seperti yang sudah aku bahas di atas, aku jadi paham kalau tidak boleh menghakimi perilaku orang lain. Before judging, lebih baik mencoba memahami alasan mengapa orang melakukan hal tersebut. Aku juga jadi paham bahwa pengalaman masa kecil pada diri seseorang itu sangatlah vital dan menjadi pondasi bagi kehidupan seseorang di masa yang akan datang, so that’s why aku berusaha untuk membangun pondasi yang baik bagi anak-anakku. Ada lagi pengaruh labelling pada diri seseorang, sekali adanya label pada diri seseorang biasanya tanpa sadar orang tersebut akan menampilkan perilaku sesuai dengan label yang diberikan untuknya, jadi ya pemberian label ini harus hati-hati alias jangan nyablak dan asal njeplak saja. Dan lagi, aku jadi semakin paham kalau di sekeliling kita mungkin ada saja orang yang mengalami gangguan psikologis dan sangat tidak bijak jika kita membuat hal tersebut menjadi bahan bercandaan.

Intinya, banyak sekali pembelajaran yang membuatku menjadi lebih asertif dan sensitif akan diri orang lain, serta juga lebih memahami diriku sendiri 🙂

 

Tips Kuliah S1

  • Untuk teman-teman yang belum tahu akan berkuliah dimana dan memilih fakultas apa, saranku:
  1. Carilah jurusan yang memang kamu banget – yang kamu suka dan pastinya bisa kamu pertanggungjawabkan sampai lulus nanti 🙂
  2. Mendengar saran dari orang lain (terkait pilihan universitas dan pilihan fakultas) memang boleh, tapi yang terpenting kembalikan lagi kepada dirimu
  3. Jangan termakan gengsi (berkuliah di PTN padahal dalam hati nggak suka sama fakultasnya) – PTN maupun PTS itu sama saja kok, semuanya tetap tergantung padamu yang menjalankannya
  4. Jika sudah tahu ingin memilih fakultas apa, carilah universitas yang memang menyediakan fakultas tersebut dengan akreditasi yang baik (jangan asal memilih ya)
  • Untuk teman-teman yang sedang ‘berjuang’ di S1 Psikologi, saranku:
  1. Don’t ever giving up! You’re doing something great! Kurang makan, tidur, dan gaul itu biasa shaaay.. Yakinlah setiap hal baik sekecil apapun terkait perkuliahanmu ini pasti akan dibalas kebahagiaan oleh Allah SWT 🙂
  2. Jika kamu sudah diambang skripsi, carilah topik skripsi yang memang menarik bagimu. Semakin kamu suka dengan topiknya, percaya deh semakin semangat kamu mengerjakannya.
  3. Jika kamu merasa salah memilih fakultas, well kalau belum terlambat cobalah diskusikan hal ini dengan orangtua agar mereka bisa membantumu menemukan solusinya. Namun, jika sudah terlambat alias saat ini sudah berada di semester-semester final, menurutku pribadi coba untuk berkompromi dengan dirimu sendiri. Coba untuk melihat sisi positif yang bisa kamu ambil dari perkuliahan ini. Coba berpikir hal baik apa yang dapat kamu kerjakan saat sudah lulus dari fakultas ini, you must be so proud of yourself.
  4. Jika sedang pusing skripsi, menurutku kuncinya satu: kerjakan. Semakin sering kamu kerjakan, semakin pula selesainya. Jangan lupa untuk selalu rutin bimbingan (menjalin hubungan baik dengan dosen pembimbing itu sangat penting lho!), jangan malah kabur-kaburan, hehehehe. Aku paham banget sih memang kalau mau bimbingan itu deg-degan ya rasanya, tapi ya memang begitulah… harus dijalani, jangan dihindari 🙂

 

S2 Magister Terapan Psikologi Anak Usia Dini Universitas Indonesia

Dunia Perkuliahan

Lima bulan setelah lulus kuliah S1, aku memberanikan diri mendaftar ke S2 Magister Psikologi di UI. Awalnya, aku berniat mendaftar untuk S2 Magister Profesi Psikologi Klinis Anak. Sudah ikut beberapa kali tahapan tes (mulai dari tes TPA sampai psikotes), hingga sampailah aku di tes babak terakhir (wawancara oleh dosen). Di tes wawancara ini, ditanya apa alasanku ingin masuk peminatan tersebut. Aku jawab karena aku ingin membuat daycare/preschool. Jadi memang, back to my previous college years, aku sempat magang di salah satu daycare as a preschool teacher. Setelah berkecimpung di dunia per-daycare-an dan per-preschool-an, akhirnya muncul rasa kepingin juga bikin daycare/preschool sendiri. Setelah lulus S1, akhirnya aku baru sadar kalau ilmu yang didapat selama S1 masih kurang kuat jika ingin membuat daycare/preschool sendiri, untuk itulah aku memutuskan untuk berkuliah lagi.

Lanjut… Setelah menjelaskan alasanku itu, dosen yang mewawancaraiku langsung menjawab, “Kamu tahu nggak kalau di UI ini ada peminatan S2 Magister Terapan Psikologi Anak Usia Dini? Saya rasa kamu akan lebih cocok kalau masuk ke sana deh. Di S2 Magister Terapan Psikologi Anak Usia Dini itu nanti kamu akan belajar bagaimana caranya membuat daycare/preschool seperti keinginanmu, dan lebih banyak pembelajaran untuk menangani anak reguler. Kalau di S2 Magister Profesi Psikologi Klinis Anak ini akan lebih banyak menangani anak berkebutuhan khusus.” Jeng-jeng-jeng, seketika kepalaku langsung pusing. “Dan ini saya baca dari hasil psikotes kamu, sepertinya kamu dekat sekali ya dengan anakmu? Selama ini mengurus sendiri? Kamu rela ninggalin dia? S2 Magister Profesi Psikologi Klinis Anak ini sibuk banget lho..” Hmm.. Sepulang dari wawancara, aku pikirkan hal itu matang-matang. Aku pertimbangkan semuanya yang berhubungan denganku – cita-citaku dan keluargaku. Bismillah, akhirnya aku memilih untuk mengambil S2 Magister Terapan Psikologi Anak Usia Dini 🙂

Oke, aku akan jelaskan gambaran besar tentang dunia perkuliahan S2 Psikologi UI. Jadi di S2 Psikologi UI ini ada berbagai macam program studi, di antaranya Profesi dan Terapan. Lalu bedanya apa?

  • S2 Magister Profesi: harus dari S1 Psikologi, lulus dengan gelar Psikolog (M.Psi, Psikolog), boleh buka praktek psikologi, dan boleh melakukan diagnosa klinis
  • S2 Magister Terapan: S1 bisa dari jurusan non-psikologi (tapi setahuku ada terms & condition-nya untuk yang non-psikologi), lulus dengan sebutan Praktisi (M.Psi.T.), tidak boleh buka praktek psikologi, dan tidak boleh melakukan diagnosa klinis

Peminatan S2 Magister Terapan yang aku ambil adalah Psikologi Anak Usia Dini (atau bisa disingkat Psi AUD). Sebenarnya masih banyak peminatan S2 Magister Terapan lainnya tapi kali ini tidak akan aku bahas ya. Oke lanjut, jadi S2 Magister Terapan Psi AUD ini mempelajari serba-serbi anak usia 0-8 tahun – perkembangan anak, psikopatologi anak, parenting yang sesuai untuk anak berdasarkan usianya, moral pada anak, metode-metode pengajaran yang diterapkan di preschool, cara membuat kurikulum untuk daycare/preschool, kebijakan-kebijakan hukum yang melindungi anak, asesmen pada anak, sampai cara menyelesaikan masalah sehari-hari yang ditemui pada anak. Waktu kuliahnya sendiri hanya hari Jumat dan Sabtu. Untuk pemberian tugas, ada tugas kelompok dan tugas individu. Tak jarang ada beberapa mata kuliah yang mewajibkan presentasi individual. Untuk ujian sama seperti saat S1, ada paper and pencil test, tugas membuat makalah (biasanya menyusun kurikulum dsb), sampai ujian komprehensif.

Hal yang paling aku rasakan perbedaannya dengan S1 adalah saat S2 materi pelajaran yang diberikan jauh lebih dalam, walaupun untuk beberapa mata kuliah bagiku sudah tidak awam lagi. Aku paling suka mata kuliah Parenting, Psikologi Perkembangan, dan Psikologi Belajar. Ketiga mata kuliah ini sangatlah aplikatif dan bisa langsung aku praktekkan kepada Une. Tidak jarang juga aku amazed dengan materi di perkuliahan ini, and makes me like, “Oh iya.. Bener juga..” Hehehehe.. Karena waktu itu sekelasku hanya 12 orang, jadi kami betul-betul dituntut untuk aktif – aktif menjelaskan apa yang kami pahami, aktif bertanya, dan aktif berdiskusi. Menurutku, tuntutan dari para dosennya juga jauh lebih tinggi standarnya jika dibandingkan S1 dulu – yaiyalaaah.. Para dosen ingin aku dan teman-teman sekelas betul-betul terlibat, tidak hanya ‘disuapi’ saja. Maka dari itu, seringkali tugas perkuliahan mewajibkan ‘jalan-jalan’ (baca: ambil data, observasi, dan wawancara) ke tempat-tempat dan institusi di luar kampus.

Untuk tesis di S2 Magister Terapan Psikologi Anak Usia Dini ini, diwajibkan untuk membuat intervensi dalam bentuk pelatihan/seminar/produk (boleh pilih salah satu) yang dapat membantu mengedukasi orang lain terkait hubungannya dengan anak usia dini. Aku memilih untuk membuat produk, dalam hal ini adalah buku saku. Tesisku berjudul: Efektivitas Buku Saku dalam Meningkatkan Pengetahuan Ibu terkait Mempersiapkan Anak Pertama menjadi Seorang Kakak. Aku ingat saat awal memulai tesis, aku sampai bertanya kepada orangtuaku kira-kira masalah apa yang sering mereka dengar atau temukan pada anak usia 0-8 tahun, dan mereka jawab, “Rata-rata sih dulu teman Ayah pada bingung kalau anak pertamanya tiba-tiba jadi manja atau cengeng karena anak keduanya lahir.” Hmm.. Menarik juga nih topiknya, aku memang tertarik untuk mengangkat topik seputar keluarga – topik tesis ini sifatnya bebas dipilih oleh mahasiswa, boleh tentang sekolah, keluarga, perkembangan anak, dll pokoknya masih terkait dengan anak usia dini. Aku langsung mencari literatur tentang hal ini dan alhamdulillah memang dapat banyak, tinggal memilah dan mengerucutkan saja. Intervensi tesis ini aku sajikan dalam bentuk buku saku, kemudian buku saku tersebut dijadikan sebagai instrumen penelitian. Sedikit overview tentang tesisku, jadi aku mewawancarai partisipanku (ibu yang sedang hamil anak kedua minimal trimester 2 dan telah memiliki anak pertama berusia 2-3 tahun) mengenai pengetahuan dan cara mereka dalam mempersiapkan anak pertamanya menjadi seorang kakak, setelah itu aku berikan buku sakuku untuk mereka pelajari dan praktekkan selama seminggu, setelah seminggu aku lakukan wawancara kedua untuk mengukur ada/tidaknya peningkatan pengetahuan dan cara mereka dalam mempersiapkan anak pertamanya menjadi seorang kakak. Begitchu. Alhamdulillah, lagi-lagi setelah lima bulan berkutat mengerjakan tesis, akhirnya kelar juga 😀

 

Kesan setelah Kuliah S2

Well, aku sering sekali ditanya: “Jadi kamu bukan psikolog? Terus nggak bisa praktek? Ngapain ambil S2 kalau gitu?” Yes, I am not. Makanya, seringkali kalau ada orang yang sebut aku: “Hai, Ibu psikolog!” akan langsung aku koreksi. I am an early childhood practitioner, and I am so proud of it 🙂 Praktisi dan psikolog memiliki ranahnya masing-masing. Untuk masalah anak reguler yang ditemukan di kehidupan sehari-sehari (seperti masalah toilet training, mogok sekolah, dsb), bisa ditanyakan kepada praktisi. Namun, untuk hal-hal yang terkait anak berkebutuhan khusus (seperti autis, ADHD, dsb), bisa langsung ditanyakan pada psikolog. Pernah juga beberapa kali aku menangani kasus yang ternyata harus diberikan ke teman-teman psikolog, and that’s fine.

Hal yang paling terasa aku peroleh dari perkuliahan S2 ini, aku sebagai mahasiswa betul-betul “disuruh” praktek how to involve and solve problems in early childhood. Dari materi kuliahnya, tugas-tugasnya, sampai tesisnya semuanya betul-betul membuatku terjun di bidang ini. Alhamdulillah, kuliah S2-ku berjalan lancar tanpa hambatan berarti dan pastinya sangat bermanfaat untukku. Senang sekali rasanya bisa langsung mengaplikasikan ilmu yang aku dapat untuk Une 😀

Memang, sedari aku awal tujuan kuliah S2-ku adalah ingin mendirikan daycare/preschool, tapi ternyata it isn’t as easy as magic and I am still on the way making it happens. That’s ok. I have @kidaf.id now and it just the same for me. Di Kidaf, aku dan sahabatku membuat sendiri produk untuk anak dan keluarga. Produk-produk tersebut tentunya hasil dari pengembangan ilmuku selama S2 ini, jadi memang konten produknya sarat dengan nilai-nilai psikologi. Berbagi dengan my fellow readers seperti ini atau dalam #IbuNindaParentingSharing di Instagram juga sangat menyenangkan. Setidaknya, apa yang aku ketahui dapat aku bagikan dan bermanfaat bagi orang lain. It’s one of my source of happiness too. Oh ya, sebenarnya sejak tahun lalu aku telah menulis naskah untuk buku pertamaku dan sudah aku oper ke penerbit untuk proses cetak, tapi memang saat ini bukuku masih mengantri untuk dicetak, jadi kita tunggu saja ya.

Sejauh ini, aku memang belum bekerja. Tadinya kepingin di awal tahun ini, tapi alhamdulillah dikasih kesempatan untuk hamil kedua, jadi ditunda lagi. Aku tetap tertarik dengan dunia pendidikan untuk anak usia dini, jadi nanti kalau ada kesempatan untuk bekerja inginnya di bidang ini. Ingin juga jadi freelance writer di majalah ibu-anak gitu, tapi memang belum aku lanjutkan sih keinginanku ini.

Intinya, saat ini aku ingin dapat mengaplikasikan ilmuku agar dapat dibagikan dan bermanfaat untuk orang lain. Dan tentunya, mengaplikasikannya pada anak-anakku and turns me to be a better mom 🙂

 

Tips Kuliah S2

  1. Sebelum memilih mau mengambil peminatan apa, ada baiknya kuatkan dulu motivasi dan tujuan kamu untuk berkuliah lagi. Karena jujur S2 ini lebih banyak godaannya daripada S1, seperti bekerja, menikah, memiliki anak, dsb. Semakin kuat motivasi yang muncul dan semakin jelas tujuanmu untuk berkuliah lagi, Insyaa Allah akan semakin mudah melalui perjalanan perkuliahan S2 ini.
  2. Banyak sekali peminatan S2 yang bisa crossed major, jadi misalnya kamu S1-nya psikologi dan kepingin S2-nya non-psikologi, hal tersebut mungkin saja terjadi. Coba cari tahu lebih banyak mengenai hal ini sebelum akhirnya memutuskan mau mengambil peminatan apa.
  3. Sama seperti saranku saat skripsi, untuk tesis ini pilihlah topik tesis yang diminati agar semakin senang dan semangat dalam mengerjakannya 🙂

 

Buku saku untuk tesisku – sengaja aku bedakan warna dan ilustrasinya. Sayang sekali skripsiku sudah entah ke mana terselip di kamar lamaku, huhuhu 🙁

 


Yup, that’s all! Aku juga kaget ini kenapa panjang sekali yaaa.. Sudah seperti bab 1 saja 😛 Semoga setelah membaca tulisanku ini bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan teman-teman mengenai S1 dan S2 Psikologi selama ini ya. Maaf sekali karena terkadang aku tidak membalas DM Instagram / email jika pertanyaannya tentang perkuliahan psikologi, you know bakalan jadi panjang sekali jawabanku, hehehe.

Untuk teman-teman SMA (ciyeee adik-adik kali ah hahaha), semoga akhirnya bisa menentukan fakultas yang akan dipilih ya. Apapun itu, carilah yang memang kamu sukai. Untuk teman-teman S1 dan S2 Psikologi yang masih ‘berjuang’, ayo semangat! This too shall pass and you must be so proud of yourself 😀

 

 

Always Love,

Aninda — The-A-Family

 

21,861 total views, 7 views today

The-A-Family

A family that starts with an A.

21,862 total views, 8 views today

Other posts

  • Bu nindaa, aku mau curhaat. Aku kan awal SMA udah pingin banget masuk psikologi. Dan taunya aku ikut tes SBMPTN maupun mandiri dan sebagainya terhempas syantik. Sampai akhirnya aku sekarang masuk di fak. Hukum. Karena saat itu, cm univ ini yang mau nerima aku, tanpa pikir panjang aku langsung terima daannnn sekarang aku smt 2 menuju 3. Aku merasa kesusahan sekali dg materi2 ttg hukum, dan merasa aku ngga cocok dg hukum. Syedih abis. Minta saran dong bu nindaa💛

    • Hai syantiiik! Hihihi.. Mumpung baru mau menuju semester 3, mungkin bisa coba dirundingkan dengan orangtua kamu. Daripada udah terlanjur makin kecemplung, mau berenang ke atas lagi juga sdh nanggung. So better menurutku coba obrolin sama ortumu dulu deh, dan be honest to them about what you feel. Goodluck syantik! 😛

  • Hai bu ninda 😀😀 nggak tau kenapa pengen nangis baca tulisan ini haha sedih gitu, to be honest cita cita dari SMA pengen jadi psikolog tapi endingnya sekarang jadi anak teknik haha. Selesai baca ini Jadi mikir kenapa dulu gak masuk psikologi aja, seru deh kuliah psikologi, kayaknya enak ya kuliah sesuai passion, enak ya kalo skripsi nya bisa dapet data dari wawancara ketemu orang, enak ya kuliah belajar parenting bukannya belajar proses di pabrik 😂😂.. apalagi sekarang udah smt akhir lagi magang di pabrik yang panas bising bau dan lagi mikir Tugas Akhir juga, baca tulisan ini makin ngerasa nyesel kenapa nggak masuk psikologi aja 😂😂😂

    • Hey Ardina, no need to be sad. Semua pasti sudah jalan-Nya kenapa kamu akhirnya masuk teknik. Dan jangan salah, temen sekelasku waktu S2 ada yang S1-nya dari teknik lho. Dan banyak juga penggagas parenting yang concern banget sm dunia anak ternyata dulunya anak teknik. Nothing is impossible. Cita-citamu di depan sana masih terbuka lebar untuk menjadi apapun yang kamu inginkan! 😀

  • Aaaahhh ibu ninda, berasa ngaca deh bacanya, mirip sama pengalaman S1 psikologi aku, kurang lebih begitu.. Kurang tidur, jarang main, jarang nongkrong juga hahahahaha tapi bikin kangeeeennn bgt
    Btw, makasi bu ninda saran S2 nya, bisa jadi bahan pertimbangan buat aku, sukses buat ibu ninda 😘

    • Iyaaa kaaaan.. Bikin kangen kaaan.. Tapi coba deh diulang lagi beneran, pasti bawaannya pingin kabur. Hihihihi 😀

  • Bu Ninda, im so happy to know you!! Semakin jatuh hati sama ibu setelah baca ini 💖 kita punya cita2 yg sama bu, saya juga pengen jd psikolog sejak kelas 3 sd, dan Alhamdulillah sekarang saya kuliah di Psikologi semester 4 😆 dari dulu saya juga bercita2 ingin jd psikolog anak. Saya benar2 tertarik dengan dunia anak, terlebih saat belajar matkul psi. Perkembangan. Tapi kadang saya juga bingung, kalau jd psikolog anak tentu yg ditangani adalah gangguan2 pd anak. Sedangkan yg saya pikirkan, saya inginnya membahas dunia parenting, anak usia dini, dan sejenisnya (jauh dr gangguan). Daan tadinya saya juga punya cita2 untuk masuk S2 Psikologi Klinis Anak UI, namun setelah membaca blog ibu, sepertinya yg saya inginkan bukanlah jadi psikolog anak, tapi praktisi anak usia dini, saya juga bercita2 ingin membuat daycare/tk. Saya langsung searching ttg Psikologi Terapan, dan sama sekali not bad yaa buu, sepertinya memang itu yg saya inginkan. Aaahh bu Ninda, ingin sekali rasanya bertemu dengan ibu. Semoga saya bisa sesukses ibu juga yaa, dan cita2 kita yg belum tercapai, bisa tercapai. Amiiinnnn. Terimakasih atas tulisan ini yaa bu, dari kemarin saya sangat excited menunggu tulisan ini, sangat2 membantuuu. Salam buat si cakep une ya buu dan sehat selalu bunin 💖💖💖

    • Hai Nida! Ya ampun, ternyata kita sehati banget. Pengalaman yang kita lalui juga mirip-mirip ya. Goodluck dan selalu semangat menjalani hari-harimu ke depannya ya. Bismillah, pasti bisa 🙂 Salam balik dari Abang Une! 😀

  • Assalamualaikum Ibu Ninda! Aku dari sejak nemu instagram Une pas masih bayi langsung ngefansss sama Ibu Nindaa❤. Tulisan-tulisan dan sharingnya Ibu Ninda selalu memotivasi aku buat meniru Ibu Ninda hehehe. Kebetulan saat ini aku kuliah S1 Psikologi dan pengennn banget lanjut S2 Psikologi Profesi. Doain aku yaah semoga bisa jadi sekeren Ibu Nindaaa hihi. Semoga Ibu Ninda sukses gapai semua cita-citanya dan lancar proses persalinan dedek bayinya nanti, aamiin! Salam buat Une dan the next baby A yaah!❤ -Mery

    • Hi Mery! Terimakasih banyak yaaa.. Kamu juga sukses ya S2-nya, pasti bisa dan lancar sampai lulus! 😀

  • ahhh bu ninda, ak jg msh kuliah semester 6 psikologi nih…. tulisannya memotivasi banget 🙂 sukakk.. dan aku juga psikologi semester 6 dan lg ambil penjurusan ke aplikasi keluarga nih semester ini, semoga aku bisa sukses dan lancar juga kuliahnya yaa

    • Aamiin.. Ibarat lagi proses melahirkan mah, semester 6 itu udah deket-deket lahiran tuh hehehehe.. Lancar ya sampai lulus. Bismillah, Safirah can do it! 😀

  • Hai ibu Ninda!😊 Tips kuliah-nya bikin semangat💞 Semoga aku bisa kayak ibu Ninda yang semangat kuliah terus.
    Menurut aku kalau kita kuliah di bidang yang kita sukai, seberat apapun pasti tetap enjoy. Ya kan, bu?
    Aku juga kayak bu Ninda nih dari kecil mau nya ambil Psikologi hehehe

    • Yup, bener banget! Kalau kita suka, pasti kita enjoy, dan hasil yang kita berikan pasti baik. Lancar-lancar ya kuliahmu! 🙂

  • Hai Bu Ninda! (But actually I prefer to call u kak Ninda, soalnya berasa ketemu kakak angkatan beda kampus😂). Aku baca post bu Ninda ini ditengah2 lg frustasi ngerjain tugas mata kuliah kontes, dan seketika baca pengalaman Ibu Ninda itu rasanya kayak I know I’m not The Only One. Rasanya pas bgt baca postingan bu Ninda disaat lg frustasi ngerjain tugas kontes dan lagi di titik dimana aku bener2 lack of motivation. Btw aku skrg kuliah psikologi semester 6. Dan membaca postingan bu Ninda tuh bener2 buat aku jadi lebih semangat (kedengaran lebay tp ini beneran lho Bu hehehe) terutama kata2 ayahnya bu Ninda yg kedengarannya kok simple tp kok bisa ngena bgt ya? Hehehe. Terimankasih Bu Ninda sudah berbagi, bener2 kagum lho sama Bu Ninda. Tetap menginspirasi. Salam buat keluarga Bu Ninda ya☺

    • Hai Haerini, aku suka banget baca comment darimu. Iya, betul sekali, kamu ngga sendirian. Dulu, aku 7 tahun yang lalu juga merasakan exactly the same like yours kok. Aku aja bisa bertahan, kamupun pasti bisa, hehehe. Semangat terus ya sayang! 🙂

  • Bu Nindaa, sukaa bangeeet sama postingannyaa. Aku lagi nyusun skripsi niih dan langsung semangaat lagi setelah baca postingannya. Thank youu soo mucch! Sukses terus buat Bu Nindaa dan keluarga yaaa

  • Assalamu’alaikum ibu Ninda 🙂
    Saya mengenal ibu ninda, dari saya kelas 2 SMA dan sekarang saya sedang kuliah psikologi semester 2. Dari awal masuk SMA saya bercita cita untuk lanjut kuliah psikologi dengan berbagai alasan pribadi dan dari beberapa pengetahuan tentang psikologi yang saya tau, dan membuat saya tertarik. Tapi awalnya orang tua saya kurang setuju, dan memberi saran jurusan lain. Tapi saya tetap kekeh ingin ambil psikologi, dan salah satu orang yang menginspirasi saya untuk tetap ambil psikologi adalah Ibu Ninda :). Saya sangat amaze dengan bu ninda, dan terinspirasi untuk bisa menjadi seorang ibu yang hebat seperti bu ninda. Dan saya juga selalu mengikuti postingan ibu ninda di #IbuNindaParentingSharing. Terimakasih ibu ninda atas postingan ini juga,membuat saya lebih semangat untuk mengikuti perkuliahan. Semoga Ibu Ninda sekeluarga selalu sehat dan dalam lindungan Allah swt. 🙂

    • Hai Rizki, senangnya baca tulisanmu. Sama-sama sayang! Semoga lancar terus kuliahnya dan ilmunya berkah ya, Ki. Keep up the spirit! 🙂

  • Ibu Ninda! 😍
    Ah jadi tambah galau nih nentuin jurusan kuliah.
    Inget banget waktu SD sering mantengin berita sama acara parenting di tv. Sering denger kata psikolog gitu, jadi tertarik. Tapi karena situasi lingkungan -keluarga&sekolah ngga mendukung, ngga ada yg bahas-bahas psikologi akhirnya sirna sudah. Aku anggap cuman keinginan bocah yg ngga bakal diterusin.
    Pas kelas 3 SMP guru aku ada tuh yang bahas psikologi, jadi tumbuh lagi kan minat di psikologi. Sampai pertama masuk SMA nulis cita-cita kedepanpun jurusan psikologi.
    Tapi di penghujung akhir SMA ini jadi pindah haluan, hikss 😭
    Udah daftar juga fakultas ilmu kelautan dan perikanan. Galau banget Ibuk!! 😭

    • Heeey, maaf ya aku baru baca. Jadi sekarang kamu kelas 3 SMA nih? Ayo tentukan pilihanmu, tinggal sebentar lagi lho! Tapi aku yakin, apapun pilihanmu nanti pasti itulah yang terbaik buat kamu. Semangat terus yaaa 😀

  • hi kak Nindaa 🙂 aku Rana, aku sm dgn kak Ninda S1 psikologi. aku skrg lg ada rencana mau ambil S2 psikologi kak. aku suka banget baca cerita dan sharing kak Ninda di blognya kakak. apalagi bagian part ttg psikologi inii. makasiiih banyaaak yaaa kak sharingnyaaa.. ini membuat aku ada hal baru lagi yg aku tau ttg S2 psikologi, khususnya perbedaan psikologi profesi klinis anak dan psikologi anak usia dini. semoga nanti pilihan yg aku pilih sesuai dgn apa yg aku inginkan nantinya 🙂 anw sehat2 terus ya kak Ninda dan keluarga, serta sukses selalu yaaa kaaak 🙂

  • Haiiii bu nindaa!
    apakabar nih bu? keluarga sehat kan bu? selalu jaga kesehatan ya, bu nin :). btw aku udah lama bgtt ga mampir ke blog nya bu ninda dan aku nyempetin malem ini buat buka blog ini. dan wah! banyak banget pengalaman bu nin yang aku jadiin motivasi kedepannya, apalagi diriku udah mau un dan jadi camaba uyee! wkwkw. doain aku ya bu nin biar masuk di jurusan impianku wkwkwk.

    salam cinta berbalutkan kehangatan dari palembang 🙂

  • Perkenalkan bu ninda namaku kirara. Aku semt4 jurusan psikologi. Baca postingan bu ninda bikin aku semngat kuliah. Sebenernya aku lagi bingung sama pemintan di smt5 nanti. Aku pingin ambil klinis. Tapi masih galau gitu. Trus hbis baca postingan bu ninda kayanya aku mantep buat ambil klinis. Makasih buat postingannya bu ninda sangat menginspirasi. Sukses selalu bu ninda…

    • Hai Kirara (what a cute name you have!), alhamdulillah akhirnya ngga galau lagi ya menentukan pilihan peminatan, hehehe. Bismillah ya, semoga peminatannya cocok sama kamu dan lancar terus kuliahnya. Semangaaat! 🙂

  • ibu ninda terimakasih banyak atas sharingnyaa! i feel youuu banget, seperti ketemu jodoh kuliah di jurusan psikologi. menyenangkan sekali ya bisa menikmati proses belajar padahal gak selalu menyenangkan dan mudah. dan terimakasih banyak bu untuk gambaran S2nya! kurang lebih bisa membuka pikiranku yang masih buta tapi pengen banget langsung lanjut S2 setelah lulus. semoga selalu bisa menginspirasi kita semua dan menjadi ibu sekaligus istri yang baik ya bu ninda. much love!x

    • Hello Namira, sama-sama sayang. Terus berjuang gapai cita-citamu ya. Much love back from me & family! 😀

  • BU NINDAAAAAA. coba kalo aku tau ibu dari 3 tahun lalu, mungkin aku dibolehin mamaku buat masuk jurusan psikologi😭😭😭
    Tp Alhamdulillah, skg aku ada di jurusan (re: Kedokteran Hewan) yg aku minatin juga. Tp kalo denger SNMPTN knp msh suka ada kesesalan gitu ya Bu😂
    I’m so happy to read your story. Ikut bahagia bacanya. Semoga terus selalu bahagia ya Bu Ninda, Ayah Dodo, sm Une
    Thank you💓💓💓

    • Hai Sasa! Percaya deh berarti jurusan Kedokteran Hewan itu memang yang paling cucok buatmu, hihihi. Mau dong kapan-kapan kucingku kamu periksa yaa.. Semangat terus, (soon-to-be) vet! 😀

  • Mba…… Knp jln hidup kita mirip yahhhh😅😅 [cerita S1nya] ahhh jd seneng bgt ternyata ada ya yg mirip aku hehe….
    Mba bisa dongg kenalan live…

    • Hihihi ayoook! Nanti kapan-kapan aku adain meet&greet yah kalo adiknya Une sudah lahir 😀

  • Assalamualaikum ibu Ninda, saya suka sekali postingan ini. Saya baru lulus S1 psikologi dan sekarang bingung soalnya minat ke terapan anak usia dini ini, tapi googling jarang bgt ada yg cerita kayak ibu Ninda gini. Agak tambah yakin sih untuk lanjut terapan, tapi yg masih bingung gimana jelasin ke ortu/org2 sekitar yg memandang “buat apa s2 kalo gabisa praktek?” :”) bisa ditambahkan lagi nggak bu, kira2 apa lagi keuntungan kalo lanjut s2 anak usia dini? Terima kasih banyak sebelumnya 🙂

    • Waalaikumsalam Shabrina! Hmm.. Kalo menurutku begini, kamu tentukan dulu apa yang mau kamu raih ketika lulus nanti. Kalo kamu udah tau mau kamu apa (misalnya mau bikin preschool), hal itulah yang menjadi alasan kamu untuk disampaikan kepada ortu kenapa kamu harus ambil terapan. Jadi, back to your reason kenapa kamu harus ambil terapan. Kalo keuntungannya sendiri sih banyak menurutku: 1) jadi belajar cara membuat preschool/daycare beserta kurikulum dan tetek bengeknya, 2) tetep belajar tentang anak berkebutuhan khusus walaupun tidak memiliki kewenangan untuk diagnose (tapi kita tetep ngerti so we can refer them to psychologist), 3) banyak prakteknya yang mengharuskan kita terjun langsung dengan hal-hal terkait anak usia dini yang ada di sekitar kita, 4) terlatih untuk berpikir kreatif dalam menyelesaikan masalah-masalah pada anak usia dini, 5) membuka mataku kalau banyak sekali “lahan bisnis” yang terkait anak usia dini (tentunya sangat bermanfaat ketika sudah lulus), dan masyih buanyuak lagi hehehe.. Aku jadi panjang deh ini nulisnya 😀

  • Hai Tirsha! Ah terimakasih banyaaak, aku jadi senyum-senyum baca tulisanmu nih. Iya, seneng rasanya bisa bisnis tapi di sisi lain bermanfaat untuk orang lain hehehe. Terimakasih (juga) sekali lagi yaa.. Have a good day, sayang! 😀

  • Assalamualaikum, Ibu Ninda. Aku baru bgt lulus SMA dan lagi nyari2 universitas swasta yang bagus buat jurusan psikologi. Orang tuaku nyaranin di UNIKA Atma Jaya tapi aku masih agak ragu jadi aku mau tanya2 sedikit sama Bu Ninda. Bener ga sih Bu kalo Pendidikan Agama Katolik jadi mata kuliah wajib untuk semua mahasiswa/i? Kalau iya, waktu itu kesan pesan dan pengalaman Bu Ninda selama mata kuliah itu gimana? Terus juga kalo jurusan Psikologi itu ngerasain internship gitu gak sih Bu dan biasanya ditempatinnya dimana? Makasih banyak Ibu Ninda! 🙂

    • Hai Aulya! Tidak benar kok, dulu aku juga ngga ambil matkul Agama Katolik. Seingatku dulu ada dua pilihan: Agama Katolik dan Pendidikan Agama. Matkul Pendidikan Agama ini mempelajari kebhinekaan agama secara umum (seingatku ada pelajaran dari segi filsafatnya juga deh), jadi kalo yang non-Katolik ambilnya Pendidikan Agama ini. Intership ada. Kalau dulu mahasiswanya sendiri yang cari dan apply mau magang dimana, nnt dari pihak kampus bantu kasih surat keterangan kalau memang benar mahasiswa tsb ingin magang untuk keperluan kuliah, dulu sih aku gitu ya. Dulu aku magangnya di daycare, karena mmg aku kepinginnya di situ. Ada juga beberapa temenku yang di perusahaan2 atau sekolah2, pokoknya terserah sendiri mau magang dimana. Semoga membantu ya 🙂

  • Nyampe kantor langsung banget kepikiran buat baca blog nya ka ninda..aaaa ka nin pasti udah apal banget sama aku yang tukan komen dan (tukang stalking) medsos nya ka ninda hihi **sorry**
    entah kenapa di postingan ini banyak banget yang pas aku baca tuh “bener banget yah”, “gue banget yah”. Inget banget pas jaman SMA kelas 3 dan mau masuk perguruan tinggi yang kepikiran aku tuju adalah ‘universitas(nya) yang bergengsi’ ga peduli mau jurusan apa, ngga peduli apa bener kita bakalan fit in atau engga dengan jurusan yang kita ambil nanti. and then.. i was the one who finally back to my childhood dream just like you, inget banget dulu jaman SD setiap kali nulis di biodata di buku ‘biodata’ temen2 yang ngehits di jaman SD, aku selalu nulis bahwa cita-citaku jadi psikolog. dan bersyukur banget aku ‘sadar’ untuk akhirnya mengambil jurusan yang memang cita-citaku, ga masalah dengan perguruan tinggi nya apa.
    Makasih banyak ka ninda sharing2 berharganya ~ tulisan ka ninda yang suka ‘bener banget’ yang selalu bikin aku makin jatuh cinta juga hihi.
    Someday adain meet and greet yaaa ka nin, buat sharing banyak hal tentang your life journey dan mungkin kita-kita yang biasa baca blog ataupun ngikutin postingan ka ninda juga bisa ikutan ‘curhat’
    Keep happy and healthy yaa. Love yaaaaa :*

    • Rizkaaa, love your nice words! Thanks so much yaaa.. Seneng banget juga kalo ceritaku ternyata relate dengan pengalamanmu juga hehehe. Keep reading my blog ya! 😀 Bolehhh, nnt kalau sudah lahiran adiknya Une ya kita adain meet&greet 😀

  • Bu ninda…setelah baca ceritamu saya jadi bingung sendiri ma diri saya sendiri. Saya lulusan s1 psikologi dan saat ini sedang menempuh s2 profesi psikologi kelas malam di salah satu PTS. Setiap membaca artikel atau pengalaman seseorang menyelesaikan studi psikologinya, saya merasa ikut termotivasi. Tapi jujur kuliah sambil bekerja itu sangat menguras waktu, tenaga dan uang. Saya merasa tidak fokus dengan hidup saya sendiri. Terlebih lagi setelah saya menikah dan hamil, sepertinya kebutuhan saya terpecah-pecah. Saya agak tertarik dengan jurusan psikologi terapan, jujur kalau terburuknya saya harus menyerah di s2 profesi psikologi ini saya tetap bertekad kelak harus bisa kuliah lagi walau mungkin di jalur keilmuan lain. Terima kasih atas sharing ceritanya,,semoga kelak kita bisa bertemu langsung yaa bu ninda.

  • Dear Ibu Ninda,
    Sebenernya aku udah lama follow ig dan stalk blognya bu ninda dan Une. Ini lagi aku baca lagi, berharap menemukan ‘light in the dark’. Hahaa.
    So, aku sudah menikah, setahun lalu, pas barengan sama aku keterima S2 profesi psikologi di UGM. Memang jadi anak mapro itu tugasnya banyaaakk, demand nya juga lumayan berat. Tapi aku enjoy dengan kesibukan ku kuliah, dan asyiknya jadi istri (eciyee..). Karena suami aku juga mendukung banget semua aktivitas kuliahku, aku sama sekali nggak punya masalah, dan nilai-nilaiku alhamdulillah baik-baik aja.
    Some morning, karena aku telat mens beberapa hari, aku coba testpack, and the result is two stripes.. Rasanya campur aduk antara senang, bingung nggak tau harus gimana, dan cemas.. Secaraaa, aku lagi proses PKPP, which is menyita banyak waktu, tenaga, pikiran juga.. Aku masih nggak yakin sih, aku beneran hamil apa enggak, masih berencana mengunjungi obgyn minggu depan. Hehehee.
    Meskipun kondisi kita agak berbeda (tipis sih..), tapi aku harap aku bisa menjalani keduanya as well as you did! Terimakasih sudah menulis and inspires me.

    Love.

  • COMMENTS (44)

    1. Liel Rahmawati 27th September 2017 at 3:40 pm -

      Dear Ibu Ninda,
      Sebenernya aku udah lama follow ig dan stalk blognya bu ninda dan Une. Ini lagi aku baca lagi, berharap menemukan ‘light in the dark’. Hahaa.
      So, aku sudah menikah, setahun lalu, pas barengan sama aku keterima S2 profesi psikologi di UGM. Memang jadi anak mapro itu tugasnya banyaaakk, demand nya juga lumayan berat. Tapi aku enjoy dengan kesibukan ku kuliah, dan asyiknya jadi istri (eciyee..). Karena suami aku juga mendukung banget semua aktivitas kuliahku, aku sama sekali nggak punya masalah, dan nilai-nilaiku alhamdulillah baik-baik aja.
      Some morning, karena aku telat mens beberapa hari, aku coba testpack, and the result is two stripes.. Rasanya campur aduk antara senang, bingung nggak tau harus gimana, dan cemas.. Secaraaa, aku lagi proses PKPP, which is menyita banyak waktu, tenaga, pikiran juga.. Aku masih nggak yakin sih, aku beneran hamil apa enggak, masih berencana mengunjungi obgyn minggu depan. Hehehee.
      Meskipun kondisi kita agak berbeda (tipis sih..), tapi aku harap aku bisa menjalani keduanya as well as you did! Terimakasih sudah menulis and inspires me.

      Love.

      Reply
    2. Pitra N 04th July 2017 at 3:23 pm -

      Bu ninda…setelah baca ceritamu saya jadi bingung sendiri ma diri saya sendiri. Saya lulusan s1 psikologi dan saat ini sedang menempuh s2 profesi psikologi kelas malam di salah satu PTS. Setiap membaca artikel atau pengalaman seseorang menyelesaikan studi psikologinya, saya merasa ikut termotivasi. Tapi jujur kuliah sambil bekerja itu sangat menguras waktu, tenaga dan uang. Saya merasa tidak fokus dengan hidup saya sendiri. Terlebih lagi setelah saya menikah dan hamil, sepertinya kebutuhan saya terpecah-pecah. Saya agak tertarik dengan jurusan psikologi terapan, jujur kalau terburuknya saya harus menyerah di s2 profesi psikologi ini saya tetap bertekad kelak harus bisa kuliah lagi walau mungkin di jalur keilmuan lain. Terima kasih atas sharing ceritanya,,semoga kelak kita bisa bertemu langsung yaa bu ninda.

      Reply
    3. Rizka Marshifa 24th May 2017 at 7:30 am -

      Nyampe kantor langsung banget kepikiran buat baca blog nya ka ninda..aaaa ka nin pasti udah apal banget sama aku yang tukan komen dan (tukang stalking) medsos nya ka ninda hihi **sorry**
      entah kenapa di postingan ini banyak banget yang pas aku baca tuh “bener banget yah”, “gue banget yah”. Inget banget pas jaman SMA kelas 3 dan mau masuk perguruan tinggi yang kepikiran aku tuju adalah ‘universitas(nya) yang bergengsi’ ga peduli mau jurusan apa, ngga peduli apa bener kita bakalan fit in atau engga dengan jurusan yang kita ambil nanti. and then.. i was the one who finally back to my childhood dream just like you, inget banget dulu jaman SD setiap kali nulis di biodata di buku ‘biodata’ temen2 yang ngehits di jaman SD, aku selalu nulis bahwa cita-citaku jadi psikolog. dan bersyukur banget aku ‘sadar’ untuk akhirnya mengambil jurusan yang memang cita-citaku, ga masalah dengan perguruan tinggi nya apa.
      Makasih banyak ka ninda sharing2 berharganya ~ tulisan ka ninda yang suka ‘bener banget’ yang selalu bikin aku makin jatuh cinta juga hihi.
      Someday adain meet and greet yaaa ka nin, buat sharing banyak hal tentang your life journey dan mungkin kita-kita yang biasa baca blog ataupun ngikutin postingan ka ninda juga bisa ikutan ‘curhat’
      Keep happy and healthy yaa. Love yaaaaa :*

      Reply
      • The-A-Family 04th June 2017 at 1:32 pm

        Rizkaaa, love your nice words! Thanks so much yaaa.. Seneng banget juga kalo ceritaku ternyata relate dengan pengalamanmu juga hehehe. Keep reading my blog ya! 😀 Bolehhh, nnt kalau sudah lahiran adiknya Une ya kita adain meet&greet 😀

        Reply
    4. Aulya 07th May 2017 at 8:59 pm -

      Assalamualaikum, Ibu Ninda. Aku baru bgt lulus SMA dan lagi nyari2 universitas swasta yang bagus buat jurusan psikologi. Orang tuaku nyaranin di UNIKA Atma Jaya tapi aku masih agak ragu jadi aku mau tanya2 sedikit sama Bu Ninda. Bener ga sih Bu kalo Pendidikan Agama Katolik jadi mata kuliah wajib untuk semua mahasiswa/i? Kalau iya, waktu itu kesan pesan dan pengalaman Bu Ninda selama mata kuliah itu gimana? Terus juga kalo jurusan Psikologi itu ngerasain internship gitu gak sih Bu dan biasanya ditempatinnya dimana? Makasih banyak Ibu Ninda! 🙂

      Reply
      • The-A-Family 09th May 2017 at 6:28 pm

        Hai Aulya! Tidak benar kok, dulu aku juga ngga ambil matkul Agama Katolik. Seingatku dulu ada dua pilihan: Agama Katolik dan Pendidikan Agama. Matkul Pendidikan Agama ini mempelajari kebhinekaan agama secara umum (seingatku ada pelajaran dari segi filsafatnya juga deh), jadi kalo yang non-Katolik ambilnya Pendidikan Agama ini. Intership ada. Kalau dulu mahasiswanya sendiri yang cari dan apply mau magang dimana, nnt dari pihak kampus bantu kasih surat keterangan kalau memang benar mahasiswa tsb ingin magang untuk keperluan kuliah, dulu sih aku gitu ya. Dulu aku magangnya di daycare, karena mmg aku kepinginnya di situ. Ada juga beberapa temenku yang di perusahaan2 atau sekolah2, pokoknya terserah sendiri mau magang dimana. Semoga membantu ya 🙂

        Reply
    5. The-A-Family 03rd May 2017 at 9:50 pm -

      Hai Tirsha! Ah terimakasih banyaaak, aku jadi senyum-senyum baca tulisanmu nih. Iya, seneng rasanya bisa bisnis tapi di sisi lain bermanfaat untuk orang lain hehehe. Terimakasih (juga) sekali lagi yaa.. Have a good day, sayang! 😀

      Reply
    6. Shabrina 26th April 2017 at 8:01 pm -

      Assalamualaikum ibu Ninda, saya suka sekali postingan ini. Saya baru lulus S1 psikologi dan sekarang bingung soalnya minat ke terapan anak usia dini ini, tapi googling jarang bgt ada yg cerita kayak ibu Ninda gini. Agak tambah yakin sih untuk lanjut terapan, tapi yg masih bingung gimana jelasin ke ortu/org2 sekitar yg memandang “buat apa s2 kalo gabisa praktek?” :”) bisa ditambahkan lagi nggak bu, kira2 apa lagi keuntungan kalo lanjut s2 anak usia dini? Terima kasih banyak sebelumnya 🙂

      Reply
      • The-A-Family 03rd May 2017 at 10:09 pm

        Waalaikumsalam Shabrina! Hmm.. Kalo menurutku begini, kamu tentukan dulu apa yang mau kamu raih ketika lulus nanti. Kalo kamu udah tau mau kamu apa (misalnya mau bikin preschool), hal itulah yang menjadi alasan kamu untuk disampaikan kepada ortu kenapa kamu harus ambil terapan. Jadi, back to your reason kenapa kamu harus ambil terapan. Kalo keuntungannya sendiri sih banyak menurutku: 1) jadi belajar cara membuat preschool/daycare beserta kurikulum dan tetek bengeknya, 2) tetep belajar tentang anak berkebutuhan khusus walaupun tidak memiliki kewenangan untuk diagnose (tapi kita tetep ngerti so we can refer them to psychologist), 3) banyak prakteknya yang mengharuskan kita terjun langsung dengan hal-hal terkait anak usia dini yang ada di sekitar kita, 4) terlatih untuk berpikir kreatif dalam menyelesaikan masalah-masalah pada anak usia dini, 5) membuka mataku kalau banyak sekali “lahan bisnis” yang terkait anak usia dini (tentunya sangat bermanfaat ketika sudah lulus), dan masyih buanyuak lagi hehehe.. Aku jadi panjang deh ini nulisnya 😀

        Reply
    7. Ayuu 26th April 2017 at 12:33 am -

      Mba…… Knp jln hidup kita mirip yahhhh😅😅 [cerita S1nya] ahhh jd seneng bgt ternyata ada ya yg mirip aku hehe….
      Mba bisa dongg kenalan live…

      Reply
      • The-A-Family 03rd May 2017 at 9:56 pm

        Hihihi ayoook! Nanti kapan-kapan aku adain meet&greet yah kalo adiknya Une sudah lahir 😀

        Reply
    8. Sasa 18th April 2017 at 12:35 pm -

      BU NINDAAAAAA. coba kalo aku tau ibu dari 3 tahun lalu, mungkin aku dibolehin mamaku buat masuk jurusan psikologi😭😭😭
      Tp Alhamdulillah, skg aku ada di jurusan (re: Kedokteran Hewan) yg aku minatin juga. Tp kalo denger SNMPTN knp msh suka ada kesesalan gitu ya Bu😂
      I’m so happy to read your story. Ikut bahagia bacanya. Semoga terus selalu bahagia ya Bu Ninda, Ayah Dodo, sm Une
      Thank you💓💓💓

      Reply
      • The-A-Family 03rd May 2017 at 9:55 pm

        Hai Sasa! Percaya deh berarti jurusan Kedokteran Hewan itu memang yang paling cucok buatmu, hihihi. Mau dong kapan-kapan kucingku kamu periksa yaa.. Semangat terus, (soon-to-be) vet! 😀

        Reply
    9. namira 15th April 2017 at 9:00 pm -

      ibu ninda terimakasih banyak atas sharingnyaa! i feel youuu banget, seperti ketemu jodoh kuliah di jurusan psikologi. menyenangkan sekali ya bisa menikmati proses belajar padahal gak selalu menyenangkan dan mudah. dan terimakasih banyak bu untuk gambaran S2nya! kurang lebih bisa membuka pikiranku yang masih buta tapi pengen banget langsung lanjut S2 setelah lulus. semoga selalu bisa menginspirasi kita semua dan menjadi ibu sekaligus istri yang baik ya bu ninda. much love!x

      Reply
      • The-A-Family 03rd May 2017 at 9:53 pm

        Hello Namira, sama-sama sayang. Terus berjuang gapai cita-citamu ya. Much love back from me & family! 😀

        Reply
    10. Brilliandani kirara putri 03rd April 2017 at 6:09 pm -

      Perkenalkan bu ninda namaku kirara. Aku semt4 jurusan psikologi. Baca postingan bu ninda bikin aku semngat kuliah. Sebenernya aku lagi bingung sama pemintan di smt5 nanti. Aku pingin ambil klinis. Tapi masih galau gitu. Trus hbis baca postingan bu ninda kayanya aku mantep buat ambil klinis. Makasih buat postingannya bu ninda sangat menginspirasi. Sukses selalu bu ninda…

      Reply
      • The-A-Family 03rd May 2017 at 9:51 pm

        Hai Kirara (what a cute name you have!), alhamdulillah akhirnya ngga galau lagi ya menentukan pilihan peminatan, hehehe. Bismillah ya, semoga peminatannya cocok sama kamu dan lancar terus kuliahnya. Semangaaat! 🙂

        Reply
    11. Mutia faradina 01st April 2017 at 9:13 pm -

      Haiiii bu nindaa!
      apakabar nih bu? keluarga sehat kan bu? selalu jaga kesehatan ya, bu nin :). btw aku udah lama bgtt ga mampir ke blog nya bu ninda dan aku nyempetin malem ini buat buka blog ini. dan wah! banyak banget pengalaman bu nin yang aku jadiin motivasi kedepannya, apalagi diriku udah mau un dan jadi camaba uyee! wkwkw. doain aku ya bu nin biar masuk di jurusan impianku wkwkwk.

      salam cinta berbalutkan kehangatan dari palembang 🙂

      Reply
    12. Rana 31st March 2017 at 9:07 pm -

      hi kak Nindaa 🙂 aku Rana, aku sm dgn kak Ninda S1 psikologi. aku skrg lg ada rencana mau ambil S2 psikologi kak. aku suka banget baca cerita dan sharing kak Ninda di blognya kakak. apalagi bagian part ttg psikologi inii. makasiiih banyaaak yaaa kak sharingnyaaa.. ini membuat aku ada hal baru lagi yg aku tau ttg S2 psikologi, khususnya perbedaan psikologi profesi klinis anak dan psikologi anak usia dini. semoga nanti pilihan yg aku pilih sesuai dgn apa yg aku inginkan nantinya 🙂 anw sehat2 terus ya kak Ninda dan keluarga, serta sukses selalu yaaa kaaak 🙂

      Reply
      • The-A-Family 03rd May 2017 at 9:47 pm

        Hai Rana, sama-sama ya sayang! Semangat terus menggapai cita-cita kamu ya 🙂

        Reply
    13. Latif Krisdiawati 31st March 2017 at 11:37 am -

      Ibu Ninda! 😍
      Ah jadi tambah galau nih nentuin jurusan kuliah.
      Inget banget waktu SD sering mantengin berita sama acara parenting di tv. Sering denger kata psikolog gitu, jadi tertarik. Tapi karena situasi lingkungan -keluarga&sekolah ngga mendukung, ngga ada yg bahas-bahas psikologi akhirnya sirna sudah. Aku anggap cuman keinginan bocah yg ngga bakal diterusin.
      Pas kelas 3 SMP guru aku ada tuh yang bahas psikologi, jadi tumbuh lagi kan minat di psikologi. Sampai pertama masuk SMA nulis cita-cita kedepanpun jurusan psikologi.
      Tapi di penghujung akhir SMA ini jadi pindah haluan, hikss 😭
      Udah daftar juga fakultas ilmu kelautan dan perikanan. Galau banget Ibuk!! 😭

      Reply
      • The-A-Family 03rd May 2017 at 9:46 pm

        Heeey, maaf ya aku baru baca. Jadi sekarang kamu kelas 3 SMA nih? Ayo tentukan pilihanmu, tinggal sebentar lagi lho! Tapi aku yakin, apapun pilihanmu nanti pasti itulah yang terbaik buat kamu. Semangat terus yaaa 😀

        Reply
    14. Rizki Amaliyah 31st March 2017 at 5:46 am -

      Assalamu’alaikum ibu Ninda 🙂
      Saya mengenal ibu ninda, dari saya kelas 2 SMA dan sekarang saya sedang kuliah psikologi semester 2. Dari awal masuk SMA saya bercita cita untuk lanjut kuliah psikologi dengan berbagai alasan pribadi dan dari beberapa pengetahuan tentang psikologi yang saya tau, dan membuat saya tertarik. Tapi awalnya orang tua saya kurang setuju, dan memberi saran jurusan lain. Tapi saya tetap kekeh ingin ambil psikologi, dan salah satu orang yang menginspirasi saya untuk tetap ambil psikologi adalah Ibu Ninda :). Saya sangat amaze dengan bu ninda, dan terinspirasi untuk bisa menjadi seorang ibu yang hebat seperti bu ninda. Dan saya juga selalu mengikuti postingan ibu ninda di #IbuNindaParentingSharing. Terimakasih ibu ninda atas postingan ini juga,membuat saya lebih semangat untuk mengikuti perkuliahan. Semoga Ibu Ninda sekeluarga selalu sehat dan dalam lindungan Allah swt. 🙂

      Reply
      • The-A-Family 03rd May 2017 at 9:43 pm

        Hai Rizki, senangnya baca tulisanmu. Sama-sama sayang! Semoga lancar terus kuliahnya dan ilmunya berkah ya, Ki. Keep up the spirit! 🙂

        Reply
    15. Atikah 31st March 2017 at 2:39 am -

      Bu Nindaa, sukaa bangeeet sama postingannyaa. Aku lagi nyusun skripsi niih dan langsung semangaat lagi setelah baca postingannya. Thank youu soo mucch! Sukses terus buat Bu Nindaa dan keluarga yaaa

      Reply
      • The-A-Family 25th April 2017 at 10:21 pm

        Ayooo, kelarin skripsinya! Lancar ya Atikah sayang! 🙂

        Reply
    16. Haerini 31st March 2017 at 1:41 am -

      Hai Bu Ninda! (But actually I prefer to call u kak Ninda, soalnya berasa ketemu kakak angkatan beda kampus😂). Aku baca post bu Ninda ini ditengah2 lg frustasi ngerjain tugas mata kuliah kontes, dan seketika baca pengalaman Ibu Ninda itu rasanya kayak I know I’m not The Only One. Rasanya pas bgt baca postingan bu Ninda disaat lg frustasi ngerjain tugas kontes dan lagi di titik dimana aku bener2 lack of motivation. Btw aku skrg kuliah psikologi semester 6. Dan membaca postingan bu Ninda tuh bener2 buat aku jadi lebih semangat (kedengaran lebay tp ini beneran lho Bu hehehe) terutama kata2 ayahnya bu Ninda yg kedengarannya kok simple tp kok bisa ngena bgt ya? Hehehe. Terimankasih Bu Ninda sudah berbagi, bener2 kagum lho sama Bu Ninda. Tetap menginspirasi. Salam buat keluarga Bu Ninda ya☺

      Reply
      • The-A-Family 25th April 2017 at 10:20 pm

        Hai Haerini, aku suka banget baca comment darimu. Iya, betul sekali, kamu ngga sendirian. Dulu, aku 7 tahun yang lalu juga merasakan exactly the same like yours kok. Aku aja bisa bertahan, kamupun pasti bisa, hehehe. Semangat terus ya sayang! 🙂

        Reply
    17. Oktariana 31st March 2017 at 12:04 am -

      Hai ibu Ninda!😊 Tips kuliah-nya bikin semangat💞 Semoga aku bisa kayak ibu Ninda yang semangat kuliah terus.
      Menurut aku kalau kita kuliah di bidang yang kita sukai, seberat apapun pasti tetap enjoy. Ya kan, bu?
      Aku juga kayak bu Ninda nih dari kecil mau nya ambil Psikologi hehehe

      Reply
      • The-A-Family 25th April 2017 at 10:19 pm

        Yup, bener banget! Kalau kita suka, pasti kita enjoy, dan hasil yang kita berikan pasti baik. Lancar-lancar ya kuliahmu! 🙂

        Reply
    18. Safirah Firdausi 30th March 2017 at 10:41 pm -

      ahhh bu ninda, ak jg msh kuliah semester 6 psikologi nih…. tulisannya memotivasi banget 🙂 sukakk.. dan aku juga psikologi semester 6 dan lg ambil penjurusan ke aplikasi keluarga nih semester ini, semoga aku bisa sukses dan lancar juga kuliahnya yaa

      Reply
      • The-A-Family 25th April 2017 at 10:15 pm

        Aamiin.. Ibarat lagi proses melahirkan mah, semester 6 itu udah deket-deket lahiran tuh hehehehe.. Lancar ya sampai lulus. Bismillah, Safirah can do it! 😀

        Reply
    19. Meriam Shabha 30th March 2017 at 10:27 pm -

      Assalamualaikum Ibu Ninda! Aku dari sejak nemu instagram Une pas masih bayi langsung ngefansss sama Ibu Nindaa❤. Tulisan-tulisan dan sharingnya Ibu Ninda selalu memotivasi aku buat meniru Ibu Ninda hehehe. Kebetulan saat ini aku kuliah S1 Psikologi dan pengennn banget lanjut S2 Psikologi Profesi. Doain aku yaah semoga bisa jadi sekeren Ibu Nindaaa hihi. Semoga Ibu Ninda sukses gapai semua cita-citanya dan lancar proses persalinan dedek bayinya nanti, aamiin! Salam buat Une dan the next baby A yaah!❤ -Mery

      Reply
      • The-A-Family 25th April 2017 at 10:14 pm

        Hi Mery! Terimakasih banyak yaaa.. Kamu juga sukses ya S2-nya, pasti bisa dan lancar sampai lulus! 😀

        Reply
    20. Nida Khairunnisaa 30th March 2017 at 9:50 pm -

      Bu Ninda, im so happy to know you!! Semakin jatuh hati sama ibu setelah baca ini 💖 kita punya cita2 yg sama bu, saya juga pengen jd psikolog sejak kelas 3 sd, dan Alhamdulillah sekarang saya kuliah di Psikologi semester 4 😆 dari dulu saya juga bercita2 ingin jd psikolog anak. Saya benar2 tertarik dengan dunia anak, terlebih saat belajar matkul psi. Perkembangan. Tapi kadang saya juga bingung, kalau jd psikolog anak tentu yg ditangani adalah gangguan2 pd anak. Sedangkan yg saya pikirkan, saya inginnya membahas dunia parenting, anak usia dini, dan sejenisnya (jauh dr gangguan). Daan tadinya saya juga punya cita2 untuk masuk S2 Psikologi Klinis Anak UI, namun setelah membaca blog ibu, sepertinya yg saya inginkan bukanlah jadi psikolog anak, tapi praktisi anak usia dini, saya juga bercita2 ingin membuat daycare/tk. Saya langsung searching ttg Psikologi Terapan, dan sama sekali not bad yaa buu, sepertinya memang itu yg saya inginkan. Aaahh bu Ninda, ingin sekali rasanya bertemu dengan ibu. Semoga saya bisa sesukses ibu juga yaa, dan cita2 kita yg belum tercapai, bisa tercapai. Amiiinnnn. Terimakasih atas tulisan ini yaa bu, dari kemarin saya sangat excited menunggu tulisan ini, sangat2 membantuuu. Salam buat si cakep une ya buu dan sehat selalu bunin 💖💖💖

      Reply
      • The-A-Family 25th April 2017 at 10:13 pm

        Hai Nida! Ya ampun, ternyata kita sehati banget. Pengalaman yang kita lalui juga mirip-mirip ya. Goodluck dan selalu semangat menjalani hari-harimu ke depannya ya. Bismillah, pasti bisa 🙂 Salam balik dari Abang Une! 😀

        Reply
    21. Salsabila Saskya 30th March 2017 at 9:28 pm -

      really love bu Ninda’s blog😍😍

      Reply
      • The-A-Family 25th April 2017 at 10:11 pm

        Many thanks, sweetie! 🙂

        Reply
    22. Intan 30th March 2017 at 9:18 pm -

      Aaaahhh ibu ninda, berasa ngaca deh bacanya, mirip sama pengalaman S1 psikologi aku, kurang lebih begitu.. Kurang tidur, jarang main, jarang nongkrong juga hahahahaha tapi bikin kangeeeennn bgt
      Btw, makasi bu ninda saran S2 nya, bisa jadi bahan pertimbangan buat aku, sukses buat ibu ninda 😘

      Reply
      • The-A-Family 25th April 2017 at 10:11 pm

        Iyaaa kaaaan.. Bikin kangen kaaan.. Tapi coba deh diulang lagi beneran, pasti bawaannya pingin kabur. Hihihihi 😀

        Reply
    23. Ardina 30th March 2017 at 9:05 pm -

      Hai bu ninda 😀😀 nggak tau kenapa pengen nangis baca tulisan ini haha sedih gitu, to be honest cita cita dari SMA pengen jadi psikolog tapi endingnya sekarang jadi anak teknik haha. Selesai baca ini Jadi mikir kenapa dulu gak masuk psikologi aja, seru deh kuliah psikologi, kayaknya enak ya kuliah sesuai passion, enak ya kalo skripsi nya bisa dapet data dari wawancara ketemu orang, enak ya kuliah belajar parenting bukannya belajar proses di pabrik 😂😂.. apalagi sekarang udah smt akhir lagi magang di pabrik yang panas bising bau dan lagi mikir Tugas Akhir juga, baca tulisan ini makin ngerasa nyesel kenapa nggak masuk psikologi aja 😂😂😂

      Reply
      • The-A-Family 25th April 2017 at 10:10 pm

        Hey Ardina, no need to be sad. Semua pasti sudah jalan-Nya kenapa kamu akhirnya masuk teknik. Dan jangan salah, temen sekelasku waktu S2 ada yang S1-nya dari teknik lho. Dan banyak juga penggagas parenting yang concern banget sm dunia anak ternyata dulunya anak teknik. Nothing is impossible. Cita-citamu di depan sana masih terbuka lebar untuk menjadi apapun yang kamu inginkan! 😀

        Reply
    24. Novia Safitri 30th March 2017 at 8:55 pm -

      Bu nindaa, aku mau curhaat. Aku kan awal SMA udah pingin banget masuk psikologi. Dan taunya aku ikut tes SBMPTN maupun mandiri dan sebagainya terhempas syantik. Sampai akhirnya aku sekarang masuk di fak. Hukum. Karena saat itu, cm univ ini yang mau nerima aku, tanpa pikir panjang aku langsung terima daannnn sekarang aku smt 2 menuju 3. Aku merasa kesusahan sekali dg materi2 ttg hukum, dan merasa aku ngga cocok dg hukum. Syedih abis. Minta saran dong bu nindaa💛

      Reply
      • The-A-Family 25th April 2017 at 10:07 pm

        Hai syantiiik! Hihihi.. Mumpung baru mau menuju semester 3, mungkin bisa coba dirundingkan dengan orangtua kamu. Daripada udah terlanjur makin kecemplung, mau berenang ke atas lagi juga sdh nanggung. So better menurutku coba obrolin sama ortumu dulu deh, dan be honest to them about what you feel. Goodluck syantik! 😛

        Reply

    Leave a Reply