Processed with VSCOcam with f2 preset

Parenting: Sekolah (KB/TK) untuk Une

Happy Thursday, fellow readers! Hari ini, aku mau cerita serba-serbi mencari, memilih, dan menentukan sekolah untuk Une. Sebenarnya pengalaman ini terjadi sekitar 2 tahun lalu (2015), tapi mungkin tips yang aku berikan dapat terus bermanfaat untuk ibu-ibu yang akan cari sekolah pertama untuk anak balitanya. Oh ya, waktu itu aku juga pernah share tips ini di Instagram Une (@arkhairan), tapi memang terbatas karena caption IG nggak bisa terlalu panjang ‘kan, so I’ll write the details here!

 

Kesiapan Bersekolah

Une mulai disekolahkan sejak usia 3 tahun. Mungkin bisa dikatakan ‘cukup tua’ karena as we all know zaman sekarang banyak orangtua yang menyekolahkan anaknya bahkan sejak usia anak baru genap 1 tahun. Jadi, kenapa Une baru disekolahkan saat usia 3 tahun? Jujur, hal ini penting sekali buat jadi pertimbanganku. Aku betul-betul menakar dan melihat kesiapan diri Une untuk bersekolah. Karena buatku pribadi, sekolah itu nggak main-main. It’s a long long long journey there, dan untuk bisa bertahan menghadapi itu anak mesti siap. Once you start it, you ain’t never gonna stop it.

Pernah nggak merasa bosan dan malas banget sekolah? Namun, bisa nggak quit dulu dan baru sekolah lagi anytime we want? Nggak bisa ‘kan? Nah, makanya buatku sekolah nggak main-main. There’s a huge commitment inside it, yang terkadang buat kita nggak sadar adanya komitmen itu. Dan sebisa mungkin, aku mau memaksimalkan Une agar dia siap untuk bisa stick with that commitment — which I know it’s never easy.

Kesiapan anak balita dalam memasuki dunia sekolah dapat dilihat dari beberapa aspek ini:

  1. Anak memiliki kemampuan berbahasa yang baik (both speaking and listening),
  2. Anak memiliki dasar kemandirian (dapat bermain sendiri, berani, percaya diri, etc),
  3. Anak memiliki kemampuan untuk mengontrol diri yang baik (dapat bersikap baik, tidak melakukan kekerasan pada anak lain, etc),
  4. Anak memiliki kemampuan bersosialisasi yang baik (mau bergaul, mau berbagi mainan dengan teman, etc),
  5. Anak memiliki berbagai pengalaman sebelum disekolahkan, karena melalui pengalaman yang pernah dialami dapat memudahkan anak untuk menghadapi pengalaman baru (misalnya: anak dari kecil memang sudah terbiasa bernyanyi lagu anak-anak di rumah, ketika ia nanti bersekolah dan diajarkan lagu anak-anak, ia sudah tidak ‘kaget’ lagi)

Selain itu, ada lagi aspek penting yaitu anak memiliki kesiapan untuk menerima pelajaran. Hal ini biasanya ditunjukkan dengan: adanya rasa ingin tahu, mampu fokus ketika guru menjelaskan, mampu mengerjakan perintah dengan benar dan tenang, etc. Aspek-aspek yang aku sebut di atas sebenarnya dapat diobservasi dan dinilai sendiri oleh orangtua, apakah anak mereka sudah cukup siap untuk bersekolah atau belum. Nah, that’s why I said it was not an easy game to play — but I know mungkin ada orangtua yang menganggap hal ini sepele, well it’s their choice. I still take it seriously.

Di sisi lain, kesiapan orangtua dan kesiapan sekolah juga perlu dicermati, lho. Untuk kesiapan orangtua: apakah orangtua mampu secara finansial untuk menyekolahkan anaknya, apakah orangtua dapat membantu guru untuk sama-sama memfasilitasi anak belajar dengan baik, etc. Untuk kesiapan sekolah: apakah sekolah dapat memberikan pendidikan yang baik untuk anak, apakah sistem yang diberlakukan di sekolah sesuai dengan kebutuhan anak, etc. Jadi, orangtua dan sekolah sama-sama punya andil besar dalam menstimulasi kecerdasan anak.

 

Tips Memilih Sekolah

Here’s some tips yang bisa digunakan dalam memilih sekolah (dalam hal ini Kelompok Bermain atau Taman Kanak-kanak ya) as I did two years ago:

  1. Pastikan memang anak sudah siap untuk bersekolah ya! — jangan sampai sekolah karena keinginan orangtua saja 🙁
  2. Cari tahu metode pengajaran di sekolah yang sesuai dengan anak — sekarang metode pengajaran di sekolah ada bermacam-macam, yaitu: Montessori, Multiple Intelligence, sekolah berbasis agama, sekolah dengan sistem sentra, sekolah alam, sekolah internasional, dll. Menurutku akan lebih mudah memilih sekolah ketika tahu metode apa yang kita anggap sesuai dengan kebutuhan anak. For more info, you can googling each of those methods, karena kalau dijelaskan di sini pasti puanjuaaang banget 😀
  3. Cari tahu kegiatan apa saja yang akan dilakukan anak di sekolah — biasanya setiap sekolah sudah memiliki susunan kegiatan yang akan dilakukan setahun ke depan, jadi bisa dicari yang memang sesuai dengan kebutuhan anak. Misalnya: anak termasuk tipe yang aktif, jadi sekolah yang memiliki banyak kegiatan praktek lebih cocok untuk anak dengan tipe seperti ini.
  4. Cari tahu hari libur dan durasi sekolah — terkesan sepele tapi ini penting lho! Ingat, anak masih berusia 3 tahun, ia tidak bisa ‘diforsir’ seperti anak-anak di usia lebih tua. Biasanya, untuk KB/TK ada 1-2 hari libur dalam seminggu (jadi tidak full masuk dari hari Senin sampai Jumat). Untuk durasinya sendiri pun perlu diperhatikan; apakah akan membuat anak mudah lelah, apakah akan mengganggu waktu istirahatnya, dsb. Belum tentu sekolah yang memiliki durasi singkat dalam sekali pertemuannya memiliki kualitas yang kurang oke kok.
  5. Cari tahu adanya pemberian PR atau tidak — nah, ini perlu dicermati sih. Kalau yang tugas diberikan adalah project seperti membuat family tree, mengurus hewan peliharaan, dsb yang melibatkan peran orangtua di dalamnya dan tidak membebani anak, aku setuju. Tapi kalau tugas yang diberikan adalah paper n pencil worksheet yang terkesan seperti menekan anak karena wajib dikerjakan, aku sama sekali nggak setuju. Bagaimanapun tugas anak adalah bermain dan sekarang belum waktunya ia untuk mengenal tekanan-tekanan tersebut.
  6. Cari tahu apakah biaya sekolah yang tertera sudah untuk kebutuhan anak selama setahun atau tidak — ini teremak-emak banget! Hahahaha! Hal ini terlepas dari uang SPP bulanan ya. Dari pada tiba-tiba ada bayar-bayar mendadak, ‘kan jackpot! 😛
  7. Pertimbangkan jarak rumah dan sekolah — menurutku karena masih KB/TK, jadi nggak perlulah ya cari sekolah yang jauh-jauh. Toh juga kalau terlalu lama di jalan, kasihan anaknya juga.
  8. Buru-buru cari sekolah! — kalau mau menyekolahkan anak di tahun ini, sebaiknya mulai cari dari sekarang. Setahuku banyak orangtua yang mulai cari sekolah dari akhir tahun padahal anaknya baru akan masuk di tahun berikutnya. Persaingan agak ketat, saudara-saudara 😀

 

Life before School

Dulu, sewaktu Une belum sekolah, aku sama sekali nggak kepingin atau merasa tersaingi melihat anak lain yang seumuran Une sudah disekolahkan (or even dikursuskan) sama orangtuanya. Aku biasaaa aja karena aku pikir ya belum saatnya untuk Une. Buatku, untuk anak di bawah 3 tahun sebenarnya sekolah masih belum merupakan suatu kebutuhan. Feel free to disagree ya, karena ini hanya menurut pemikiranku saja. Pertimbangannya yaitu ketika kegiatan yang dilakukan di rumah masih positif, bermanfaat untuk anak, dan dapat menstimulasi perkembangan anak, maka tidak masalah anak tersebut belum disekolahkan. Khawatir anak akan susah bersosialisasi karena tidak ada teman di rumah? Bermain di luar rumah bersama tetangga juga merupakan cara anak untuk bersosialisasi, lho. Bisa juga dengan mengajak anak bermain ke playground atau tempat main anak-anak di mana ia akan bertemu dengan anak-anak lain juga merupakan alternatif agar anak bersosialisasi kok 🙂

Kalau untuk Une sendiri, dulu kalau pagi aku suka bikin kegiatan yang namanya: 6 Menit bersama Dejun. What is it? Jadi, 6 Menit bersama Dejun (dulu Une nama panggilannya masih Dejun) itu kegiatan belajar yang aku buat untuk Une. Aku lupa pastinya kapan, tapi seingatku kegiatan ini aku lakukan sejak Une berusia sekitar 18-24 bulan. Kegiatannya pun mudah, murah, dan bisa banget dilakukan di rumah. Seperti: membuat roti isi sendiri, membuat es jeruk sendiri (tapi diajarkan prosesnya mulai dari membekukan air sampai tuang sirup jeruknya), berbelanja buah-buahan di supermarket, color sorting pakai cokelat, mengenal rasa sayuran, main sepeda, dan masih banyak lagi.

 

IMG_8652
logo 6 Menit bersama Dejun yang dulu aku buat

 

IMG_8653
belajar di rumah saat Une berusia 2 tahun

 

IMG_8655
kegiatan 6 Menit bersama Dejun. seru ‘kan?

 

Kalau ditanya, apa manfaatnya dari melakukan kegiatan 6 Menit bersama Dejun ini? Wah banyak sekali! Rasa ingin tahu Une jadi besar banget, ketertarikan Une sama hal-hal baru juga besar, hingga terstimulasinya motorik kasar dan motorik halus Une. Seru dan bermanfaat banget kegiatan ini 😀

Di usia Une ke 2 tahun, sembari kasih kegiatan 6 Menit bersama Dejun itu, aku juga mulai mencari KB/TK untuk Une. Hampir setiap malam browsing sampai kurang tidur demi cari sekolah terbaik *lebay, tapi ini nyata* 😀 Rencananya aku akan menyekolahkan Une ketika usianya tepat 3 tahun di tahun 2015. Seingatku, sekitar bulan Januari 2015, aku mulai survey ke sekolah-sekolah yang sudah menjadi kandidatku. Survey ini penting banget untuk meminimalisir kemungkinan adanya ketidakcocokkan antara anak dan sekolah, yang kalau tidak dilakukan biasanya akan berujung dengan berpindah-pindah sekolah — kasihan karena anaknya perlu beradaptasi lagi di sekolah baru. Jadilah, satu demi satu sekolah aku datangi berdua dengan Une (karena waktu itu weekdays dan suami nggak bisa cuti). Aku dan suami sepakat ingin memasukkan Une ke sekolah dengan basis agama Islam, karena kami yakin agama adalah pondasi yang akan ia butuhkan kelak. Walaupun pada prakteknya, sekolah-sekolah yang menjadi kandidat kami tidak semuanya sekolah agama. We’ll search for the best. Oh ya, setiap selesai survey, aku langsung bertanya pada Une tentang kesannya akan sekolah tersebut. Bagaimanapun ‘kan yang akan bersekolah tetap Une, jadi Une perlu merasa senang dan nyaman dengan sekolahnya.

Sama seperti memilih pasangan *EAAA*, memilih sekolah juga susah-susah gampang. Ada yang oke banget kurikulum dan fasilitas sekolahnya, tapi jauh banget dari rumah. Ada yang metodenya Montessori dan tempatnya dekat rumah, tapi biayanya nggak masuk di akal. Ada yang sekolahnya sudah berdiri lama dan teruji lulusannya, tapi fasilitas sekolahnya nggak banget dan super berdebu plus kotor dimana-mana. Ada yang berbasis agama dengan bahasa pengantar Bahasa Inggris, tapi durasi sekolahnya lama banget. Dan masih banyak plus-minus lainnya yang perlu aku dan suami pertimbangkan.

Sampai akhirnya, di suatu pagi yang cerah, aku dan Une datang ke sebuah sekolah dengan basis agama Islam — sebut saja Sekolah XXX (sengaja aku sensor karena sekolah inilah yang kelak menjadi sekolah Une). Halaman sekolahnya luas dengan banyak mainan, rindang pula, ini sudah satu poin yang bikin Une jatuh cinta. Ketika masuk, kami langsung disambut oleh Ibu Guru (later I knew she is Cikgu Besar alias Kepala Sekolah). Aku cerita kalau memang lagi cari KB untuk Une dan belum dapat karena belum menemukan sekolah yang pas. Beliau akhirnya mengajak aku dan Une berkeliling ke ruangan-ruangan yang ada di sekolah sambil cerita tentang metode pengajaran dan kegiatan sekolah. Aku juga bertanya banyak sih ke beliau, karena kebetulan beliau orangnya asyik dan supel banget.

Then I know, sekolah ini berbasis agama Islam dan menggunakan sistem sentra (alias moving class). Ada 6 sentra di sekolah ini, yaitu: sentra peran, sentra ibadah, sentra persiapan, sentra balok, sentra bahan alam, dan sentra seni. Setiap hari akan diputar sentranya, jadi akan kebagian semua sentra. Ini sangat menarik sih menurutku, sangat oke untuk meminimalisir rasa bosan pada anak. Kegiatan sekolahnya juga bervariasi; mulai dari fieldtrip, berenang, berkebun, pentas seni, dan masih banyak lagi. Aku sangat suka kegiatan sekolah di hari Jumat. Setiap Jumat kegiatannya outdoor di halaman sekolah, biasanya diisi dengan kegiatan dongeng, senam, jalan santai, tapi yang jadi favoritku adalah kegiatan nyanyi di atas panggung! Literally seperti konser sendiri plus ada musiknya dan nyanyinya pakai mic. Betul-betul meningkatkan kepercayaan diri anak tapi tanpa anak sadari! Two thumbs up!

Long story short, setelah melewati babak seleksi (seriusan ada seleksinya mau masuk sekolah ini, tapi gampang kok karena dilihat dari segi kesiapan anaknya dan alhamdulillah Une sudah siap 😀 ), alhamdulillah Une diterima dan resmi jadi anak sekolah!

 

Life after School

Nah sekarang, alhamdulillah Une sudah 1,5 tahun sekolah di sini. Dari murid KB yang masih malu-malu saat masuk, sampai sekarang jadi murid TK A yang pemberani. Jadi ingat pertama kali Une sekolah…

Tanganku dipegangnya erat sekali. Kemana-mana maunya sambil gandeng tanganku, seperti pengantin baru 😛 Aku sempat 2 hari ikut masuk kelas, karena Une minta ditemani. Hari ketiga dan seterusnya hingga sekarang, ia pun bisa sendiri. Aku selalu mengatakan pada Une bahwa Ibu Guru adalah ibu Une di sekolah, jadi kalau ada apa-apa bilang ke Ibu Guru. Aku selalu mengajak Une untuk berbaur dengan teman-temannya, awalnya memang malu-malu, tapi sekarang bahkan ia sudah punya geng sendiri di sekolah. Hehehe.

Banyak sekali perubahan positif yang aku rasakan paska bersekolah ini. Une jadi jauh lebih percaya diri, sudah banyak hafal doa dan surat pendek, sudah banyak hafal lagu anak-anak, bisa menyelesaikan masalah dengan temannya (which is ini memang softskills yang perlu dilatih), pemberani, bisa mengutarakan pendapatnya dengan baik, bisa bercerita dengan runut, dan masih banyak lagi.

Kalau menurut wali kelas Une saat pembagian raport Desember 2016, Une anaknya mudah diatur dan tidak pernah merepotkan. He knows when to play, when to study. Empati kepada teman-temannya juga bagus, tidak pernah berantem dengan anak lain. Yes, he is my son. He becomes what his teachers said not because I am his mother. Not only because of me, or his father. Tapi karena ia mendapatkan banyak pelajaran baik pula dari sekolahnya. Di kelilingi oleh guru-guru hebat yang mampu membentuk Une menjadi seperti sekarang. So that’s why I said, both of parents and teachers are having the same responsibility to stimulate children. 

 

IMG_8654
pengalaman Une selama bersekolah: 1) juara 3 lomba membaca doa untuk orangtua, 2) kunjungan ke pemadam kebakaran, 3) kunjungan ke supermarket, 4) melukis bersama Ayah, 5) pentas seni menari Sang Kodok, 6) kunjungan ke gerai fastfood, 7) panen kangkung, 8) parade profesi Une jadi jaksa, dan 9) fieldtrip ke Kuntum Nursery

 

 


Yup, inilah cerita serba-serbi mencari, memilih, dan menentukan sekolah untuk Une. Inilah pandanganku dari segi pendidikan untuk Une. As you read above, kesiapan anak adalah yang terpenting — at least for me it is an important thing. Untuk yang mau sharpengalaman yang sama atau bertanya, boleh banget leave a reply ya. Oh ya, jangan lupa subscribe web ini ya, caranya ada di halaman home. I hope you enjoy and this story inspires you all.

 

 

Always Love,

Aninda — The-A-Family

10,259 total views, 3 views today

The-A-Family

A family that starts with an A.

10,260 total views, 4 views today

Other posts

  • Liat foto2 yang “6 menit bersama dejun” aku langsung kangen unee pas masih kecill! Hehehe
    Gemess banget sama unee! Dulu follow une dari sebelum umur 2 tahun,sekarang liat une rasanya udah gede banget sih😥
    Tulisan bu ninda inspiring banget! Jadi pgn cepet2 nikah dan punya bayi! Hahaha❤
    Love u bu ninda&unee!!!!💙

    • Halo Dinda! Salam kenal dari kami 😀 Hihihi cepet banget ya waktu, Une nggak terasa udah mau 5 tahun aja sekarang huhuh 🙁

  • Bunda une, mau dong dikasi saran, nih aku skrg mau masukin anakku sekolah tahun ini, nah udh survei sana sini, kendalanya adalah di jarak sekolah..
    Ada sekolah yg deket,bagus,berbasis islam tp kok kurang sreg krn sklhnya gabung sama anak SD jd kalo TK mau main kdg2 anak sd suka main di lapangan anak TK..
    Nah sklh yg kedua bagus,dan berbasis islam juga,dan sd dgn tk terpisah jam istirahatnya, jd tk gak terganggu sama anak sd.. Tp jarak sekolah ini jauh bgt, perlu sekitar 45 menitan kesana.. Dan untuk uang masuk sklh ini lbh murah, tp blm termasuk biaya biaya field trip dll,sdgkan skolah pertama td yg dekaf rmh biaya masuknya mahal, tp udah termasuk semua biaya, Menurut bunda une gimana?

    • Hai Mama Diego! Salam kenal ya sebelumnya. Mama Diego sudah coba cari alternatif sekolah lainnya belum? Kalau menurutku coba dicari alternatif lainnya lagi aja Mam, karena sepertinya agak sulit untuk menentukan di antara 2 pilihan tsb 🙂

  • Selalu suka baca blog bu ninda yg sangat seru dan memotivasi serta menginspirasi, abang une anak pintar seperti ibunya. Sehat terus untuk bu ninda+dedenya abang une, ayah dodo, dan abang une. Love youuu so much ❤ ditunggu cerita selanjutnya 😘

  • salute sm ibu ninda.. disaat yg lain lg pada gencar2nya main youtube tp ibu ninda nulis di blog dg cara yg ttp menarikkk. (bingung jelasinnya semoga paham sm maksud aku) heheeee. seruuu blognyaa. salam ya buat une dan dedek di dalem perut ya ibu nindaaa🌸🌼💐 semoga lancar lahirannya spt abang une😊
    and the last but not least… keep inspiring Ibu Ninda!🌻😇

    • Hihihi terimakasiiiih Ratih! Bcs I know I love writing than vlog-ing jadinya pilih nulis aja deh 😀 Ah iya, nanti aku salamkan ke Unenya yaa.. Terimakasih sekali lagi ya! And keep reading us 😉

  • Assalamualaikum,
    Ibu, aku selalu dapet pelajaran setiap baca caption di IG Ibu/ Une dan sekarang disini.
    Mudah2an setelah menikah nanti aku bisa mendidik anakku seperti ibu.
    Salam buat Ibu sekeluarga dari aku di Langsa, Aceh

    • Waalaikumsalam Nurul, thank you for reading and just keep reading ya! Aamiin ya Allah, akupun masih harus banyak belajar lagi 🙂 Salam dari kami juga untuk Nurul sekeluarga di Langsa ya 😀

  • Great tips ibu une!
    Aku juga berpendapat kalau anak usia 2 tahun (bahkan 2 tahun kurang) itu masih terlalu kecil untuk sekolah. Well, based on my experience, karena aku ngajar juga di playgroup usia 2-3 tahun dan 3-4 tahun, anak-anak usia 2/ 2-kurang jadi kelihatan kurang siap dibanding teman-temannya. Kurang siapnya itu bisa secara emosional (masih lengket sama mama berminggu-minggu), motorik halus (mengerjakan aktivitas mengikuti titik2, mewarnai, mengelem masih harus didampingi), juga motorik kasarnya.
    Tetapi pada kasus-kasus tertentu memang ada orang tua yang menyekolahkan anaknya agar mendapat teman di sekolah. Alasannya kurang lebih sih begini “kalau di rumah itu tidak punya teman”, “tidak ada tetangga yang seumuran”, atau “jarang ada teman yang punya anak umur segini (1-2 tahun). So, masuklah mereka ke playgroup tempat saya mengajar.
    Kembali lagi, karena kurang siapnya anak atau kurang matang perkembangannya, anak-anak ini masih “semaunya sendiri” di kelas.
    Kalau une sendiri sebelum masuk sekolah, sosialisasi dengan anak-anak lain bagaimana? Dan cara ibu ninda melatih social skill une bagaimana?

    • Hai Dina, salam kenal ya sebelumnya. Ah senang ada yg berpendapat sama denganku! 😀 Dulu sebelum sekolah, Une aku biasakan bermain di luar rumah atau main di playground sih. Sosialisasinya cukup, menurutku. Une tipe yang butuh adaptasi kalau ketemu orang baru, tapi kalau sdh lama kenal dan nyaman, dia nggak malu-malu (ini masih dialami sampai sekarang sih, kayaknya memang karakter Une). Une juga bukan tipe yang suka ganggu anak lain gitu, jadi so far anteng dan nggak ada masalah. Kalau untuk ngajarin social skill ke Une, aku lebih banyak ngajarinnya kayak ke empati, sopan santun, tidak boleh mengganggu teman, dll. Dan dia paham banget itu, kayaknya ‘masuk’ banget ke dia. Kalau untuk ke ranah memulai pertemanan, aku ajak dan biasakan dia untuk bermain dengan anak-anak seumurnya tapi aku nggak memaksakan dia buat, “temenan dong Une sama si ini-ini-ini.” Aku pingin dia merasa nyaman dengan pilihannya sendiri 🙂

  • Assalamualaikum kenalin aku henny. emang sih skrg henny blm nikah tp suka ngepoin ig ataupun blog bu ninda maupun une. Karena lucu dan inspiratif bgt.Mau nanya dong bu ninda gimana caranya nanti mengajarkan kepada anak ttp lembut dan penuh kasih sayang tanpa dgn nada tinggi atau teriak? Kan biasanya sering terjadi kalau ibu ibu nih kalau sudah capek habis ngurus rumah ataupun biasa kan wanita mudah moody, namun anak sedikit nakal ya biasa lah namanya anak anak tp disaat kita lg moody trs ga sengaja jd bentak anak. Karna katanya sih kalau sampai kita teriak aja terus smpe nancep nih diotak sebelah kanannya kan bahaya anak cenderung akan menjd berani atau bahkan kalau ngomong dgn orang yg lebih tua dgn nada lebih tinggi. Mohon bu ninda sarannya? Krna ingin sprt bu ninda yg mendidik une sampai sukses sampe une bikin gemesssshhh org banyak. Nuhun bu nindaa. Salam buat une sm cadebay😍💕

    • Hai Henny, waalaikumsalam! Iyaaa, memang susah tuh. Aku juga kadang kalau lagi kecapekan suka kelepasan ngomong dengan nada yang tinggi. Tapi biasanya kalau gitu aku suka langsung ingat sih, dan langsung buru-buru merubah nada suaraku. Biasanya aku coba selalu ingatkan ke diriku sebelum mau ngobrol sama Une, kalau aku pakai nada tinggi atau marah-marah pasti dia akan meniru kelak, dll. Intinya stay alert sebelum ngomong sama anak sih.. Hihihi. Salam balik ya dari Une dan cadebayyy! 😀

  • Hai bu ninda
    Aku mau nanya nih, selama 3 tahun sebelum une masuk sekolah apakah sudah mulai diajarkan ttg aktifitas seperti di sekolah? Misalnya menghubungkan titik2, menggunting, atau aktifitas lainnya.
    Soalnya keponakanku rencana mau disekolahkan umur 3 tahunan juga, tp sampai sekarang belom kelihatan tertarik sama sekolah, karena dia suka cepet bosen kalo duduk trus diajak mewarnai/bercerita.
    Sebaiknya gimana ya bu ninda
    Terimakasih

    • Halo Cynthia, iya Une aku ajarkan. Biasanya di 6 Menit bersama Dejun itu ada aktivitas seperti itu juga, tapi jarang sekali sih. Dulu juga Une kalau mewarnai/diajak dengar dongeng suka nggak fokus dan cepat bosennya, tapi semakin dia besar alhamdulillah bisa ngikutin juga. Baiknya sih kalau sudah mau umur 3 tahun disekolahkan saja sih menurutku, agar dia bisa beradaptasi dengan aktivitas sekolah dengan sendirinya 🙂

  • Assalamualaikum Ibu Ninda, aku suka banget setiap baca #bunindaparentingsharing di IG-nya Une, akhirnya Bu Ninda buat blog jugaaa, btw gaya penulisannya asyik bgt dan enak dibaca, malah kadang ketawa sendiri.

    Bu Ninda, bulan depan anakku (Abi) genap 2 tahun, sejalan sama Bu Ninda, aku dan suami belum mau menyekolahkan Abi di usianya saat ini selain belum terlalu paham instruksi, juga kadang masih sangat moody. Tapi bu, Abi di usianya sekarang kok belum mau ya main yang terstuktur seperti berbaris membentuk kereta, mengikuti gerakan tari, dan kegiatan serupa lainnya.

    Padahal kami cukup sering mengajak bermain di Playground atau berkumpul dengan tetangga maupun saudara sebayanya. Tapi, saat kami bawa ke event anak atau playdate dengan salah satu komunitas, Abi seakan tidak mau ikutan main ya? Menurut Bu Ninda gimana? Apa aku dan suami coba masukkan ke club saja? Seperti renang atau gymnastic. Makasih Bun Ninda, maaf kepanjangan curhatnya

    – @diaryofalfarabi –

    • Hai Syifa! Terimakasih ya sudah baca blogku, boleh banget di-subscribe juga ya 😀 Sejujurnya, dulu Une juga begitu, tidak langsung ‘on’ dan mudah kalau diajak bermain apalagi jika digabung dengan anak lain. Sebenarnya hal ini erat kaitannya dengan tipe temperamen anak, nah Une tipe anak yang slow-to-warm-up yaitu baru mau main kalau memang dia sudah beradaptasi dan kenal dengan lingkungannya, jadi memang nggak masalah. Mungkin Abi juga setipe dengan Une 🙂 Nggak apa-apa sih menurutku, toh Abi masih punya waktu setahun lagi untuk menyiapkan dirinya dalam beradaptasi. Kalau mau coba dimasukkan ke club juga nggak apa-apa, tapi ikuti keinginan Abi aja ya, jadi maksudnya jangan terlalu dipaksa kalau dia memang masih moody. Cium ya buat Abi! 😀

  • halo bu ninda, salam kenal aku Middy 🙂 aku salah satu pembaca setia tulisan bu ninda. karena bekerja sebagai terapis anak sambil ambil kuliah S1 psikologi, aku jadi suka banget baca2 dan cari tau ttg dunia anak, terutama ttg parenting tips dari bu ninda. biar bs di share juga ke ortu-ortu pasienku 🙂 bahasanya mudah dimengerti dan yg pasti bermanfaat banget. walaupun blm menikah (apalagi punya anak sendiri hehe), tp aku yakin ini akan jadi bekalku kelak ketika punya anak (amin). mungkin terlalu dini, tp aku pikir aku akan punya waktu yg sedikit lebih banyak untuk belajar agar nantiny lebih optimal membimbing anakku hehe. keep sharing yah bu ninda. keep inspiring 🙂 salam untuk abang une dan debay-nya ❤

    • Hai Middy! Senangnya baca tulisanmuuu.. Jadi makin semangat nulis lagi nih akunya, hihihi. Semoga apa-apa yang aku share selalu bisa jadi manfaat bagimu ya, Mid! Thank you for keep reading my blog! Muah! 😀

  • COMMENTS (22)

    1. Middy Stephanie 29th March 2017 at 11:06 pm -

      halo bu ninda, salam kenal aku Middy 🙂 aku salah satu pembaca setia tulisan bu ninda. karena bekerja sebagai terapis anak sambil ambil kuliah S1 psikologi, aku jadi suka banget baca2 dan cari tau ttg dunia anak, terutama ttg parenting tips dari bu ninda. biar bs di share juga ke ortu-ortu pasienku 🙂 bahasanya mudah dimengerti dan yg pasti bermanfaat banget. walaupun blm menikah (apalagi punya anak sendiri hehe), tp aku yakin ini akan jadi bekalku kelak ketika punya anak (amin). mungkin terlalu dini, tp aku pikir aku akan punya waktu yg sedikit lebih banyak untuk belajar agar nantiny lebih optimal membimbing anakku hehe. keep sharing yah bu ninda. keep inspiring 🙂 salam untuk abang une dan debay-nya ❤

      Reply
      • The-A-Family 05th May 2017 at 11:51 am

        Hai Middy! Senangnya baca tulisanmuuu.. Jadi makin semangat nulis lagi nih akunya, hihihi. Semoga apa-apa yang aku share selalu bisa jadi manfaat bagimu ya, Mid! Thank you for keep reading my blog! Muah! 😀

        Reply
    2. Syifa Rahmi 26th February 2017 at 11:24 pm -

      Assalamualaikum Ibu Ninda, aku suka banget setiap baca #bunindaparentingsharing di IG-nya Une, akhirnya Bu Ninda buat blog jugaaa, btw gaya penulisannya asyik bgt dan enak dibaca, malah kadang ketawa sendiri.

      Bu Ninda, bulan depan anakku (Abi) genap 2 tahun, sejalan sama Bu Ninda, aku dan suami belum mau menyekolahkan Abi di usianya saat ini selain belum terlalu paham instruksi, juga kadang masih sangat moody. Tapi bu, Abi di usianya sekarang kok belum mau ya main yang terstuktur seperti berbaris membentuk kereta, mengikuti gerakan tari, dan kegiatan serupa lainnya.

      Padahal kami cukup sering mengajak bermain di Playground atau berkumpul dengan tetangga maupun saudara sebayanya. Tapi, saat kami bawa ke event anak atau playdate dengan salah satu komunitas, Abi seakan tidak mau ikutan main ya? Menurut Bu Ninda gimana? Apa aku dan suami coba masukkan ke club saja? Seperti renang atau gymnastic. Makasih Bun Ninda, maaf kepanjangan curhatnya

      – @diaryofalfarabi –

      Reply
      • The-A-Family 02nd March 2017 at 9:28 pm

        Hai Syifa! Terimakasih ya sudah baca blogku, boleh banget di-subscribe juga ya 😀 Sejujurnya, dulu Une juga begitu, tidak langsung ‘on’ dan mudah kalau diajak bermain apalagi jika digabung dengan anak lain. Sebenarnya hal ini erat kaitannya dengan tipe temperamen anak, nah Une tipe anak yang slow-to-warm-up yaitu baru mau main kalau memang dia sudah beradaptasi dan kenal dengan lingkungannya, jadi memang nggak masalah. Mungkin Abi juga setipe dengan Une 🙂 Nggak apa-apa sih menurutku, toh Abi masih punya waktu setahun lagi untuk menyiapkan dirinya dalam beradaptasi. Kalau mau coba dimasukkan ke club juga nggak apa-apa, tapi ikuti keinginan Abi aja ya, jadi maksudnya jangan terlalu dipaksa kalau dia memang masih moody. Cium ya buat Abi! 😀

        Reply
    3. Cyntia9410 21st February 2017 at 1:11 pm -

      Hai bu ninda
      Aku mau nanya nih, selama 3 tahun sebelum une masuk sekolah apakah sudah mulai diajarkan ttg aktifitas seperti di sekolah? Misalnya menghubungkan titik2, menggunting, atau aktifitas lainnya.
      Soalnya keponakanku rencana mau disekolahkan umur 3 tahunan juga, tp sampai sekarang belom kelihatan tertarik sama sekolah, karena dia suka cepet bosen kalo duduk trus diajak mewarnai/bercerita.
      Sebaiknya gimana ya bu ninda
      Terimakasih

      Reply
      • The-A-Family 02nd March 2017 at 9:09 pm

        Halo Cynthia, iya Une aku ajarkan. Biasanya di 6 Menit bersama Dejun itu ada aktivitas seperti itu juga, tapi jarang sekali sih. Dulu juga Une kalau mewarnai/diajak dengar dongeng suka nggak fokus dan cepat bosennya, tapi semakin dia besar alhamdulillah bisa ngikutin juga. Baiknya sih kalau sudah mau umur 3 tahun disekolahkan saja sih menurutku, agar dia bisa beradaptasi dengan aktivitas sekolah dengan sendirinya 🙂

        Reply
    4. Henny Rahma 21st February 2017 at 12:46 pm -

      Assalamualaikum kenalin aku henny. emang sih skrg henny blm nikah tp suka ngepoin ig ataupun blog bu ninda maupun une. Karena lucu dan inspiratif bgt.Mau nanya dong bu ninda gimana caranya nanti mengajarkan kepada anak ttp lembut dan penuh kasih sayang tanpa dgn nada tinggi atau teriak? Kan biasanya sering terjadi kalau ibu ibu nih kalau sudah capek habis ngurus rumah ataupun biasa kan wanita mudah moody, namun anak sedikit nakal ya biasa lah namanya anak anak tp disaat kita lg moody trs ga sengaja jd bentak anak. Karna katanya sih kalau sampai kita teriak aja terus smpe nancep nih diotak sebelah kanannya kan bahaya anak cenderung akan menjd berani atau bahkan kalau ngomong dgn orang yg lebih tua dgn nada lebih tinggi. Mohon bu ninda sarannya? Krna ingin sprt bu ninda yg mendidik une sampai sukses sampe une bikin gemesssshhh org banyak. Nuhun bu nindaa. Salam buat une sm cadebay😍💕

      Reply
      • The-A-Family 02nd March 2017 at 9:07 pm

        Hai Henny, waalaikumsalam! Iyaaa, memang susah tuh. Aku juga kadang kalau lagi kecapekan suka kelepasan ngomong dengan nada yang tinggi. Tapi biasanya kalau gitu aku suka langsung ingat sih, dan langsung buru-buru merubah nada suaraku. Biasanya aku coba selalu ingatkan ke diriku sebelum mau ngobrol sama Une, kalau aku pakai nada tinggi atau marah-marah pasti dia akan meniru kelak, dll. Intinya stay alert sebelum ngomong sama anak sih.. Hihihi. Salam balik ya dari Une dan cadebayyy! 😀

        Reply
    5. Dinarainisha 19th February 2017 at 10:45 am -

      Great tips ibu une!
      Aku juga berpendapat kalau anak usia 2 tahun (bahkan 2 tahun kurang) itu masih terlalu kecil untuk sekolah. Well, based on my experience, karena aku ngajar juga di playgroup usia 2-3 tahun dan 3-4 tahun, anak-anak usia 2/ 2-kurang jadi kelihatan kurang siap dibanding teman-temannya. Kurang siapnya itu bisa secara emosional (masih lengket sama mama berminggu-minggu), motorik halus (mengerjakan aktivitas mengikuti titik2, mewarnai, mengelem masih harus didampingi), juga motorik kasarnya.
      Tetapi pada kasus-kasus tertentu memang ada orang tua yang menyekolahkan anaknya agar mendapat teman di sekolah. Alasannya kurang lebih sih begini “kalau di rumah itu tidak punya teman”, “tidak ada tetangga yang seumuran”, atau “jarang ada teman yang punya anak umur segini (1-2 tahun). So, masuklah mereka ke playgroup tempat saya mengajar.
      Kembali lagi, karena kurang siapnya anak atau kurang matang perkembangannya, anak-anak ini masih “semaunya sendiri” di kelas.
      Kalau une sendiri sebelum masuk sekolah, sosialisasi dengan anak-anak lain bagaimana? Dan cara ibu ninda melatih social skill une bagaimana?

      Reply
      • The-A-Family 19th February 2017 at 2:48 pm

        Hai Dina, salam kenal ya sebelumnya. Ah senang ada yg berpendapat sama denganku! 😀 Dulu sebelum sekolah, Une aku biasakan bermain di luar rumah atau main di playground sih. Sosialisasinya cukup, menurutku. Une tipe yang butuh adaptasi kalau ketemu orang baru, tapi kalau sdh lama kenal dan nyaman, dia nggak malu-malu (ini masih dialami sampai sekarang sih, kayaknya memang karakter Une). Une juga bukan tipe yang suka ganggu anak lain gitu, jadi so far anteng dan nggak ada masalah. Kalau untuk ngajarin social skill ke Une, aku lebih banyak ngajarinnya kayak ke empati, sopan santun, tidak boleh mengganggu teman, dll. Dan dia paham banget itu, kayaknya ‘masuk’ banget ke dia. Kalau untuk ke ranah memulai pertemanan, aku ajak dan biasakan dia untuk bermain dengan anak-anak seumurnya tapi aku nggak memaksakan dia buat, “temenan dong Une sama si ini-ini-ini.” Aku pingin dia merasa nyaman dengan pilihannya sendiri 🙂

        Reply
    6. Nurul Aini 18th February 2017 at 5:28 pm -

      Assalamualaikum,
      Ibu, aku selalu dapet pelajaran setiap baca caption di IG Ibu/ Une dan sekarang disini.
      Mudah2an setelah menikah nanti aku bisa mendidik anakku seperti ibu.
      Salam buat Ibu sekeluarga dari aku di Langsa, Aceh

      Reply
      • The-A-Family 19th February 2017 at 2:29 pm

        Waalaikumsalam Nurul, thank you for reading and just keep reading ya! Aamiin ya Allah, akupun masih harus banyak belajar lagi 🙂 Salam dari kami juga untuk Nurul sekeluarga di Langsa ya 😀

        Reply
    7. ratih dwi 18th February 2017 at 8:06 am -

      salute sm ibu ninda.. disaat yg lain lg pada gencar2nya main youtube tp ibu ninda nulis di blog dg cara yg ttp menarikkk. (bingung jelasinnya semoga paham sm maksud aku) heheeee. seruuu blognyaa. salam ya buat une dan dedek di dalem perut ya ibu nindaaa🌸🌼💐 semoga lancar lahirannya spt abang une😊
      and the last but not least… keep inspiring Ibu Ninda!🌻😇

      Reply
      • The-A-Family 19th February 2017 at 2:27 pm

        Hihihi terimakasiiiih Ratih! Bcs I know I love writing than vlog-ing jadinya pilih nulis aja deh 😀 Ah iya, nanti aku salamkan ke Unenya yaa.. Terimakasih sekali lagi ya! And keep reading us 😉

        Reply
    8. Re 17th February 2017 at 11:04 pm -

      Tulisannya Ibu Ninda inspiratif banget! 😍❤ Btw, Une bikin gemes 😘😘

      Reply
      • The-A-Family 19th February 2017 at 2:22 pm

        Hai Re, terimakasih ya! Keep reading 😀

        Reply
    9. Rizkievita 16th February 2017 at 11:57 pm -

      Selalu suka baca blog bu ninda yg sangat seru dan memotivasi serta menginspirasi, abang une anak pintar seperti ibunya. Sehat terus untuk bu ninda+dedenya abang une, ayah dodo, dan abang une. Love youuu so much ❤ ditunggu cerita selanjutnya 😘

      Reply
      • The-A-Family 19th February 2017 at 2:17 pm

        Terimakasih Rizki sayang! Much love from us! 😀

        Reply
    10. Mama diego 16th February 2017 at 9:39 pm -

      Bunda une, mau dong dikasi saran, nih aku skrg mau masukin anakku sekolah tahun ini, nah udh survei sana sini, kendalanya adalah di jarak sekolah..
      Ada sekolah yg deket,bagus,berbasis islam tp kok kurang sreg krn sklhnya gabung sama anak SD jd kalo TK mau main kdg2 anak sd suka main di lapangan anak TK..
      Nah sklh yg kedua bagus,dan berbasis islam juga,dan sd dgn tk terpisah jam istirahatnya, jd tk gak terganggu sama anak sd.. Tp jarak sekolah ini jauh bgt, perlu sekitar 45 menitan kesana.. Dan untuk uang masuk sklh ini lbh murah, tp blm termasuk biaya biaya field trip dll,sdgkan skolah pertama td yg dekaf rmh biaya masuknya mahal, tp udah termasuk semua biaya, Menurut bunda une gimana?

      Reply
      • The-A-Family 19th February 2017 at 2:17 pm

        Hai Mama Diego! Salam kenal ya sebelumnya. Mama Diego sudah coba cari alternatif sekolah lainnya belum? Kalau menurutku coba dicari alternatif lainnya lagi aja Mam, karena sepertinya agak sulit untuk menentukan di antara 2 pilihan tsb 🙂

        Reply
    11. Dinda 16th February 2017 at 8:56 pm -

      Liat foto2 yang “6 menit bersama dejun” aku langsung kangen unee pas masih kecill! Hehehe
      Gemess banget sama unee! Dulu follow une dari sebelum umur 2 tahun,sekarang liat une rasanya udah gede banget sih😥
      Tulisan bu ninda inspiring banget! Jadi pgn cepet2 nikah dan punya bayi! Hahaha❤
      Love u bu ninda&unee!!!!💙

      Reply
      • The-A-Family 19th February 2017 at 2:09 pm

        Halo Dinda! Salam kenal dari kami 😀 Hihihi cepet banget ya waktu, Une nggak terasa udah mau 5 tahun aja sekarang huhuh 🙁

        Reply

    Leave a Reply